Perkembangan AI Makin Pesat di Indonesia, Pengelolaan Listrik Jadi Tantangan - Kompas
JAKARTA, KOMPAS.com - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini masif digunakan.
Mulai dari chatbot, mesin pencari, hingga berbagai aplikasi berbasis AI terus bermunculan dan digunakan oleh masyarakat maupun pelaku industri.
Namun, di balik pesatnya perkembangan tersebut, ada tantangan yang tak banyak disadari, yakni meningkatnya kebutuhan listrik untuk menopang pusat data (data center) dan infrastruktur digital yang menjadi "otak" AI.
Bagi Indonesia, tantangan itu hadir ketika pemerintah juga tengah mendorong investasi AI dan data center, sekaligus mempercepat transisi menuju Net Zero Emission (NZE) 2060 melalui peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan.
[FULL] Jampidsus Febrie Akui Rumah di Sentul yang Digeledah Polisi Miliknya
Menurut Industry Principal of Power and Utilities Aveva, Ann Moore, dua agenda besar tersebut membuat pengelolaan sistem kelistrikan menjadi jauh lebih kompleks dibanding sebelumnya.
Baca Juga :
Baca juga: Jepang Mau Pasang Panel Surya di Bulan, Bisa Transfer Listrik ke Bumi
Aveva merupakan perusahaan penyedia perangkat lunak (software) industri yang mengembangkan solusi digital untuk sektor energi, manufaktur, infrastruktur, dan industri proses.
"AI dan data center akan terus datang karena mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Tantangannya sekarang adalah bagaimana memastikan sistem kelistrikan siap mendukung pertumbuhan itu," ujar Moore dalam wawancara eksklusif dengan Kompas.com, Senin (13/7/2026).

Lihat Foto
Menurut Moore, Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk menjadi tujuan investasi AI.
Baca juga: Bos Nvidia: Chip Buatan China Tinggal Hitungan Nanodetik Saja di Belakang AS
Sebab, negara ini memiliki sumber energi terbarukan yang melimpah, mulai dari panas bumi, tenaga air, hingga tenaga surya.
Meski begitu, persoalan yang muncul bukan lagi soal ketersediaan sumber energi, melainkan bagaimana seluruh sumber tersebut dapat dikelola dengan baik dalam satu sistem yang tetap stabil.
"Ketika tenaga surya menghasilkan listrik, kita harus memanfaatkannya. Ketika produksinya turun, sumber energi lain harus langsung mengambil alih. Jadi, semua aset yang ada kini harus dioptimalkan dengan baik," kata Moore.
Baca juga: Microsoft Mau Bangun Data Center AI di Kenya, Listrik Separuh Negara Bisa Mati
Tak cukup dengan tambah pembangkit
Meningkatnya kebutuhan listrik memang identik dengan pembangunan pembangkit baru. Namun, menurut Moore, pendekatan tersebut tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan di era AI.
Pembangunan pembangkit maupun jaringan transmisi membutuhkan investasi besar dan waktu bertahun-tahun. Sementara itu, pertumbuhan AI dan pembangunan data center berlangsung jauh lebih cepat.
Karena itu, perusahaan listrik perlu memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada agar mampu beroperasi lebih fleksibel dan efisien.
Baca juga: eHealth Hadirkan RME Terjangkau untuk Praktik Mandiri, Dukung Integrasi SATUSEHAT
Moore mencontohkan pembangkit listrik kini tidak lagi hanya dituntut menghasilkan listrik sebanyak mungkin, tetapi juga harus mampu merespons perubahan pasokan dan permintaan dalam waktu singkat.
"Operasi yang fleksibel menjadi sangat penting. Ketika produksi listrik dari energi surya meningkat, sistem harus bisa menyesuaikan.
Begitu juga ketika cuaca berubah, pembangkit lain harus segera mengambil alih agar pasokan tetap terjaga," jelas Moore.
Baca juga: China Operasikan Data Center Bawah Laut Bertenaga Angin Pertama di Dunia
Menurut dia, perubahan tersebut membuat perusahaan utilitas harus mulai mengoptimalkan aset yang dimiliki, bukan hanya berfokus membangun infrastruktur baru.
AI dipakai untuk cegah gangguan

Lihat Foto
Perubahan cara mengelola pembangkit juga diikuti perubahan dalam merawat aset kelistrikan.
Baca juga: Ambisi Besar China 5 Tahun ke Depan, Ingin Jadi Raja AI Dunia
Jika sebelumnya perusahaan baru melakukan perbaikan setelah terjadi kerusakan, kini pendekatan itu mulai bergeser menjadi predictive maintenance, yakni pemeliharaan berbasis prediksi dengan memanfaatkan AI dan analisis data.
Melalui pendekatan tersebut, operator dapat memantau kondisi transformator, turbin, hingga peralatan lain secara real-time sehingga potensi gangguan dapat diketahui lebih awal.
"Di masa lalu kita bisa bekerja secara reaktif. Sekarang kita justru harus bergerak ke arah prediktif. AI membantu kita mengetahui apa yang mungkin terjadi sehingga perusahaan dapat bertindak sebelum gangguan muncul," ungkap Moore.
Menurut dia, pendekatan tersebut tidak hanya meningkatkan keandalan pasokan listrik, tetapi juga memperpanjang usia aset sekaligus menekan biaya operasional.
Baca juga: AI Ini Bisa Bikin Serial Drama Sendiri, Penonton Bisa Diajak Ngobrol
AI tak akan berguna tanpa data
Kendati AI menjadi teknologi yang paling banyak dibicarakan, Moore menilai manfaatnya tidak akan maksimal apabila perusahaan belum memiliki fondasi data yang baik.
Ia mengatakan banyak perusahaan masih menyimpan data operasi, engineering, pemeliharaan, teknologi informasi (IT), hingga keuangan dalam sistem yang terpisah.
Akibatnya, AI tidak memiliki konteks yang utuh untuk menghasilkan analisis yang akurat.
Baca juga: Kecerdasan Buatan (AI) Bikin Pasokan Air Minum Berkurang
Karena itu, menurut Moore, digitalisasi seharusnya dimulai dari penyatuan data, bukan langsung menerapkan AI.
"Langkah pertama adalah menghubungkan semua silo data (data yang terpisah). Engineering, operasi, maintenance, IT, semuanya harus berada dalam satu platform agar perusahaan bisa melihat keseluruhan operasi dan mengambil keputusan yang lebih baik," ujar Moore.
Setelah data terintegrasi, perusahaan baru dapat memanfaatkan teknologi seperti digital twin, yaitu representasi digital dari aset fisik yang memungkinkan berbagai skenario diuji melalui simulasi sebelum diterapkan di lapangan.
Baca juga: AI Diprediksi Picu PHK Makin Besar, 200 Ekonom Desak Dunia Bertindak
Menurut Moore, teknologi tersebut membantu perusahaan mengoptimalkan operasi, merencanakan investasi, hingga melatih operator tanpa mengganggu fasilitas yang sedang beroperasi.
Moore melanjutkan, AI sejatinya dapat meningkatkan operasional dan efisiensi sistem kelistrikan di Indonesia.
Namun tetap saja, keberhasilannya juga bergantung pada kolaborasi seluruh ekosistem, mulai dari pemerintah, operator listrik, perusahaan energi, regulator, hingga investor data center.
Baca juga: Makin Panas, Xi Jinping Siapkan China Hadapi AS lewat AI dan Militer
"Sudah bukan zamannya setiap bagian bekerja sendiri-sendiri. Semua harus terintegrasi, mulai dari pembangkit, transmisi, distribusi, hingga konsumen," tutur Moore.
Moore juga merasa optimis Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat pertumbuhan AI di Asia Tenggara.
Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila transformasi digital di sektor kelistrikan berjalan beriringan dengan meningkatnya kebutuhan energi.
"Kita tidak bisa lagi menjalankan bisnis seperti biasa. Industri harus berkembang, berinvestasi pada digitalisasi, dan memanfaatkan data untuk membuat keputusan yang lebih cerdas," tutup Moore.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang