Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Internet Media Sosial Spesial Universitas Gajah Mada

    Sering Scroll Media Sosial? Pakar UGM Ungkap Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Otak - Times Indonesia

    4 min read



    A-AA+

    JOGJA – Kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling media sosial kerap dikaitkan dengan menurunnya kesehatan tubuh dan fungsi otak.

    Namun, menurut Dosen Fisiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. dr. Zaenal Muttaqien Sofro, persoalan utamanya bukan aktivitas scrolling itu sendiri, melainkan kebiasaan duduk terlalu lama tanpa diselingi aktivitas fisik.

    Zaenal menjelaskan, otak merupakan organ yang membutuhkan pasokan oksigen dalam jumlah besar agar dapat berfungsi secara optimal.

    "Otak manusia membutuhkan sekitar 20 persen dari seluruh oksigen yang digunakan tubuh. Oleh karena itu, kata kunci pertama untuk menjaga kesehatan otak adalah oksigen," ujarnya, , Sabtu (18/7/2026)

    Menurutnya, manusia sebagai makhluk bipedal menghadapi tantangan gravitasi yang memengaruhi distribusi darah ke seluruh tubuh. Saat seseorang berdiri secara tiba-tiba setelah berbaring, aliran darah menuju otak dapat menurun hingga sekitar 60 persen sehingga tubuh memerlukan waktu untuk beradaptasi.

    Karena itu, ia menyarankan masyarakat tidak langsung berdiri setelah bangun tidur. Sebaiknya, awali dengan berbaring miring selama sekitar 30 detik, kemudian duduk selama 30 detik sambil berdoa, lalu berdiri secara perlahan dan melakukan gerakan jinjit sekitar delapan kali untuk membantu memompa darah kembali menuju otak.

    Duduk Terlalu Lama Berisiko Ganggu Fungsi Otak

    Selain kebiasaan bangun secara tiba-tiba, Zaenal menilai duduk dalam waktu lama juga menjadi salah satu ancaman bagi kesehatan otak. Menurutnya, posisi duduk yang berkepanjangan menyebabkan darah lebih banyak berkumpul di bagian bawah tubuh akibat gravitasi sehingga pasokan darah ke otak menjadi kurang optimal.

    "Masalah utamanya bukan semata-mata aktivitas scrolling, tetapi karena posisi duduk yang terlalu lama membuat darah lebih banyak berkumpul di bagian bawah tubuh akibat gravitasi," jelasnya.

    Untuk mengurangi risiko tersebut, Zaenal menyarankan agar masyarakat tidak duduk lebih dari satu jam tanpa jeda. Setelah itu, sebaiknya berdiri, berjalan kaki, atau melakukan peregangan ringan selama sekitar dua menit sebelum kembali beraktivitas.

    Ia juga mengungkapkan, hasil penelitiannya menggunakan orthostatic test menunjukkan kemampuan tubuh beradaptasi terhadap perubahan posisi sangat dipengaruhi oleh kondisi jantung, paru-paru, dan sistem sirkulasi darah.

    "Jika sistem dasar ini bekerja dengan baik, maka fungsi otak juga akan optimal. Sebaliknya, bila dasar ini terganggu, maka otak pun akan mengalami gangguan," katanya.

    Terapkan Prinsip Olahraga yang Tepat

    Zaenal mengatakan olahraga kini tidak hanya berfungsi menjaga kebugaran, tetapi juga menjadi bagian dari terapi kesehatan melalui konsep Exercise is Medicine. Karena itu, olahraga perlu dilakukan dengan jenis, dosis, intensitas, frekuensi, dan durasi yang sesuai agar manfaatnya optimal.

    "Selain meningkatkan kebugaran, olahraga juga merangsang produksi hormon endorfin yang membantu meningkatkan suasana hati serta mengurangi rasa nyeri," ujarnya,

    Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tidak semua jenis olahraga memiliki karakteristik yang sama. Olahraga kompetitif seperti futsal, tenis, dan bulu tangkis membutuhkan kesiapan fisik lebih karena pola geraknya berubah-ubah dengan intensitas yang tinggi.

    Zaenal juga mengimbau masyarakat untuk menghindari olahraga berat sesaat setelah makan. Menurutnya, kondisi tersebut dapat membuat sistem pencernaan bekerja lebih dominan sehingga kinerja jantung menjadi tidak optimal dan berisiko memicu gangguan jantung.

    "Apabila pusat yang mengatur sistem pencernaan terlalu dominan, misalnya karena seseorang berolahraga setelah makan, maka jantung bisa menjadi tidak optimal sehingga meningkatkan risiko gangguan jantung bahkan kematian mendadak," jelasnya.

    Ia menambahkan, aktivitas seperti berenang juga sebaiknya tidak dilakukan setelah makan karena berpotensi menimbulkan kram maupun gangguan jantung.

    Agar olahraga benar-benar memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh dan otak, Zaenal menyebut ada tiga prinsip utama yang perlu diterapkan. Pertama, olahraga harus melibatkan kelompok otot besar seperti lengan dan tungkai.

    Kedua, gerakan dilakukan secara ritmis, misalnya melalui jalan cepat, jogging, atau bersepeda. Ketiga, aktivitas dilakukan secara berkelanjutan selama sekitar 30 hingga 40 menit tanpa sering berhenti maupun mengalami perubahan intensitas yang drastis.

    "Dengan cara seperti itulah olahraga dapat meningkatkan kebugaran tubuh sekaligus membantu menjaga fungsi otak tetap optimal," paparnya. (*).

    Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
    Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
    Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

    Komentar
    Additional JS