Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Featured Gadget Smartphone Spesial

    4 dari 10 Orang Indonesia Ternyata Belum Pakai Smartphone - Kompas

    9 min read

     

    KOMPAS.com - Penggunaan smartphone di Indonesia belum setinggi yang mungkin dibayangkan.

    Laporan terbaru Mobile Economy Asia Pacific 2026 dari asosiasi operator seluler global, Global System for Mobile Communications Association (GSMA), mencatat penetrasi smartphone di Indonesia baru sekitar 59 persen dari total populasi.

    Artinya, secara kasar, masih ada sekitar 4 dari setiap 10 orang Indonesia yang belum menggunakan smartphone.

    Data tersebut dipaparkan Julian Gorman selaku Head of Asia Pacific GSMA dalam sesi pemaparan daring laporan Mobile Economy Asia Pacific 2026 yang diikuti KompasTekno, Kamis (20/8/2026).

    Mata-mata Digital China Dilaporkan Menyebar di 13 Negara, Bisa Curi Hampir Semua Data

    Penetrasi smartphone di Indonesia saat ini berada di kisaran 59 persen dari populasi. Jadi, masih ada ruang untuk meningkatkan penggunaannya,” kata Gorman.

    Angka tersebut menunjukkan bahwa smartphone belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat Indonesia, meski perangkat ini sudah menjadi pintu masuk utama menuju berbagai layanan digital. Mulai dari komunikasi, pendidikan, layanan keuangan, hingga perdagangan elektronik.

    Baca juga: Riset GSMA: Adopsi 5G di Indonesia 4 Persen, Tertinggal dari Negara Tetangga

    Perlu dicatat, angka penetrasi 59 persen tersebut menggunakan total populasi sebagai dasar perhitungan laporan GSMA.

    Dengan demikian, kelompok yang belum menggunakan smartphone juga mencakup anak-anak dan kelompok penduduk lain yang belum memiliki perangkat sendiri.

    Tangkapan layar dari pemaparan online laporan Mobile Economy Asia Pacific 2026 - GSMA yang diikuti KompasTekno, Kamis (20/8/2026). Adopsi jaringan generasi kelima alias 5G di Indonesia masih tergolong rendah, meski layanan tersebut sudah berjalan selama lima tahun terakhir. Setidaknya begitu menurut laporan Mobile Economy Asia Pacific 2026 yang dipublikasi GSMA pada awal Agustus ini.

    Lihat Foto

    Jaringan luas, tetapi belum digunakan

    Ilustrasi internet Indonesia.

    Lihat Foto

    Rendahnya penggunaan smartphone juga berkaitan dengan kesenjangan pemanfaatan internet seluler atau usage gap yang masih cukup besar.

    GSMA mencatat jaringan internet seluler sebenarnya telah menjangkau sekitar 98 persen populasi Indonesia.

    Dengan kata lain, hanya sekitar 2 persen penduduk yang masih tinggal di wilayah tanpa jangkauan internet seluler.

    Meski begitu, masih ada usage gap sebesar 21 persen di kalangan penduduk dewasa. Istilah usage gap ini merujuk pada masyarakat yang sudah tinggal di wilayah yang terjangkau jaringan internet seluler, tetapi belum menggunakannya.

    Secara umum, data GSMA juga menunjukkan bahwa sekitar 77 persen penduduk dewasa Indonesia telah menggunakan internet.

    Temuan ini memperlihatkan bahwa tantangan konektivitas Indonesia bukan lagi sebatas membangun jaringan.

    Persoalan berikutnya adalah memastikan masyarakat memiliki perangkat dan kemampuan untuk memanfaatkan jaringan yang sudah tersedia.

    Baca juga: 20 HP Terlaris Sepanjang Sejarah, Nomor 1 Bukan Smartphone

    Harga smartphone masih menjadi kendala

    Ilustrasi ponsel 5G Vivo

    Lihat Foto

    Menurut GSMA, keterjangkauan harga perangkat atau device affordability masih menjadi salah satu penghambat adopsi internet seluler di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

    Harga smartphone, khususnya model yang mendukung teknologi terbaru seperti 5G, masih relatif tinggi bagi sebagian masyarakat.

    GSMA menyebut kenaikan biaya komponen secara global, termasuk chip dan memori, turut memengaruhi harga perangkat. HP 5G juga masih banyak berada di kelas harga yang lebih tinggi dibandingkan perangkat 4G.

    “Biaya handset, terutama handset kelas atas, ikut terpengaruh oleh kenaikan harga chip dan memori secara global. Ponsel 5G juga masih berada di rentang harga yang lebih tinggi,” kata Jeanette Whyte, Head of Public Policy and External Affairs Asia Pacific GSMA, dalam kesempatan yang sama.

    Selain harga perangkat, laporan GSMA menyebut sejumlah faktor lain yang membuat masyarakat belum memakai internet seluler.

    Misalnya, kemampuan digital yang terbatas, anggapan bahwa internet belum memberikan manfaat yang relevan, rendahnya kepercayaan terhadap layanan digital, serta kekhawatiran terhadap keamanan di internet.

    Secara regional, lebih dari satu miliar orang di Asia Pasifik sebenarnya telah berada dalam jangkauan jaringan broadband seluler, tetapi masih belum terhubung ke internet. Jumlah tersebut mencakup hampir 700 juta penduduk dewasa.

    Baca juga: Ini Bukti HP Bekas Sekarang Lebih Diminati dari HP Baru

    Untuk mengatasinya, GSMA mendorong pemerintah dan industri menekan beban biaya smartphone entry-level, termasuk melalui pengurangan pajak.

    GSMA juga mengusulkan skema pembiayaan alternatif, seperti kredit mikro dan penyewaan perangkat dengan sistem bayar sesuai penggunaan atau pay-as-you-go.

    Ilustrasi 5G

    Lihat Foto

    Jika tidak diatasi, terbatasnya penggunaan smartphone bukan tidak mungkin berpotensi menghambat perluasan adopsi 5G.

    Di Indonesia, khususnya, GSMA mencatat 5G baru menyumbang sekitar 4 persen dari seluruh koneksi seluler di Indonesia pada 2025.

    Angka tersebut masih jauh dibandingkan sejumlah negara lain di Asia Tenggara, termasuk Filipina. Menurut data GSMA, tingkat adopsi 5G di Filipina bahkan sudah mencapai sekitar 25 persen pada 2025.

    Baca juga: Akses 5G 10 Kali Tarif 4G

    Jaraknya semakin terasa jika dibandingkan dengan negara tetangga, Singapura, yang dikategorikan GSMA sebagai salah satu pasar 5G yang sudah matang (developed 5G market).

    Namun, adopsi 5G di Indonesia diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Gorman menyebut porsinya diperkirakan mencapai sekitar 28 persen pada 2030.

    Tak hanya dari sisi adopsi, cakupan (coverage) jaringan 5G di Indonesia juga masih terbatas. Pada 2025, jaringan 5G diperkirakan baru menjangkau sekitar 10 persen populasi Indonesia. 

    GSMA memperkirakan cakupan tersebut akan meningkat menjadi sekitar 32 persen pada 2030.

    Dalam laporan, jaringan 4G masih akan memegang porsi terbesar hingga akhir dekade, meski porsinya berangsur turun ke angka 71 persen seiring bertambahnya pengguna dan cakupan jaringan 5G.

    Laporan GSMA soal adopsi 5G di Indonesia bisa dibaca lewat tautan berikut ini.

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Komentar
    Additional JS