Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Facebook Featured Instagram Internet Mark Zuckerberg Media Sosial Meta Spesial

    Eks Insinyur Meta: Zuckerberg Bohong soal Keselamatan Anak di Facebook dan Instagram - Kompas

    8 min read

     

    KOMPAS.com - Mantan insinyur keamanan Meta, Arturo Bejar, mengungkap sejumlah temuan terkait keamanan anak di media sosial perusahaan tersebut, termasuk Facebook dan Instagram.

    Ia menyampaikan kesaksiannya dalam persidangan federal yang digelar baru-bari ini di Oakland, California, Amerika Serikat.

    Sidang ini memproses gugatan 29 jaksa agung dari 29 negara bagian AS yang menuduh Meta sengaja merancang produk yang membuat anak muda kecanduan dan memberikan dampak buruk.

    Béjar menjadi saksi pertama yang dipanggil dalam perkara yang diajukan oleh 29 jaksa agung negara bagian AS terhadap Meta.

    Eks Kepala Yayasan Sekolah Jaksel Klaim 995 Airsoft Gun untuk Ekskul Menembak, Punya Izin Baintelkam

    Dalam kesaksiannya, dia berkata bahwa Meta sebenarnya tahu adanya berbagai dampak negatif yang dialami anak dan remaja ketika menggunakan media sosial.

    Meta juga menerapkan strategi "don't ask, don't tell" yaitu pendekatan yang cenderung mengabaikan dan tidak mengungkap persoalan, terkait keselamatan anak di media sosial.

    Baca juga: Meta Disidang Bikin Anak Kecanduan IG dan FB, Ancaman Denda Rp 25 Kuadriliun

    Menurut Béjar, sistem rekomendasi Meta bahkan bisa mendorong konten dari predator seksual kepada pengguna.

    Ia mengaku, telah berulang kali menyampaikan persoalan tersebut kepada sejumlah eksekutif Facebook dan Instagram. Namun, langkah yang diambil perusahaan untuk mengatasinya tidak memadai.

    Bahkan pekerjaannya di Meta sering menuntutnya membuat laporan mengenai persoalan produk kepada CEO Meta, Mark Zuckerberg. Setidaknya dia telah berbicara dengan Zuckerberg 100 kali.

    Salah satunya laporan yang dikirimkan pada 2021. Laporan tersebut berisi peringatan tentang konten berbahaya dan dampaknya terhadap kesejahteraan remaja di Facebook dan Instagram.

    E-mail itu dikirim setelah Zuckerberg secara terbuka menyatakan bahwa Meta tidak mengutamakan keuntungan di atas keselamatan pengguna.

    Menurut Béjar, pernyataan bos Meta tersebut terkesan tidak sesuai dengan komitmen perusahaan terhadap pengguna muda.

    Dia juga pernah sengaja mengirimkan laporan langsung kepada Zuckerberg agar menjadi prioritas.

    Namun, ketika ditanya apakah Zuck pernah memberikan tanggapan atas laporan tersebut, Béjar menjawab "tidak, saya tidak mendapat tanggapan darinya".

    Alami pelecehan di Instagram

    Salah satu alasan Béjar mulai meneliti persoalan keselamatan anak di Instagram adalah pengalaman yang dialami putrinya sendiri.

    Menurut kesaksiannya, sang putri menerima pendekatan seksual yang tidak diinginkan, menerima foto tak senonoh hingga hinaan bernada misoginis di Instagram.

    Putrinya kemudian mencoba melaporkannya melalui mekanisme pelaporan resmi di IG, tetapi tidak efektif. Béjar kemudian melakukan survei untuk mengetahui pengalaman remaja lainnya di Instagram.

    Hasilnya, 51 persen pengguna yang disurvei menjawab pernah mengalami pengalaman buruk atau berbahaya dalam tujuh hari sebelumnya.

    Dari pengalaman tersebut, menurut Béjar, konten terkait hanya dihapus sekitar 0,02 persen.

    Temuan tersebut juga disampaikan ke sejumlah petinggi Meta, termasuk Zuckerberg dan bos Instagram Adam Mosseri.

    Baca juga: Meta: Orang Indonesia Tak Lagi Keberatan Dilayani AI di WhatsApp

    Makin lama di sosmed, Meta makin untung

    Dalam persidangan, mantan karyawan Meta itu juga membahas hubungan antara desain produk media sosial dan model bisnis Meta yang bergantung pada iklan.

    Ia menyoroti fitur seperti "infinite scroll" atau gulir tanpa batas yang membuat pengguna bisa terus melihat konten tanpa henti.

    Menurut Béjar, semakin banyak konten yang dilihat pengguna, semakin banyak pula iklan yang bisa ditampilkan Meta.

    "Semakin banyak tampilan yang Anda dapatkan, semakin banyak iklan yang Anda jual, semakin banyak pendapatan yang Anda dapatkan," ujarnya dalam persidangan.

    Adapun Béjar bekerja di Meta selama sekitar delapan tahun dalam dua periode berbeda. Dia meninggalkan perusahaan pada 2021 dan sejak itu menjadi salah satu kritikus yang cukup vokal terhadap praktik Meta terkait kesejahteraan anak.

    Sebelumnya dia juga pernah memberikan kesaksian di hadapan komite Senat AS serta dalam sejumlah perkara lain yang berkaitan dengan dampak media sosial terhadap anak.

    Meta digugat 29 jaksa

    Adapun kasus ini diajukan oleh 29 jaksa agung negara bagian AS.

    Mereka menuduh Meta sengaja merancang produk yang membuat ketagihan untuk menarik pengguna muda dan pada akhirnya menyebabkan mereka mengalami berbagai dampak buruk.

    Para jaksa juga menuduh Meta secara kerap mengumpulkan data anak berusia di bawah 13 tahun tanpa izin orang tua, yang disebut melanggar sejumlah aturan federal dan negara bagian AS.

    Baca juga: Meta AI Pantau Obrolan Sensitif Remaja, Orangtua Bisa Dapat Peringatan

    Dalam pembukaan persidangan, Megan O'Neill, Wakil Jaksa Agung California mengatakan bahwa perlindungan terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak merupakan tanggung jawab bersama, tetapi menurutnya Meta tidak menjalankan bagiannya.

    Namun, Meta membantah semua tuduhan.

    Pengacara Meta, Paul Schmidt, mengatakan tidak ada perselisihan bahwa sebagian orang dapat mengalami masalah ketika menggunakan media sosial. Namun, ia mengeklaim Meta telah menyediakan berbagai alat untuk mengatasi persoalan tersebut.

    Meta juga menyatakan bahwa anak berusia di bawah 13 tahun tidak diperbolehkan membuat akun di jejaring sosialnya. Perusahaan mengeklaim telah menonaktifkan lebih dari satu juta akun yang digunakan oleh pengguna di bawah usia tersebut.

    Persidangan yang berlangsung di Oakland, California, ini diperkirakan berlangsung setidaknya selama enam pekan.

    Selain Béjar, sejumlah saksi lain dijadwalkan memberikan kesaksian, termasuk Mark Zuckerberg dan Adam Mosseri. Pakar kesehatan mental anak serta kecanduan juga diperkirakan akan memberikan keterangan.

    Dokumen internal dan e-mail dalam jumlah besar milik Meta turut diajukan sebagai bukti dalam persidangan.

    Perkara ini berpotensi memberikan dampak besar terhadap Meta. Jika perusahaan dinyatakan bertanggung jawab, nilai ganti rugi yang harus dibayarkan bisa mencapai 200 miliar dollar AS (sekitar Rp 3.562 triliun), atau setara dengan pendapatan tahunan Meta pada 2025.

    Para penggugat juga meminta Meta mengubah desain produk-produknya agar lebih aman bagi anak, dihimpun KompasTekno dari The Guardian.

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Komentar
    Additional JS