Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Huawei Keuangan Spesial

    Gaji Rp 2,5 Miliar Ditinggal, Engineer Huawei Ini Pilih Bertani Jagung - Kompas

    6 min read

     

    KOMPAS.com - Ning Boyu (30) memilih meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan di Huawei dengan gaji sekitar 140.000 dollar AS (Rp 2,5 miliar) per tahun. Ia memilih untuk kembali membantu keluarganya bertani jagung di kampung halaman.

    Ning mengundurkan diri dari Huawei pada 5 Agustus 2026, lalu pulang ke Shaodong, Provinsi Hunan.

    Pada hari pertamanya membantu panen jagung, ia hanya membawa pulang upah 10 yuan (sekitar Rp 26.480), tapi mengaku puas dengan hasil tersebut.

    Keputusan ini sempat memicu perbincangan di media sosial China. Sejumlah warganet mempertanyakan apakah Ning menyia-nyiakan kemampuan teknisnya dengan pilihan tersebut.

    Purbaya Bantah Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp 16 Juta per Bulan

    Ning menempuh pendidikan sarjana dan doktoral di University of Electronic Science and Technology of China.

    Semasa kuliah, ia sudah menerbitkan 21 makalah ilmiah soal teknologi wireless, memecahkan rekor lompat tinggi di kampusnya, menjuarai kompetisi renang, sekaligus sebagai kreator konten di platform Bilibili.

    Pada 2023, Ning direkrut Huawei lewat program elite bertajuk "Top Minds", yang di China lebih dikenal dengan nama "Genius Youth" (Jenius Muda).

    Di Huawei, ia menjabat sebagai principal research engineer, dengan gaji yang menempatkannya di kelompok penerima bayaran tertinggi program tersebut. Tugasnya di Huawei berfokus pada riset teknologi wireless, dengan siklus penelitian yang cenderung lama sebelum menghasilkan hasil nyata.

    Baca juga: 25 Tahun Jadi Engineer Adobe, Kena PHK dan Sulit Cari Kerja, Kini Jadi Sopir Bus

    Program "Genius Youth" sendiri merupakan inisiatif rekrutmen Huawei untuk menjaring talenta muda terbaik lulusan universitas, dengan iming-iming gaji jauh di atas standar industri.

    Ning Boyu (30) memilih meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan di Huawei dengan gaji sekitar 140.000 dollar AS (Rp 2,52 miliar) per tahun. Ia memilih untuk kembali membantu keluarganya bertani jagung di kampung halaman.

    Lihat Foto

    Ning bukan rekrutan "Top Minds" pertama yang memilih hengkang dari Huawei. Peng Zhihui, yang bergabung dengan program serupa pada 2020 dengan gaji tahunan 2 juta yuan (setara 287.000 dollar AS saat itu, atau Rp 5,17 miliar).

    Zhihui lebih dulu membangun nama di media sosial lewat sejumlah temuannya, seperti lengan robotik dan sepeda otomatis.

    Pada Desember 2022, Peng meninggalkan Huawei untuk merintis usaha sendiri. Ia kemudian ikut mendirikan AgiBot, perusahaan robotika yang belakangan tumbuh jadi produsen robot humanoid terbesar di dunia.

    Baca juga: Tren Baru, Lulusan Kampus Elite China Ramai-ramai Pilih Kerja di Pabrik

    Alasan resign

    Ning mengaku tertekan oleh sistem evaluasi kinerja di Huawei, yang menurutnya menyerupai "sebuah video game, di mana nyaris semua aktivitas diukur berdasarkan target kinerja".

    Sifat pekerjaannya yang berorientasi riset jangka panjang membuatnya kerap merasa terisolasi, karena tidak memiliki hasil kerja yang bisa langsung ditunjukkan dalam periode evaluasi tersebut.

    Ning juga khawatir nilai komersial dari risetnya bagi Huawei, ditambah kekhawatiran soal masa depan keahliannya di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).

    "Kalau suatu saat AI bisa melakukan hal-hal itu, lantas apa nilai dari kemampuan yang sedang saya kembangkan sekarang?" kata Ning, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari VnExpress.

    Ia turut merasakan adanya kesenjangan antara riset akademis dan kebutuhan praktis industri. Setelah berdiskusi dengan sejumlah dosen dan mahasiswa di kampusnya dulu, Ning menyadari dirinya justru lebih menikmati keterlibatan dalam komunitas akademik.

    Baca juga: Pria Ini Pilih Resign dan Bikin Video AI Full-time, Malah Lebih Cuan

    Ning menegaskan, masa bertani ini hanya bersifat sementara. Ia sudah menerima beasiswa pascadoktoral Marie Curie, dan tengah bersiap melakukan riset di KTH Royal Institute of Technology, Swedia. 

    Namun, ia berencana kembali ke China setelah menyelesaikan program tersebut. 

    "Saya suka menganggap diri saya sebagai aktor dalam hidup saya sendiri. Naskah bulan ini mungkin saya jadi petani, sementara bulan depan saya mungkin jadi sopir," kata Ning.

    Ia menambahkan, pengalaman bertani memberinya pemahaman baru soal tantangan yang dihadapi orang-orang di profesi berbeda dari dunia risetnya selama ini.

    "Esensi hidup adalah pengalaman. Kamu tidak perlu membuktikan diri ke siapa pun," kata Ning.

    Baca juga: Puluhan Tahun Kerja di Silicon Valley, Resign, Lalu Bangun Bisnis di Usia 55 Tahun

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Suap Pegawai KPK, Bupati Pemalang Peras Anak Buah Rp 1,98 Miliar

    Komentar
    Additional JS