Hacker Iran Retas Pembangkit Listrik Inggris, Operasional Sempat Terhenti Empat Hari - Afu

Penulis: Erik Erfinanto
JAKARTA, AFU.ID — Peretas yang dikaitkan dengan Iran diduga melakukan serangan siber terhadap sebuah pembangkit listrik di Inggris hingga menyebabkan fasilitas tersebut berhenti beroperasi selama empat hari pada bulan lalu. Pemerintah Inggris menyatakan serangan tersebut menargetkan pembangkit energi berskala kecil. Meski operasional fasilitas sempat dihentikan, pemerintah memastikan serangan itu tidak menimbulkan risiko terhadap sistem kelistrikan Inggris secara lebih luas.
“Insiden ini berdampak pada generator energi berskala kecil dan tidak ada risiko terhadap sistem energi yang lebih luas,” kata juru bicara Departemen Keamanan Energi dan Net Zero Inggris, seperti dikutip Afu.id dari The Guardian, Senin (24/8/2026). Ia melanjutkan, sistem energi Inggris memiliki ketahanan yang tinggi. Pemerintah juga terus bekerja sama dengan sektor energi untuk melindungi infrastruktur penting dan memastikan penerapan standar keamanan tertinggi.
Surat kabar Sunday Telegraph sebelumnya melaporkan bahwa pembangkit tersebut terpaksa dihentikan selama empat hari akibat serangan siber yang terjadi pada bulan lalu. Namun, Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC) disebut tidak menerima laporan gangguan pasokan dari operator pembangkit listrik yang berada di bawah pengawasan regulator. Kasus ini dinilai menunjukkan meningkatnya ancaman serangan siber terhadap infrastruktur penting Inggris. Kepala Eksekutif NCSC Richard Horne sebelumnya memperingatkan bahwa negara-negara seperti Rusia, China, dan Iran semakin menargetkan sistem yang menopang berbagai layanan penting di Inggris.
Baca Juga
Dugaan serangan tersebut juga terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Inggris dan Iran. Pemerintah Inggris sebelumnya mengizinkan Amerika Serikat melancarkan operasi yang disebut bersifat defensif dari pangkalan militer Inggris yang menjadi lokasi pesawat-pesawat Amerika. Kebijakan tersebut berbeda dengan operasi ofensif. Inggris menegaskan tidak memberikan izin untuk menggunakan pangkalannya dalam operasi ofensif terhadap Iran.
Ketegangan meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa pangkalan mana pun yang digunakan untuk melakukan agresi terhadap wilayah Iran akan dianggap sebagai target yang sah. Iran sendiri telah lama dituduh melakukan berbagai serangan siber terhadap negara lain. Salah satu kasus yang pernah dikaitkan dengan peretas Iran adalah pemadaman listrik besar di Turki pada 2015, sementara sejumlah situs pemerintah Israel juga diduga menjadi sasaran pada 2022.
Badan keamanan Amerika Serikat pada tahun ini juga mengeluarkan peringatan mengenai ancaman serangan siber terhadap infrastruktur penting yang dilakukan kelompok peretas yang memiliki hubungan dengan IRGC. Amerika Serikat sebelumnya menuduh kelompok yang berafiliasi dengan Iran bernama CyberAv3ngers melakukan kampanye serangan siber pada 2023. Kelompok tersebut disebut berhasil mengompromikan sedikitnya 75 perangkat yang digunakan di berbagai sektor infrastruktur. Partai Konservatif Inggris menilai insiden peretasan terhadap pembangkit listrik tersebut menunjukkan bentuk baru peperangan dan memperkuat kebutuhan Inggris untuk meningkatkan ketahanan energinya. (EER)