Mengapa iPhone XR Masih Sangat Populer di Pasar bekas? - Gamebrott
Sebuah fenomena menarik di pasar smartphone Indonesia yang menurut penulis cukup sulit dijelaskan hanya dengan melihat daftar spesifikasi. Ketika smartphone Android seharga 2 sampai 3 jutaan sudah menawarkan layar 120Hz, baterai besar, kamera dengan jumlah megapiksel ratusan, USB-C, RAM besar, dan berbagai fitur modern, iPhone XR yang dirilis pada 2018 masih saja punya peminat di Indonesia. Bahkan, perangkat yang usianya sudah sekitar delapan tahun ini masih sering dianggap sebagai pilihan menarik di pasar HP bekas.
Alasan yang sering dikemukakan hampir selalu sama yaitu yang penting iPhone. Bahkan ada yang beranggapa kalau kameranya masih ok atau iOS lebih smooth dibanding Android. Semua justifikasi tersebut memang ada benarnya sampai taraf tertentu. Namun, kalau kita bedah lebih jauh, ada satu faktor yang sering tidak ingin diakui oleh pengguna iPhone XR, yaitu gengsi.
Tidak sedikit orang membeli iPhone XR bukan karena perangkat tersebut benar-benar menawarkan value terbaik di kelas harganya, tetapi karena ingin terlihat menggunakan iPhone. problematikanya adalah, setelah membeli, muncul kebutuhan untuk menjustifikasi keputusan tersebut, atau hanya sekedar ingin merasakan memakai iPhone.
Apakah smartphone ini memang masih worth it pada 2026, atau sebenarnya kita hanya sedang melihat bagaimana gengsi sebuah merek membuat produk yang sudah sangat tua terasa lebih menarik daripada seharusnya?
Fenomena iPhone XR Masih Sangat Populer, Bukti Kemakan Gengsi?

Berbicara pasar smartphone Indonesia, kita tidak bisa sepenuhnya mengabaikan faktor status sosial. Smartphone sudah lama bukan sekadar alat komunikasi. Bagi sebagian orang, smartphone juga menjadi bagian dari penampilan dan identitas. Identitas iPhone mempunyai posisi yang sangat kuat dalam hal ini.
Meskipun Apple memiliki berbagai kelas produk, masyarakat umum masih melihat iPhone sebagai produk premium. Bahkan ketika seseorang menggunakan iPhone lama, persepsi tersebut tetap ada. iPhone XR yang harganya sudah turun jauh dari harga awalnya tetap terlihat seperti iPhone bagi orang yang melihatnya dari luar.
Bayangkan seseorang memiliki budget Rp3 juta. Dia bisa membeli Android baru dengan spesifikasi modern, atau mencari iPhone XR bekas. Android tersebut mungkin mempunyai layar 120Hz, baterai 5.000 mAh, RAM 8 GB, internal 256 GB, USB-C, dan chipset yang dirancang beberapa tahun lebih baru.
Sementara iPhone XR hanya memiliki layar LCD 60Hz, baterai yang tidak ssampai 3000mAh, Lightning port, kamera hanya sebiji di belakang, dan chipset yang diperkenalkan pada 2018. Tetapi ketika kedua perangkat diletakkan di atas meja, sebagian orang mungkin tetap merasa iPhone XR lebih wah hanya karena logo apel kegigit. Inilah yang disebut sebagai kekuatan branding Apple.
Dan justru karena harga iPhone XR sekarang sudah relatif murah, gengsi tersebut menjadi lebih mudah dijangkau. Orang yang sebelumnya tidak mampu membeli iPhone baru bisa mendapatkan pengalaman iPhone dengan harga beberapa juta rupiah. Masalahnya, pengalaman tersebut sudah tidak lagi mewakili teknologi yang sepadan untuk tahun 2026.
Perbandingan dengan Android

A12 Bionic memang masih cukup untuk banyak aktivitas. Tetapi cukup bukan berarti unggul. Kamera iPhone XR memang masih bisa menghasilkan foto dan video yang bagus. Tetapi bagus bukan berarti terbaik. iOS memang mempunyai keunggulan dalam optimasi aplikasi. Tetapi iPhone XR juga sudah tidak mendapatkan iOS 26.
Tetap ada perbedaan antara ‘masih bisa digunakan’ dengan ‘masih merupakan pilihan paling masuk akal’. Sayangnya, dua hal tersebut sering dianggap sama. Namun coba kita balik perspektifnya:
Kalau ada smartphone Android keluaran 2018 yang masih dijual pada 2026, kemungkinan besar sebagian besar orang akan mengatakan spesifikasinya sudah jadul. Bahkan mungkin akan mempertanyakan kenapa masih ada orang yang mau menggunakannya. Sekarang coba bandingkan dengan iPhone XR, pandangan sebagian orang mungkin berbeda dan masih mengganggap iPhone tersebut masih layak dipakai.
iPhone XR memang mendapatkan keuntungan besar dari umur panjang ekosistem Apple. Namun, kita juga perlu menyadari perangkat ini diperkenalkan pada September 2018. Artinya, pada 2026 desain dan hardware dasarnya sudah hampir satu dekade.
Apple sendiri menjadikan iPhone 11 dan generasi yang lebih baru sebagai perangkat yang kompatibel dengan iOS 26. Jadi ketika seseorang mengatakan “iPhone XR masih sama seperti iPhone baru karena masih dapat update”, pernyataan tersebut sudah tidak sepenuhnya benar. XR memang masih bisa mendapatkan pembaruan keamanan tertentu, tetapi dukungan sistem operasi utama sudah berhenti di iOS 18.
Bukan berarti XR tiba-tiba menjadi tidak berguna. Namun sudah seharusnya perangkat dengan usia setua itu tidak lagi digoreng di pasaran. Tidak jarang kita melihat orang buka harga iPhone ini di kisaran 3 juta atau bahkan 5 juta. Tentu dari segi spesifikasi, ia tidak lagi terlihat menggoda bagi yang mengerti spesifikasi.
Layar, Baterai, dan Update OS Sudah Ketinggalan Zaman

Salah satu contoh paling jelas adalah layar. Ketika iPhone XR diluncurkan, refresh rate 60Hz bukan masalah besar. Bahkan pada saat itu, banyak smartphone masih menggunakan 60Hz. Namun pasar Android sudah berubah cukup drastis. Smartphone dengan harga Rp2 jutaan saja sekarang sudah banyak yang menggunakan layar dengan refresh rate 90Hz atau 120Hz.
Setelah terbiasa menggunakan layar dengan refresh rate tinggi, kembali ke 60Hz bisa terasa cukup aneh. Ironisnya, pengguna XR mungkin tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut karena mereka sudah terbiasa dengan perangkatnya. Tetapi coba gunakan Android baru dengan layar 120Hz selama beberapa hari, lalu kembali ke XR. Perbedaannya kemungkinan akan terasa.
Beginilah contoh sederhana bagaimana status iPhone bisa membuat beberapa kekurangan perangkat menjadi kurang diperhatikan. Masalah lain yang sering disembunyikan adalah baterai. Bagaimanapun juga, tidak ada iPhone XR baru yang keluar dari pabrik pada 2026. Hampir semua unit yang beredar sudah digunakan selama bertahun-tahun. Bahkan unit yang kondisinya terlihat sangat bagus belum tentu memiliki baterai yang masih sehat karena bisa saja battery health-nya sudah disuntik menjadi 100%.
Pengguna akhirnya harus menghadapi kesehatan baterai yang mungkin sudah turun jauh. Memang baterai bisa diganti. Tetapi ketika baterai sudah diganti, pertanyaannya kembali ke harga. Kalau membeli iPhone XR murah kemudian harus mengganti baterai, memperbaiki layar, atau mengganti komponen lain, total biaya kepemilikan bisa meningkat.
Pada titik tertentu, konsumen mungkin sudah lebih baik membeli smartphone yang lebih baru. Ini yang sering dilupakan ketika orang hanya membandingkan harga jual. Kalau setelah membeli harus mengganti baterai Rp500 ribu sampai Rp1 jutaan, membeli charger, memperbaiki komponen tertentu, atau menerima risiko perangkat bekas yang pernah diperbaiki, value proposition-nya langsung bergeser.
Pasar Bekas Buat iPhone Lama Terlihat Lebih Menarik

Namun, kita juga harus memahami mengapa fenomena ini bisa terus terjadi. Pasar bekas Indonesia memang sangat sensitif terhadap harga. Banyak konsumen tidak mampu atau tidak mau mengeluarkan uang besar untuk smartphone baru. Karena itu, barang premium generasi lama menjadi alternatif yang menarik.
Tetapi kebanyakan sering lupa bahwa mereka bukan mendapatkan iPhone 10 juta dengan harga 2 juta. Mereka mendapatkan smartphone berusia hampir delapan tahun yang kebetulan dahulu dijual 10 juta. Harga awal sebuah produk tidak otomatis menentukan value-nya bertahun-tahun kemudian.
Jadi apakah worth it membeli iPhone XR di kondisi saat ini? Jawabannya tergantung dari definisi “worth it”. Kalau yang dimaksud adalah masih bisa digunakan untuk WhatsApp, Instagram, TikTok, YouTube, kamera, mobile banking, dan aktivitas sehari-hari, tentu saja masih, tapi tidak selamanya.
Tetapi kalau yang dimaksud adalah mendapatkan teknologi terbaik dengan budget 2 juta sampai 3 jutaan pada 2026, saya rasa jawabannya mulai sulit. iPhone XR sudah terlalu tua untuk disebut sebagai pilihan yang benar-benar rasional tanpa banyak catatan.
Ia masih bisa dipakai, tetapi banyak perangkat baru yang menawarkan teknologi lebih modern. Kameranya usable, tetapi kamera smartphone baru sudah jauh berkembang. Soal performa mungkin masih cukup untuk pengguna awam, tetapi chipset modern di kelas harga yang sama juga sudah sangat mumpuni.
Tapi yang terpenting bagi kalangan awam adalah masih terlihat seperti iPhone, tetapi justru inilah yang menjadi salah satu alasan terbesar mengapa orang masih membelinya. Dengan kata lain, iPhone XR masih worth it jika yang dicari adalah iPhone murah. Tetapi belum tentu worth it jika yang dicari adalah smartphone terbaik di harga tersebut. Menurut kamu gimana?
Dapatkan informasi keren di Gamebrott terkait Tech atau artikel sejenis yang tidak kalah seru dari Andi. For further information and other inquiries, you can contact us via author@gamebrott.com
