Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Facebook Featured Instagram Internet Media Sosial Meta Spesial

    Meta Terancam Denda hingga US$1,4 Triliun, Fitur Facebook dan Instagram yang Membesarkannya Kini Jadi Sorotan - Aktualita

    6 min read

     

    AKTUALITA.COMeta Platforms menghadapi salah satu pertarungan hukum terbesar dalam sejarah perusahaan. Induk Facebook dan Instagram itu digugat terkait dugaan bahwa sejumlah fitur pada platformnya sengaja dirancang untuk membuat pengguna, khususnya anak-anak dan remaja, terus mengakses media sosial dalam waktu lama.

    Perkara yang bergulir di pengadilan federal Oakland, California, tersebut berpotensi membawa konsekuensi finansial sangat besar. Meta memperkirakan potensi kewajiban maksimum dalam perkara itu bisa mencapai US$1,4 triliun, angka yang mendekati kapitalisasi pasar perusahaan. Namun, estimasi tersebut berasal dari perhitungan Meta sendiri dan hakim sebelumnya menyebut angka itu tidak masuk akal. Para jaksa agung negara bagian dilaporkan menuntut kerugian dalam skala ratusan miliar dolar.

    Di luar potensi denda, ancaman terbesar bagi Meta justru dapat datang dari tuntutan untuk mengubah fitur-fitur yang selama ini menjadi mesin utama engagement Facebook dan Instagram.

    Infinite Scroll hingga Autoplay Jadi Sorotan

    Fitur seperti infinite scroll, autoplay video, Stories, tombol interaksi, notifikasi, hingga sistem rekomendasi konten menjadi bagian yang mendapat sorotan dalam perkara tersebut.

    Jaksa menilai berbagai fitur itu mampu mendorong pengguna terus menggulir layar dan menghabiskan lebih banyak waktu di platform. Semakin lama pengguna berada di Facebook atau Instagram, semakin banyak pula peluang Meta menampilkan iklan.

    Dengan kata lain, mekanisme yang kini dipersoalkan merupakan bagian penting dari model bisnis yang membantu Meta membangun kerajaan periklanan digitalnya.

    Meta sendiri menyatakan hampir seluruh pendapatannya masih berasal dari periklanan di Facebook dan Instagram. Dalam laporan keuangan terbarunya, perusahaan juga mengakui bahwa sistem penargetan dan pengukuran iklan sangat bergantung pada berbagai sinyal aktivitas pengguna.

    Jika pengadilan pada akhirnya memerintahkan perubahan mendasar terhadap sistem rekomendasi maupun fitur yang meningkatkan engagement, dampaknya berpotensi menjalar langsung ke bisnis iklan Meta.

    Digugat 29 Negara Bagian AS

    Gugatan ini melibatkan koalisi bipartisan 29 negara bagian Amerika Serikat.

    Perkara tersebut bermula dari gugatan pada 2023 yang menuduh Meta merancang dan menerapkan sejumlah fitur Facebook serta Instagram yang mendorong penggunaan berlebihan oleh anak-anak dan remaja.

    Dalam persidangan yang dimulai pada 18 Agustus 2026, California, Colorado, Kentucky, dan New Jersey menjadi negara bagian yang saat ini membawa kasus tersebut ke persidangan federal. Negara bagian lainnya termasuk dalam rangkaian gugatan yang lebih luas terhadap Meta.

    Para penggugat menuduh Meta mengetahui kerentanan psikologis pengguna muda tetapi tetap mengembangkan fitur yang mendorong mereka menghabiskan lebih banyak waktu di platform.

    Selain persoalan desain platform, gugatan tersebut menuduh Meta mengumpulkan informasi pribadi anak berusia di bawah 13 tahun tanpa persetujuan orang tua sebagaimana diwajibkan dalam Children's Online Privacy Protection Act atau COPPA.

    Meta Bantah Sengaja Membuat Anak Kecanduan

    Meta membantah tuduhan bahwa Facebook dan Instagram sengaja dirancang untuk membuat anak-anak kecanduan.

    Perusahaan mengatakan telah mengembangkan berbagai perlindungan bagi pengguna remaja dan menilai tuntutan finansial yang diajukan negara-negara bagian tidak proporsional.

    Meta juga berpendapat bahwa para penggugat belum membuktikan klaim mereka bahwa perusahaan dengan sengaja menciptakan produk berbahaya bagi pengguna muda.

    Dalam beberapa tahun terakhir, Meta memang meningkatkan perlindungan terhadap akun remaja. Perusahaan antara lain memperluas Teen Accounts serta menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk memperkirakan apakah pengguna kemungkinan masih berusia remaja meskipun mencantumkan usia dewasa pada akun mereka.

    Namun, upaya tersebut belum menghentikan tekanan hukum terhadap perusahaan.

    Potensi Denda Setara Nilai Meta

    Besarnya angka US$1,4 triliun membuat perkara ini mendapat perhatian luas.

    Angka tersebut bukan denda yang sudah dijatuhkan pengadilan. Nilai itu merupakan perkiraan Meta mengenai potensi maksimum kewajiban jika perhitungan penalti yang dituntut diterapkan secara luas.

    The Guardian melaporkan jaksa agung negara bagian mencari sekitar US$200 miliar dalam kerugian, sedangkan Meta dalam dokumen pengadilan memperkirakan kemungkinan penalti dapat membengkak hingga US$1,4 triliun. Hakim yang menangani perkara menyebut estimasi Meta tersebut “tidak masuk akal”.

    Dengan demikian, belum ada kepastian bahwa Meta benar-benar akan dikenakan denda sebesar US$1,4 triliun.

    Persidangan diperkirakan berlangsung sekitar enam minggu dan CEO Meta Mark Zuckerberg termasuk di antara sejumlah tokoh yang berpotensi memberikan kesaksian.

    Lebih Berbahaya dari Denda?

    Sejumlah analis menilai persoalan terbesar bagi Meta bukan hanya nilai hukuman finansial.

    Jika pengadilan memerintahkan Meta menghilangkan atau mengubah fitur seperti infinite scrolling, autoplay, sistem rekomendasi, maupun berbagai mekanisme yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna, maka model bisnis perusahaan berpotensi terkena dampak langsung.

    Algoritma rekomendasi Facebook dan Instagram membantu menentukan konten yang muncul pada feed pengguna. Tingginya engagement memberi Meta lebih banyak kesempatan untuk menampilkan iklan sekaligus mengumpulkan sinyal yang digunakan dalam personalisasi iklan.

    Analis Forrester Kate Winick bahkan menyebut perkara tersebut berpotensi menjadi titik perubahan bagi media sosial seperti yang dikenal saat ini. Meski demikian, ia tidak memperkirakan putusan terhadap Meta otomatis akan menghancurkan industri media sosial.

    Kasus ini juga mulai dibandingkan dengan gelombang gugatan terhadap industri tembakau di Amerika Serikat beberapa dekade lalu.

    Bedanya, yang kini berada di meja hijau bukan rokok, melainkan desain digital yang membuat miliaran orang terus menggulir layar.

    Bagi Meta, hasil persidangan dapat menentukan lebih dari sekadar besarnya denda. Perusahaan mungkin dipaksa memperbaiki atau mengubah mekanisme yang selama bertahun-tahun membantu Facebook dan Instagram menjadi dua platform media sosial terbesar sekaligus menghasilkan pendapatan iklan bernilai ratusan miliar dolar.

    Komentar
    Additional JS