Sering Merasa Lelah saat Pakai AI? Ternyata Ada Penelitiannya - Kompas
KOMPAS.com - Pernah merasa lelah dan stress saat menggunakan Artificial Intelligence (AI) buat bekerja atau belajar? Jika pernah, Anda tidak sendirian. Hasil studi terbaru menunjukkan kebanyakan menggunakan AI malah bikin stress.
Hasil studi yang dipublikasikan di Harvard Business Review (HBR) itu menyebutkan penggunaan AI berlebihan bakal menimbulkan “AI brain fry”, yaitu kondisi kelelahan mental akibat terlalu sering menggunakan AI hingga melebihi kapasitas kognitif manusia.
Baca juga: Waspada, Tekanan Digital Bisa Picu 8 Gangguan Mental
Sebelumnya, riset HBR sempat memperkenalkan istilah "AI slop" atau "workslop", campuran antara work (pekerjaan) dan slop (sampah). Istilah yang muncul untuk menggambarkan ledakan konten dangkal yang membebani alur kerja.
Penggunaan AI secara intens bikin stres
Dalam riset terbaru yang bertajuk When Using AI Leads to “Brain Fry”, HBR melakukan survei terhadap sekitar 1.500 pekerja penuh waktu (full time) di Amerika Serikat.
Baca Juga :
China Diduga Curi Ilmu AI Amerika Serikat untuk Latih Drone hingga Kapal Perang
Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian pekerja yang menggunakan AI secara intens justru mengalami kelelahan mental, kesulitan fokus, hingga pengambilan keputusan yang lebih lambat.
Baca juga: Studi Ungkap Kenapa Nokia Bangkrut
Riset merinci, dari hampir 1.500 pekerja yang disurvei, sekitar 14 persen responden mengaku pernah mengalami kondisi yang disebut “brain fry”. Persentase tertinggi ditemukan di bidang pemasaran/marketing, pengembangan software, SDM (Human Resources), keuangan, dan TI.
Julie Bedard, Managing Director dan Partner di Boston Consulting Group sekaligus penulis studi tersebut, mengatakan temuan ini menjadi peringatan awal bagi perusahaan yang terlalu optimistis terhadap peningkatan produktivitas dari AI.
“AI bisa berkembang sangat cepat, tetapi kita masih memiliki otak yang sama seperti kemarin,” kata Bedard.
Baca juga: Ironis, Sanksi AS ke China Justru Lahirkan AI DeepSeek "Pembunuh" ChatGPT
Menurut Bedard, temuan ini merupakan "tanda peringatan dini" bahwa ekspektasi seputar produktivitas AI mungkin perlu diatur ulang.
Perusahaan AI menjanjikan bahwa AI dapat meningkatkan produktivitas secara drastis. Terlepas dari benar atau tidaknya hal itu, teknologi ini memungkinkan para pekerja untuk melakukan banyak tugas sekaligus dengan kecepatan dan beban kerja yang jauh melampaui batas kemampuan normal mereka.
Inilah yang tampaknya menjadi bagian dari masalah terkait dampak kognitif pekerja.
Paradoks produktivitas AI
Yang menarik, studi tersebut juga menemukan paradoks bagi pegawai. Di mana AI bisa mengurangi stres sekaligus menambah stress bagi pekerja.
Ketika AI digunakan untuk mengambil alih pekerjaan rutin dan repetitif, tingkat stres pekerja justru menurun. Namun ketika pekerja harus mengawasi banyak tools AI (tiga atau lebih) sekaligus atau berpindah-pindah antar alat AI, tekanan mental meningkat tajam.
Baca juga: Skenario yang Ditakuti Terjadi, Dua AI Kabur dari Lab dan Bobol Hugging Face
Hal ini disebabkan oleh informasi yang terlalu banyak, perpindahan tugas yang cepat, serta kebutuhan untuk terus memeriksa hasil kerja AI.
Banyak pekerja menggambarkan pengalaman brain fry sebagai perasaan seperti “kabut mental” (mental fog) atau kepala terasa penuh seperti banyak tab browser yang terbuka sekaligus.
Dalam beberapa kasus, pekerja bahkan merasa lebih sibuk mengelola alat AI dibanding benar-benar menyelesaikan pekerjaan utama.
Baca juga: Psikolog Ingatkan, Jangan Sering-sering Curhat ke ChatGPT dkk
Jack Downey, Head of Strategy, Operations and Product di Webster Pass Consulting, mengatakan dari pengalamannya, penggunaan AI sehari-hari juga membawa tekanan mental tambahan.
Ia menjelaskan bahwa bekerja dengan AI sering membuat seseorang harus terus menunggu hasil, berpindah tugas, lalu memeriksa kembali hasil kerja mesin.
“Kadang satu tugas selesai dalam lima detik, yang lain butuh 50 detik, dan yang lain lagi lima menit. Jadi kita terus berganti fokus,” kata Downey.
Baca juga: Terbaru, Ini 10 Profesi Paling Terdampak AI dan yang Aman
Menurut dia, penggunaan beberapa AI sekaligus juga membuat banyak orang bekerja dengan beberapa jendela atau alat dalam waktu bersamaan. Inilah yang pada akhirnya memicu kelelahan mental.
Picu kesalahan dan niat resign
Peneliti juga menemukan bahwa pekerja yang mengalami brain fry lebih sering melakukan kesalahan dan mengalami decision fatigue atau kelelahan dalam mengambil keputusan.
Dalam beberapa kasus, kondisi ini bahkan berkaitan dengan meningkatnya niat karyawan untuk keluar dari pekerjaan. Studi tersebut mencatat bahwa niat untuk resign meningkat hampir 10 persen pada pekerja yang melaporkan mengalami brain fry.
Baca juga: Riset Anthropic: Dibanding Programmer, Profesi Guru Lebih Susah Digantikan AI
Selain itu, kelelahan mental akibat penggunaan AI juga meningkatkan decision fatigue hingga 33 persen.
Jika terjadi dalam skala besar di perusahaan, kondisi ini berpotensi berdampak pada produktivitas dan bahkan kerugian finansial perusahaan.
Meski demikian, peneliti menekankan bahwa solusi dari masalah ini bukanlah meninggalkan atau menghentikan penggunaan AI. Sebaliknya, perusahaan perlu mendesain ulang cara kerja dengan AI, bukan sekadar menambahkan AI ke dalam sistem kerja lama.
Potensi AI mungkin tidak terbatas. Pertanyaannya adalah seberapa jauh otak manusia dapat beradaptasi untuk mengimbanginya.
Baca juga: AI Anthropic Pecahkan Teka-teki Matematika Berusia 87 Tahun
Jadi, menurut Bedard, pelatihan penggunaan AI yang tepat serta strategi manajemen yang jelas dapat membantu mengurangi risiko brain fry, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari CBS News dan Axios.
Riset Harvard Business Review soal When Using AI Leads to “Brain Fry” bisa dibaca selengkapnya lewat link ini.
Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno. Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT