Studi: Keasyikan Nonton Video Pendek Bisa Tumpulkan Bagian Otak Ini - Kompas
KOMPAS.com - Menonton video pendek yang disukai hingga selesai ternyata berkaitan dengan perubahan aktivitas pada bagian otak yang berperan dalam mengatur fokus dan pengambilan keputusan.
Hal ini terungkap dari studi yang dilakukan peneliti Zhejiang University, China, yang diterbitkan di jurnal NeuroImage pada Januari 2026.
Peneliti menggunakan pemindaian fMRI dan proton magnetic resonance spectroscopy (¹H-MRS) untuk mengamati aktivitas serta kondisi neurokimia otak peserta saat menonton video pendek.
Hasil penelitian menunjukkan dorsal anterior cingulate cortex (dACC) dan dorsolateral prefrontal cortex (dlPFC) mengalami deaktivasi signifikan ketika peserta menonton video yang mereka sukai hingga selesai.
Gejala Khas Saraf Terjepit
Baca juga: China Salip Neuralink Elon Musk, Jadi Negara Pertama yang Jual Chip Otak
Baca Juga :
Untuk diketahui, dACC berperan dalam memantau konflik, mengevaluasi usaha, serta pengambilan keputusan berdasarkan imbalan. Sementara itu, dlPFC berperan dalam mengatur kontrol dari atas ke bawah.
Video favorit bikin aktivitas otak menurun
Peneliti merekrut 66 sukarelawan, tetapi 10 orang dikeluarkan dari penelitian karena gerakan kepala berlebihan atau kualitas data yang kurang baik.
Studi ini akhirnya hanya melibatkan 56 orang dewasa muda, terdiri dari 37 pria dan 19 wanita dengan rata-rata usia 23,3 tahun.
Seluruh peserta sudah memiliki pengalaman menggunakan aplikasi video pendek. Saat berada di dalam mesin MRI, mereka menonton dua sesi video berdurasi enam menit.
Video diambil dari 160 klip dengan durasi rata-rata 23,7 detik. Kontennya mencakup aktivitas individu, interaksi beberapa orang, hewan peliharaan, adegan permainan, dan pemandangan alam.
Peserta bebas melewati video dengan menekan tombol. Peneliti mengelompokkan video yang ditonton sampai selesai sebagai video yang "disukai", sedangkan video yang di-skip sebelum separuh durasinya sebagai "tidak disukai".

Lihat Foto
Ketika menonton video yang disukai, aktivitas dACC dan dlPFC turun secara signifikan dibandingkan kondisi normal. Pada video yang tidak disukai, aktivitas dACC tidak berbeda signifikan dari kondisi normal, sedangkan dlPFC tetap mengalami penurunan meski lebih kecil.
Sebagai pembanding, area visual utama otak atau V1 justru aktif saat menonton kedua jenis video. Hal ini menunjukkan perubahan yang ditemukan bukan sekadar akibat peserta sedang menonton video, melainkan lebih spesifik terjadi pada wilayah yang berkaitan dengan kontrol kognitif.

Lihat Foto
Apa penyebabnya?
Peneliti kemudian melihat apakah kondisi neurokimia di otak berkaitan dengan perubahan tersebut.
Sebelum pemindaian, mereka mengukur kadar glutamat dan GABA di dACC. Hasilnya, peserta dengan kadar glutamat lebih tinggi cenderung mengalami penurunan aktivitas dACC yang lebih kecil saat menonton video, baik yang disukai maupun tidak disukai.
Kadar glutamat juga berkaitan dengan aktivitas dlPFC ketika peserta menonton video yang tidak disukai. Sementara itu, kadar GABA tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan aktivitas dACC maupun dlPFC.
Peneliti juga menemukan bahwa hubungan antara dACC dan dlPFC meningkat selama peserta menonton video. Peningkatan tersebut lebih kuat ketika peserta menonton video favorit.
Menurut peneliti, pola ini kemungkinan mencerminkan perubahan ke pemrosesan yang lebih otomatis dan membutuhkan lebih sedikit usaha kognitif ketika seseorang menikmati konten yang menarik.
Baca juga: Efek Samping Layar Gadget ke Kulit, Dari Kusam hingga Penuaan Dini
Kondisi tersebut tidak sekaligus menunjukkan bahwa kemampuan kontrol kognitif seseorang sedang terganggu. Peserta tetap aktif mengevaluasi konten, terlihat dari kebiasaan mereka melewati video yang tidak menarik.
Peneliti mengaitkan temuan tersebut dengan kondisi flow yang sebelumnya juga ditemukan dalam pengalaman menikmati film atau bermain game, ketika seseorang sangat terserap dalam aktivitas sehingga pemantauan kognitif menjadi lebih rendah.
Namun para peneliti menekankan bahwa studi ini tidak membuktikan video pendek merusak otak atau menurunkan kemampuan konsentrasi dalam jangka panjang.
Penelitian ini hanya mengamati aktivitas otak peserta dalam satu sesi. Para peneliti juga tidak mengukur penggunaan video pendek yang bermasalah atau kecanduan dengan skala khusus.
Selain itu, video dikategorikan "disukai" hanya berdasarkan apakah peserta menontonnya sampai selesai. Cara tersebut belum tentu dapat membedakan preferensi sebenarnya dari rasa penasaran atau alasan lainnya.
Penelitian juga hanya mengukur kadar glutamat dan GABA di dACC, bukan dlPFC. Karena sifatnya korelasional, studi ini belum dapat memastikan apakah kadar glutamat menyebabkan perubahan aktivitas otak atau hanya berkaitan saja, dihimpun KompasTekno dari Rath Biota Clan, Minggu (23/8/2026).
Dengan demikian, temuan penelitian ini lebih tepat dipahami sebagai gambaran respons otak ketika seseorang menikmati video pendek, bukan bukti bahwa kebiasaan menonton video pendek secara langsung menyebabkan kerusakan fungsi otak.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT