Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Bandara Soekarno-Hatta Bencana Berita Featured Gempa Bumi Gunung Anak Krakatau Lintas Peristiwa Spesial

    Abu Anak Krakatau Bikin Bandara Soekarno-Hatta Ditutup, Kenapa Berbahaya buat Pesawat? - Kompas

    8 min read


    KOMPAS.com - Operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, ditutup sementara pada Minggu (6/9/2026) dini hari akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

    Penutupan dilakukan setelah paper test yang digelar di kawasan bandara pada pukul 00.35-01.05 WIB menunjukkan hasil positif adanya indikasi abu vulkanik. Berdasarkan NOTAM Nomor A3341/26, Bandara Soekarno-Hatta awalnya ditutup mulai pukul 01.30 hingga 05.30 WIB.

    Namun, penutupan kemudian diperpanjang hingga Senin pukul 08.59 WIB demi memastikan jalur penerbangan tetap aman dari paparan abu vulkanik.

    Baca juga: Video Pesawat Terdampak Abu Vulkanik Gunung Taal di Bandara Ninoy Aquino

    Sedikitnya 33 penerbangan dilaporkan terdampak, baik rute domestik maupun internasional. Sejumlah penerbangan mengalami pembatalan, penundaan, penjadwalan ulang, hingga pengalihan.

    Total 6 Bandara Ditutup akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau, Terbaru Husein Sastranegara Bandung

    Lantas, mengapa abu vulkanik bisa membuat sebuah bandara sebesar Soekarno-Hatta sampai harus ditutup? Seberapa berbahaya abu letusan gunung berapi bagi pesawat?

    Abu vulkanik bisa masuk ke mesin jet

    Bagi pesawat, abu vulkanik bukan sekadar debu biasa.

    Material ini terdiri atas partikel batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat kecil. Karena ringan, abu bisa terbawa angin hingga puluhan bahkan ratusan kilometer dari sumber erupsi dan mencapai ketinggian jelajah pesawat.

    Masalah menjadi serius ketika pesawat terbang memasuki awan abu vulkanik.

    Partikel tersebut bisa tersedot ke dalam mesin jet bersama udara yang dibutuhkan mesin untuk menghasilkan daya dorong.

    Di dalam mesin, temperatur dapat mencapai lebih dari 1.000 derajat Celsius. Pada suhu tinggi, sebagian material vulkanik dapat meleleh, lalu menempel pada bagian dalam mesin seperti bilah turbin.

    Endapan tersebut dapat menghambat aliran udara dan mengganggu kerja mesin.

    Dalam kondisi ekstrem, mesin pesawat bahkan dapat kehilangan daya atau mati.

    Fanblade (bilah kipas) milik mesin B747 British Airways BA09 yang rontok akibat menyedot abu vulkanik gunung Galunggung pada 1982 lalu.

    Lihat Foto

    Pernah bikin empat mesin Boeing 747 mati

    Salah satu insiden paling terkenal terjadi pada 24 Juni 1982.

    Pesawat Boeing 747-200 British Airways penerbangan BA009, dengan callsign Speedbird 9, sedang terbang dari Kuala Lumpur menuju Perth ketika tanpa disadari memasuki awan abu letusan Gunung Galunggung di Jawa Barat.

    Pesawat saat itu terbang pada ketinggian sekitar 37.000 kaki.

    Tak lama setelah memasuki awan abu, keempat mesin Boeing 747 tersebut mati satu per satu.

    Pesawat praktis berubah menjadi pesawat layang di udara.

    Kru kemudian menurunkan ketinggian sambil terus mencoba menghidupkan kembali mesin. Setelah keluar dari lapisan abu vulkanik dan mencapai udara yang lebih bersih, mesin akhirnya dapat dinyalakan kembali.

    Baca juga: Serunya Mendaki Gunung di Roblox, Bertemu Pocong, Jembatan Bolong, hingga Pemandangan Indah

    Pesawat kemudian mengalihkan penerbangan dan mendarat dengan selamat di bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

    Insiden tersebut kemudian menjadi salah satu contoh paling terkenal mengenai bahaya abu vulkanik bagi penerbangan komersial, dikutip KompasTekno dari The Guardian.

    Kaca kokpit bisa seperti diamplas

    Bahaya abu vulkanik tidak berhenti di mesin.

    Partikel vulkanik memiliki permukaan yang keras dan tajam. Ketika pesawat melaju dengan kecepatan ratusan kilometer per jam, tumbukan partikel tersebut bisa bekerja layaknya amplas.

    Kaca depan kokpit dapat tergores atau berubah menjadi buram sehingga mengurangi pandangan pilot.

    Permukaan pesawat, lampu, sensor, hingga bagian depan sayap juga dapat terkikis.

    Dalam konsentrasi tinggi, abu yang menempel pada badan dan sayap bahkan berpotensi mengubah karakteristik aliran udara di sekitar pesawat.

    Karena itu, pesawat yang diketahui atau diduga terbang melewati awan abu vulkanik biasanya harus menjalani pemeriksaan khusus sebelum kembali diterbangkan.

    Abu Anak Krakatau menyebar hingga Jakarta

    Kasus di Soekarno-Hatta kali ini terjadi setelah abu vulkanik dari aktivitas Anak Krakatau menyebar cukup jauh dari Selat Sunda.

    BMKG memantau sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menggunakan citra satelit. Produk pemantauan ini dibuat berdasarkan informasi aktivitas gunung berapi dari Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin.

    Berdasarkan informasi BMKG dan VAAC Darwin yang dihimpun pada Minggu pagi, abu vulkanik terpantau menyebar ke sejumlah wilayah Banten, Jawa Barat, hingga sebagian Jakarta.

    Pada lapisan dari permukaan hingga ketinggian sekitar 20.000 kaki, abu terpantau bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian Banten, Jakarta, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.

    Sementara pada lapisan yang lebih tinggi hingga sekitar 50.000 kaki, sebarannya terpantau menuju barat daya hingga barat laut, meliputi sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia.

    Ketinggian tersebut penting karena pesawat komersial umumnya terbang di kisaran puluhan ribu kaki.

    Artinya, abu vulkanik tidak hanya menjadi persoalan bagi aktivitas di permukaan, tetapi juga bisa bersinggungan dengan jalur penerbangan.

    Penumpang menunggu bagasi mereka karena sebagian besar penerbangan dibatalkan di Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (6/9/2026). Manajemen Bandara Soekarno-Hatta menutup sementara bandara, imbas dari aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

    Lihat Foto

    Kenapa bandara harus ditutup?

    Dalam penerbangan, tidak ada batas paparan abu vulkanik yang bisa dianggap sepenuhnya aman bagi mesin pesawat.

    Pilot juga sulit mengenali awan abu hanya dengan melihat dari kokpit, terutama pada malam hari atau ketika abu bercampur dengan awan biasa.

    Radar cuaca pesawat pun dirancang terutama untuk mendeteksi kelembapan dan hujan, bukan partikel abu vulkanik kering.

    Karena itu, ketika abu vulkanik terdeteksi di sekitar bandara atau jalur pendekatan pesawat, otoritas penerbangan dapat membatasi bahkan menghentikan sementara operasi.

    Baca juga: Bandara Soetta Ditutup hingga 09.30 WIB akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau

    Langkah tersebut bukan hanya berkaitan dengan pesawat yang sedang berada di udara.

    Saat lepas landas dan mendarat, mesin bekerja dengan daya tinggi. Jika terdapat abu di udara sekitar landasan, material tersebut berpotensi tersedot ke mesin dalam jumlah besar.

    Abu yang menumpuk di landasan juga dapat mengganggu visibilitas dan operasi darat.

    Dalam kasus Soekarno-Hatta, keputusan penutupan dilakukan setelah pengujian langsung menunjukkan indikasi abu vulkanik di kawasan bandara.

    Karena risiko inilah penerbangan biasanya baru dibuka kembali setelah otoritas memastikan kondisi udara dan area bandara sudah cukup aman.

    Penutupan Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu pagi sekaligus menunjukkan bahwa dampak erupsi gunung berapi tidak selalu berhenti di kawasan sekitar gunung.

    Dengan bantuan angin, abu berukuran mikroskopis dapat terbawa puluhan hingga ratusan kilometer, mencapai jalur penerbangan, dan pada akhirnya menghentikan sementara operasional salah satu bandara tersibuk di Indonesia.

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Komentar
    Additional JS