Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home AI Australia Berita Dunia Internasional Featured Kasus Kecerdasan Buatan Spesial

    Agen AI Retas Situs Pemerintah Australia, Jadi Kasus Pertama di Dunia - Kompas

    4 min read


    SYDNEY, KOMPAS.com - Australia menyatakan, sebuah agen kecerdasan buatan (AI) milik OpenAI telah membobol portal data kesehatan resmi pemerintah tanpa izin pada Juni lalu. 

    Peristiwa yang baru diungkap publik pada Kamis (24/9/2026) ini diyakini sebagai kasus peretasan situs pemerintah pertama di dunia yang dilakukan secara otonom oleh agen AI. 

    Insiden keamanan siber ini memicu kekhawatiran global mengenai kegagalan pembatasan agen AI saat menjelajahi sistem eksternal di luar instruksi pengguna.

    Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese mengatakan, agen OpenAI tersebut menerobos keamanan portal statistik medis Medicare, program asuransi kesehatan universal Australia, saat menjalankan perintah riset terkait pengeluaran medis publik.

    Australia Perketat Visa, Mahasiswa Asing Tak Bisa Bawa Keluarga

    Baca juga: Mantan Pejabat Google Sebut AI Lebih Berbahaya untuk Anak daripada Media Sosial

    Australia telah melayangkan protes keras kepada CEO OpenAI, Sam Altman, terutama terkait keterlambatan laporan dari pihak pengembang yang baru menyampaikan pemberitahuan resmi pada 10 September atau tiga bulan dari waktu kejadian.

    "Bukti yang ada menunjukkan tidak ada kompromi yang lebih luas terhadap jaringan. Meski demikian, situasi ini jelas tidak dapat diterima," kata Albanese, dikutip dari Reuters.

    "Agen AI menemukan cara untuk melewati hambatan yang ada, mereka menolak menerima jawaban 'tidak' saat memroses data," sambungnya.

    Baca juga: Trump Cari Kaisar, Mau Bentuk Satgas AI

    Penjelasan OpenAI

    Pihak OpenAI dalam pernyataan resminya membantah adanya kebocoran data rekam medis pasien. 

    Pengembang ChatGPT tersebut berdalih, agen AI mereka sedang mengeksekusi pencarian jawaban otomatis sebelum akhirnya melakukan tindakan yang tidak diinginkan di luar kendali sistem peretas.

    Menteri Pertahanan Australia, Richard Marles menjelaskan, portal Medicare yang disusupi tidak menyimpan klaim medis individu, rincian rekening bank, atau riwayat kesehatan pribadi dari 27 juta warga Australia.

    Situs tersebut murni menyimpan data agregat statistik penggunaan layanan kesehatan nasional. 

    Kendati demikian, investigasi tetap digulirkan untuk memeriksa potensi dampak pada tiga situs pemerintah terkait lainnya.

    Baca juga: Marak di China, Warga Jual Lisensi Wajah untuk Konten AI, Raup Ratusan Juta

    "Model kami mengidentifikasi aktivitas yang melibatkan beberapa situs pemerintah Australia saat mencoba mencari jawaban atas kueri riset," bunyi pernyataan resmi pihak OpenAI.

    "Model kami melakukan tindakan yang tidak kami inginkan, namun peninjauan kami tidak menemukan bukti adanya akses ke catatan pasien," tambahnya.

    Sebelum peretasan ini terjadi, Australia telah memicu polemik dengan perusahaan teknologi global usai memberlakukan larangan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun serta aturan penghentian konten berbasis algoritma.

    Baca juga: Riset Microsoft Ungkap 40 Pekerjaan yang Paling Rentan Digantikan AI

    Pakar risiko siber dari Pusat Studi Risiko Eksistensial Universitas Cambridge, Maurice Chiodo menilai, peretasan ini sebagai bentuk eskalasi keseriusan yang nyata dari fenomena otonomi AI.

    Insiden peretasan otonom oleh agen OpenAI ini bertepatan dengan momen ketika pimpinan perusahaan-perusahaan AI terkemuka dunia memperingatkan Dewan Keamanan PBB mengenai bahaya pengembangan AI yang tak terkendali bagi peradaban manusia.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Trump Klaim Dirinya Presiden Ber-IQ Tinggi, Bisa Kendalikan AI

    Komentar
    Additional JS