Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home AI Berita Bill Gates Featured Kecerdasan Buatan Spesial

    Bill Gates Kucurkan Rp 17,6 Triliun, demi Bikin AI Lebih Merakyat - Kompas

    6 min read

    KOMPAS.com - Bill Gates memperingatkan perusahaan teknologi dan para pemimpin dunia agar mereka segera bertindak.

    Ia mengimbau bos-bos teknologi agar kecerdasan buatan (AI) yang dibangun bisa benar-benar membantu mengatasi ketimpangan sosial, bukan malah memperdalamnya.

    Peringatan itu disampaikan pendiri Microsoft ini dalam laporan tahunan Goalkeepers milik Gates Foundation.

    Setiap tahunnya, yayasan milik Gates itu memantau perkembangan target pembangunan yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meningkatkan kualitas hidup manusia hingga 2030.

    Trump Klaim Dirinya Presiden Ber-IQ Tinggi, Bisa Kendalikan AI

    Bersamaan dengan laporan itu, Gates Foundation mengumumkan akan mengucurkan dana sebesar 1 miliar dolar AS (sekitar Rp 17,6 triliun) yang akan disalurkan selama dua tahun ke depan untuk berbagai upaya berbasis AI.

    Misalnya, untuk melatih model bahasa lokal, memperbaiki layanan kesehatan, meningkatkan alat bantu pendidikan, hingga membantu petani kecil di berbagai belahan dunia.

    Donasi besar ini diumumkan di tengah situasi yang tidak mudah bagi lembaga filantropi seperti Gates Foundation.

    CEO Gates Foundation, Mark Suzman, mengakui bahwa pemangkasan anggaran bantuan internasional oleh Amerika Serikat membuat periode ini menjadi masa yang cukup menantang.

    Baca juga: Bill Gates Usul Pajaki Perusahaan yang Pakai AI untuk Gantikan Manusia

    Meski begitu, ia menegaskan bahwa pihaknya belum menyerah dan akan terus mendorong Kongres serta pemerintahan Presiden Donald Trump agar kembali lebih berperan dalam isu bantuan luar negeri.

    Adapun laporan ini terbit tepat di tengah momen ketika sejumlah petinggi perusahaan AI terkemuka justru menyerukan agar industri memperlambat laju pengembangan teknologinya.

    Perdebatan ini kian menghangat setelah seorang mantan peneliti Anthropic mengundurkan diri karena khawatir para pengembang AI tidak bertindak cukup bertanggung jawab.

    Ini memunculkan kembali kekhawatiran soal potensi model AI yang kian canggih justru lepas dari kendali manusia.

    Gates sendiri tampaknya menangkap kegelisahan serupa.

    Dalam sebuah tulisan halaman situs pribadinya bulan lalu, ia menyebut AI berpotensi menjadi "pemerata terbesar" sekaligus bisa berubah menjadi "sumber ketidakadilan terburuk".

    Ia juga mengakui bahwa teknologi ini bisa disalahgunakan untuk penipuan, disinformasi, pengawasan ilegal, serangan siber, hingga bioterorisme.

    Namun berbeda dari banyak pihak yang lebih menyoroti sisi keamanan AI, Gates Foundation justru memilih fokus ke arah lain.

    Ia ingin mendemokratisasi manfaat teknologi ini ketimbang sekadar mendanai mekanisme pengamanannya. Sehingga AI bisa lebih merakyat dan membumi.

    Dalam tulisan blognya bulan lalu, Gates bahkan berjanji seluruh kegiatan yayasannya akan "memanfaatkan AI secara maksimal".

    Hal tersebut menjadikannya salah satu fokus utama dari anggaran terbesar sepanjang sejarah yayasan tahun ini.

    Gandeng OpenAI hingga Anthropic

    Salah satu wujud nyata dari fokus pemerataan ini terlihat dari perhatian khusus yang diberikan pada isu bahasa.

    Suzman menekankan bahwa agar AI benar-benar bisa mempercepat kemajuan, teknologi ini harus bisa bekerja dengan baik di seluruh bahasa lokal, bukan hanya bahasa Inggris dan sebagian bahasa Mandarin.

    Karena itu, yayasan ini turut mengumumkan dana sekitar 100 juta dolar AS untuk membantu membangun kumpulan data (dataset) dalam berbagai bahasa yang digunakan komunitas-komunitas yang selama ini kurang terlayani, sekaligus mencerminkan konteks lokal mereka.

    Untuk mewujudkan hal tersebut, Gates Foundation menggandeng sejumlah raksasa AI dalam berbagai inisiatif.

    Google.org bersama Microsoft AI for Good Lab membantu meluncurkan program pendanaan terbuka untuk proyek-proyek yang memperkuat kerangka kerja bagi ribuan bahasa yang kurang terwakili di Afrika.

    OpenAI turut berkomitmen mendanai 50 juta dolar AS bersama yayasan untuk melatih tenaga kesehatan di klinik-klinik Rwanda, sebagai bagian dari program percontohan yang menurut Suzman akan segera diperluas ke negara-negara Afrika lainnya.

    Sementara Anthropic bekerja sama dengan yayasan Gates untuk mempercepat pengembangan vaksin serta memperkaya basis data chatbot-nya terkait tanaman pangan lokal.

    Siapkan dana pendidikan hingga kesehatan

    Di luar kerja sama dengan perusahaan-perusahaan tersebut, pengumuman yayasan Bill Gate juga menjanjikan sejumlah dana tambahan sesuai sektornya.

    Baca juga: Bill Gates Ingin Ada Cagar Alam untuk Manusia di Era AI

    Sekitar 400 juta dollar AS untuk pendidikan, misalnya perangkat yang membantu guru menyusun ulang rencana pelajaran berdasarkan konsep yang paling sulit dipahami murid-muridnya.

    Sekitar 400 juta dollar AS juga dicanangkan untuk kesehatan, seperti alat yang membantu memeriksa ulang laporan klinis guna menangkap gejala yang mungkin terlewat.

    Dicanangkan pula sekitar 100 juta dollar AS untuk pertanian, seperti aplikasi yang memberi saran real-time kepada petani soal pola cuaca, pengendalian hama, dan penggunaan pupuk.

    Meski begitu, Suzman mengakui bahwa seluruh angka ini sebenarnya hanya "proporsi yang sangat kecil" dibanding miliaran dollar AS yang dibelanjakan raksasa teknologi untuk produk komersial mereka, dihimpun KompasTekno dari APNews.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS