Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Ilmu Pengetahuan IPTEK Spesial

    Bumi Berubah Bentuk Makin Bulat Sekaligus Gepeng, Ini Penyebabnya - detik

    3 min read

     

    Foto: Getty Images/iStockphoto/Elen11

    Jakarta -

    Bentuk Bumi ternyata tidak benar-benar tetap. Planet yang selama ini terlihat seperti bola dari luar angkasa itu perlahan mengalami perubahan bentuk. Menariknya, perubahan tersebut bisa membuat Bumi lebih bulat sekaligus lebih gepeng pada saat yang sama, tergantung bagaimana cara mengukurnya.

    Temuan ini berasal dari studi geolog Christopher Kotsakis dari Aristotle University of Thessaloniki, Yunani, yang menganalisis perubahan bentuk Bumi menggunakan data pergerakan vertikal permukaan dari jaringan satelit navigasi global.

    Hasilnya menunjukkan wilayah kutub Bumi semakin terangkat, sementara wilayah sekitar ekuator justru semakin turun. Akibatnya, bagian batuan padat Bumi menjadi sedikit kurang pepat di kutub dibandingkan sebelumnya.

    Bumi sejak awal memang tidak berbentuk bola sempurna. Rotasinya membuat planet ini sedikit menggembung di ekuator dan pepat di kutub. Namun, bentuk tersebut terus berubah karena massa di permukaan Bumi tidak pernah benar-benar diam.

    Salah satu faktor yang kini mendapat perhatian adalah mencairnya lapisan es di Greenland dan Antarktika. Ketika es dalam jumlah sangat besar mencair, beban yang selama ini menekan kerak Bumi di bawahnya berkurang. Daratan kemudian perlahan terangkat kembali. Proses ini dikenal sebagai glacial isostatic adjustment.

    Studi Kotsakis menggunakan data Global Navigation Satellite System (GNSS) dari 1997 hingga 2015 untuk melihat perubahan vertikal permukaan Bumi di berbagai wilayah. Hasilnya cukup mencolok.

    Pada periode 1997-2000, wilayah kutub rata-rata terangkat sekitar 0,5 milimeter per tahun. Pada 2015, lajunya telah meningkat menjadi sekitar 1 milimeter per tahun. Dengan kata lain, laju pengangkatan kutub kira-kira berlipat ganda dalam periode kurang dari dua dekade. Pada saat yang sama, wilayah ekuator mengalami penurunan dengan laju yang juga meningkat.

    "Hasil kami menunjukkan percepatan pengangkatan kutub yang disertai peningkatan laju penurunan ekuator yang sebanding," Kotsakis menulis, seperti dikutip dari Science Alert.

    "Ini berarti bentuk keseluruhan Bumi padat menjadi sedikit kurang pepat," ia kemudian menyimpulkan.

    Artinya, jika yang diukur adalah bentuk batuan padat Bumi, planet ini justru perlahan menjadi lebih mendekati wujud bola. Di sinilah bagian yang terlihat bertentangan.

    Para ilmuwan juga mengukur geoid, yakni gambaran bentuk medan gravitasi Bumi yang dipengaruhi oleh bagaimana massa tersebar di seluruh planet. Geoid tidak sama dengan bentuk fisik permukaan Bumi.

    Ketika es kutub mencair, tanah di bawahnya kehilangan beban sehingga naik. Tetapi air hasil pencairan es tidak menghilang. Air tersebut masuk ke lautan dan sebagian besar tersebar menuju lintang yang lebih rendah.

    Perpindahan massa air ini menambah beban di wilayah lain dan membuat dasar laut mengalami penurunan. Akibatnya, ada dua perubahan yang berjalan bersamaan.

    Batuan padat di sekitar kutub terangkat dan bagian ekuator turun, sehingga Bumi secara geometris menjadi sedikit kurang pepat. Namun, dari sudut pandang gravitasi, perpindahan massa air dari kutub menuju lintang yang lebih rendah membuat geoid justru menjadi lebih pepat.

    "Meskipun perilaku ini tampak berlawanan dengan berkurangnya kepipihan Bumi padat secara bersamaan, kedua efek tersebut secara fisik dapat terjadi secara bersamaan," ujar Kotsakis.

    Perubahan ini tentu sangat kecil dan tidak akan membuat manusia bisa melihat Bumi berubah bentuk dengan mata telanjang. Namun, pergerakan sepersekian milimeter tetap penting bagi ilmu kebumian karena menunjukkan bagaimana planet merespons perubahan distribusi es dan air.

    Studi ini juga menunjukkan bahwa untuk memahami perubahan bentuk Bumi, ilmuwan tidak cukup hanya melihat permukaannya. Mereka perlu menggabungkan data pergerakan kerak dengan pengukuran medan gravitasi. Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan di Journal of Geophysical Research: Solid Earth.

    Saksikan Live DetikSore :

    (rns/rns)

    Komentar
    Additional JS