Hampir 10 Tahun Mengarungi Antariksa, BepiColombo Kian Dekat ke Merkurius - Kompas TV
Kompas.tv - 3 September 2026, 22:56 WIB

FLORIDA, KOMPAS.TV - Dua wahana antariksa gabungan Eropa dan Jepang dalam misi BepiColombo berhasil terpisah dari wahana pengangkutnya pada Kamis (3/9/2026).
Pemisahan tersebut menjadi salah satu tahapan penting sebelum misi memasuki fase akhir perjalanan menuju Merkurius setelah hampir satu dekade mengarungi antariksa.
Pemisahan berlangsung ketika BepiColombo masih berjarak sekitar 3,3 juta kilometer dari Merkurius.
Baca Juga: Penampakan Gerhana Matahari dari Luar Angkasa, Diabadikan Kru Artemis II NASA
Tim pengendali di Pusat Kendali Badan Antariksa Eropa (ESA) di Jerman harus menunggu sekitar dua jam sebelum menerima konfirmasi melalui sinyal radio bahwa operasi berlangsung sesuai rencana.
Saat itu, wahana berada lebih dari 200 juta kilometer dari pusat kendali di Bumi.
"Ini adalah momen yang sangat baik," kata ilmuwan utama proyek BepiColombo, Geraint Jones, dikutip dari Associated Press.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, BepiColombo akan memasuki orbit Merkurius pada November.
Selanjutnya, pada Desember, dua wahana antariksa tersebut akan berpisah dan mempelajari Merkurius dari ketinggian orbit yang berbeda.
Keduanya akan digunakan untuk memetakan dan meneliti planet terkecil sekaligus planet yang paling dekat dengan Matahari tersebut.
Tempuh 10 Miliar Kilometer Menuju Merkurius
BepiColombo diluncurkan pada 2018 dan telah menempuh perjalanan lebih dari 10 miliar kilometer melalui rute memutar menuju Merkurius.
Baca Juga: Rusia Diyakini Bangun Senjata Nuklir Anti-Satelit di Angkasa Luar, Jenderal AS Beri Peringatan
Wahana ini membutuhkan sembilan kali flyby planet untuk mengurangi energinya hingga cukup rendah agar dapat ditangkap oleh gravitasi Merkurius. Flyby terakhir dilakukan pada Januari 2025.
Manuver tersebut menghasilkan foto-foto Merkurius yang memperlihatkan kawah akibat tumbukan serta dataran vulkanik di permukaan planet.
Nama BepiColombo diambil dari nama matematikawan Italia yang turut berkontribusi dalam misi Mariner 10 milik NASA ke Merkurius pada dekade 1970-an.
Sebelum BepiColombo, hanya satu wahana antariksa lain, yakni Messenger milik NASA, yang telah menjelajahi Merkurius.
"Betapa kecilnya Merkurius, namun planet ini menyimpan beberapa misteri terbesar di tata surya kita," ujar Manajer Misi BepiColombo, Santa Martinez.
Hadapi Suhu hingga 427 Derajat Celsius
Perjalanan menuju Merkurius menjadi tantangan tersendiri karena planet tersebut berada sangat dekat dengan Matahari.
Suhu di Merkurius dapat mencapai sekitar 427 derajat Celsius. Namun, kondisi ekstrem tersebut kontras dengan wilayah kutubnya.
Baca Juga: Detik-Detik 3 Astronaut China Kembali ke Bumi Setelah 7 Bulan di Luar Angkasa
Kawah-kawah dalam yang berada dalam bayangan permanen di wilayah tersebut memiliki suhu sangat dingin dan diperkirakan menyimpan es.
Karena kondisi lingkungan yang ekstrem, para insinyur harus merancang BepiColombo agar mampu bertahan dari paparan panas selama menjalankan misinya.
Kepala Operasi Misi ESA, Ignacio Tanco, menggambarkan kondisi tersebut sebagai lingkungan yang "sangat berat".
"Ini pada dasarnya seperti beroperasi dengan oven pizza yang sangat panas tepat di punggung Anda," ujar Tanco.
Setelah memasuki orbit Merkurius, pengamatan ilmiah dijadwalkan mulai berlangsung pada musim semi mendatang.
Rangkaian instrumen ilmiah pada kedua wahana akan digunakan untuk mempelajari medan magnet Merkurius, struktur bagian dalam planet yang memiliki kepadatan tinggi, serta proses geologi di permukaannya.
Penelitian juga akan mencakup hollows, yakni cekungan di permukaan Merkurius yang diduga terbentuk dan terus terkikis akibat mineral pada batuan menguap.
Misi BepiColombo diperkirakan menelan biaya sekitar 2 miliar dolar AS atau 1,7 miliar euro, dengan sebagian besar biaya ditanggung oleh Badan Antariksa Eropa.
Baca Juga: Detik-Detik Teleskop Roman Nasa Meluncur ke Luar Angkasa
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Sumber : Associated Press