Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Bisnis Featured Internet Spesial

    Kisah Pengusaha Rengginang di Sumberpucung Malang, dari Jualan Keliling hingga Tembus Pasar Digital - Tribunnews

    8 min read


    Surya Malang/Luluul Isnainiyah A-A+ RENGGINANG - Mohamad Azmi, pengusaha rengginang asal Desa Sambigede, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jumat (25/9/2026). Di era digital, ia memanfaatkan marketplace untuk memasarkan produk rengginangnya hingga ke seluruh Indonesia. 
    Ringkasan Berita:
    • Kisah Mohamad Azmi menekuni usaha rengginang di Desa Sambigede, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang
    • Sebelum terjun di usaha ini, ia pernah bekerja sebagai kuli bangunan, pencari pasir, hingga pernah bekerja di luar negeri sebagai awak kapal
    • Di era digital, ia memanfaatkan marketplace untuk memasarkan produk rengginangnya hingga ke seluruh Indonesia

    SURYAMALANG.COM, KABUPATEN MALANG - Mohamad Azmi, tekun melakoni usaha rengginang di Desa Sambigede, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang.

    Di era digital, ia memanfaatkan marketplace untuk memasarkan produk rengginangnya hingga ke seluruh Indonesia.

    Usaha milik Azmi masih di skala industri rumahan. Setiap hari, ia memproduksi rengginang di rumah.

    Mulai dari proses mengolah beras ketan yang masih mentah hingga proses pengepakan.

    Saat ditemui SURYAMALANG.COM di rumahnya, Jumat (25/9/2026), terlihat Azmi sedang mengecek rengginang yang dijemur di tatakan bambu di teras rumahnya.

    Pengecekan ini dilakukan untuk memastikan rengginang sudah kering.

    Di sisi lain, terlihat sejumlah karyawan Azmi tengah mengangkat papan kayu rengginang yang sudah kering.

    Papan tersebut dikumpulkan untuk proses pengepakan yang dilakukan secara manual.

    Baca juga: Mantan Koki Kapal Jadi Juragan Rengginang di Malang, Kisah Azmi Sukses Kembangkan Bisnis Digital

    Azmi menjelaskan, mulai menggeluti usaha cemilan berbahan dasar beras ketan itu sejak 2022 silam.

    Sebelum terjun di usaha ini, ia pernah bekerja sebagai kuli bangunan, pencari pasir, hingga pernah bekerja di luar negeri sebagai awak kapal.

    "Dulu setelah pulang dari luar negeri kan nganggur. Lama-lama ya sungkan sama tetangga."

    "Mertua kan lebih dulu buka usaha ini, terus saya diajak untuk ikut jualan rengginang. Awalnya sempat nggak mau," kata pria berusia 36 tahun itu.

    Kurang lebih di 2002, Azmi mulai bekerja dengan menawarkan rengginang ke toko. Ia harus berkeliling dari toko ke toko menggunakan sepeda motor.

    Tak hanya di area Malang, ia juga menawarkan produk tersebut sampai ke Blitar hingga Pasuruan.

    Ia merasakan jika pemasaran rengginang dari toko ke toko kurang efisien. Sebab, toko hanya mengambil rengginang satu sampai lima bungkus saja.

    Dari sini, ia mulai memikirkan bagaimana teknik penjualan agar efisien dan banyak pembeli.

    Baca juga: Jalur Blitar-Malang Macet, Truk Gandeng Muatan Tebu Terguling di Selorejo Diduga Rem Blong

    Pada 2023, ia mulai mempelajari bagaimana cara menjual rengginang melalui marketplace.

    Di situ lah langkah awal Azmi menjual melalui Shopee maupun TikTok agar produk Rengginang Kencana bisa dikenal lebih luas oleh masyarakat.

    "Setelah kenal dunia per-online-an, alhamdulilah banyak orderan."

    "Beberapa bulan lalu pihak Shopee sempat ke sini, karena rengginang saya merupakan produk nomor satu se-Indonesia yang banyak dijual," jelasnya.

    Selain itu, ia juga menjalankan pemasaran secara affiliate di TikTok.

    Affiliate merupakan metode pemasaran dengan memberikan komisi dan sampel ke orang yang mempromosikan dagangannya.

    Menurutnya penjualan melalui marketplace lebih mudah laku dibanding dengan online.

    Sehari kurang lebih ada 80 sampai 100 resi penjualan baik itu dari Shopee maupun TikTok.

    Sementara dari segi harga ada perbedaan. Dijelaskan Azmi satu bungkus rengginang seberat 300 gram jika dijual di online seharga Rp 24.000.

    Sedangkan, di offline dengan minimal order dijual mulai dari Rp 13.000.

    "Di offline kan kami mainnya minimal order. Kalau di online kan ada pajaknya gede, jadi kami jualnya lebih mahal lagi," tuturnya.

    Baca juga: Kepala SMPN 18 Kota Malang Dilaporkan ke Polisi dan Terancam Kena Sanksi, Kasus Kekerasan di Sekolah

    Sejauh ini, Azmi telah mengaryakan tujuh orang karyawan.

    Mereka merupakan tetangga di sekitar rumahnya. Namun, beberapa akhir ini penjualan rengginang sedikit lesu. Permintaan tidak seramai saat momen Ramadan.

    Di momen Ramadan, Azmi mampu memproduksi rengginang sekitar lima sampai tujuh ton.

    Sementara, di hari-hari biasa ia hanya memproduksi sebanyak 50 kilogram per hari atau 1,5 ton per bulan.

    "Biasanya Ramadan itu sampai ngambil di saudara, orang lain, karena memang banyak permintaan. Apalagi penjualan di online," tandasnya.

    Saat ini, Azmi mengeluhkan harga beras ketan cenderung naik.

    Sedangkan ia berkeinginan untuk mencari penyuplai bahan baku dari luar kota namun terkendala modal.

    Sekarang harga beras ketan Rp 22.500 sampai Rp 23.000 per kilogram jika dibeli secara grosir.

    Sedangkan pada bulan puasa lalu, harga masih Rp 20.000 per kilogram.

    Dengan harga bahan baku yang terus melonjak, Azmi kesulitan untuk menaikkan harga jual rengginang.

    Sedangkan, ia juga berkeinginan untuk mengembangkan produksinya. Namun ia menyampaikan terkendala oleh modal.

    "Saya kan mulai dari nol, saat ini terus terang terkendala modal. Apalagi saya pernah tanya ke bank untuk pengajuan pinjaman, tapi yang dijaminkan itu nggak ada," pungkasnya.

    Baca juga: Kuliner Ekstrem di Kota Batu Sajikan Menu Rica-rica Biawak yang Teksturnya Mirip Daging Ayam

    Komentar
    Additional JS