Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Aplikasi Berita Featured Internet Oxford University Spesial WhatsApp

    Oxford Meneliti Kebiasaan Kirim Selamat Pagi di WhatsApp di India - Kompas

    10 min read

     


    KOMPAS.com - Kebiasaan warga India mengirim gambar ucapan "selamat pagi" lewat WhatsApp tiap pagi ternyata pernah diteliti oleh antropolog Universitas Oxford.

    Hasil risetnya terbit dengan judul "Good morning! Memes and the visual economy of images in contemporary India". Tulisan itu dimuat di Journal of the Anthropological Society of Oxford Online volume XIV tahun 2022.

    Penulisnya adalah Marcus Banks dari Institute of Social and Cultural Anthropology, Universitas Oxford. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh antropologi visual.

    Baca juga: Jutaan HP Android Hang Gara-gara Stiker “Selamat Pagi” di WhatsApp

    Riset lapangannya berlangsung pada 2017 di Jamnagar, kota di Gujarat, India barat. Narasumbernya sebagian besar pria berusia 50 hingga 70 tahun, kebanyakan pedagang kain yang sudah ia kenal sejak 1980-an.

    Banks meninggal dunia pada Oktober 2020. Tulisan tersebut terbit setelah ia wafat, disunting dari beberapa dokumen dan slide presentasi yang ditinggalkannya.

    Proyek ini sebetulnya hanya kebetulan. Awalnya, Banks datang ke Jamnagar untuk meneliti reaksi warga terhadap foto-foto kota itu dari era 1920-an, serta foto-foto yang ia potret sendiri pada 1980-an dan 1990-an.

    Baca juga: Perusahaan Bimbel Online Bangkrut gara-gara ChatGPT

    Rencana itu tidak berjalan mulus. Foto-foto lama tersebut gagal memancing minat narasumbernya.

    Banks lalu mengubah rencana. Ia mulai mewawancarai orang soal isi galeri ponsel mereka dan mengamati bagaimana kamera ponsel dipakai.

    Temuan pertamanya cukup mengejutkan. Hampir tak satu pun narasumber lanjut usia itu memotret sendiri foto-foto yang ada di galeri ponselnya. Dari situlah Banks menemukan meme selamat pagi yang tiap hari mampir ke ponsel mereka.

    Baca juga: Threads Sesumbar Dapat 1 Juta Pengguna Baru Tiap Hari

    Sosok yang paling banyak dibahas dalam studi itu adalah Rajesh, pria berusia 63 tahun.

    Rajesh memegang dua smartphone Satu khusus untuk keluarga dan teman dekat, satu lagi untuk browsing internet.

    Tiap malam sepulang kerja, ia berburu meme inspiratif lewat Google+. Gambar itu ia bubuhi komentar pendek, lalu ia sebarkan ke Facebook dan kontak WhatsApp.

    Baca juga: Sejarah Anker, Produsen Aksesori Gadget Bikinan Mantan Karyawan Google

    Jumlahnya konsisten. Rajesh mengirim sekitar 10 meme setiap hari dan menerima enam sampai tujuh kiriman serupa.

    Ia juga berteman dengan sejumlah perempuan di Rumania yang tidak pernah ia temui. Gambar-gambar kiriman mereka ia teruskan lagi ke kontaknya.

    Ketika ditanya alasannya, Rajesh menjawab singkat. Ia hanya suka melakukannya.

    Baca juga: Begini Rutinitas Tak Biasa Jeff Bezos yang Bikin Otak Cemerlang

    Banks lebih tertarik pada satu hal, yakni ketulusan di balik kiriman-kiriman itu.

    Ia sempat mendesak Rajesh soal pilihan gambarnya. Rajesh menegaskan semua gambar yang ia kirim itu saachun, kata bahasa Gujarat untuk "benar".

    Padahal foto-foto tersebut jelas hasil editan. Bagi Rajesh, kebenaran itu bukan soal isi fotonya, melainkan soal perasaan yang diwakilinya.

    Baca juga: Wajib Tonton, Video Jensen Huang 14 Tahun Lalu soal "Blueprint" Nvidia di Era AI

    Dari situ Banks menarik kesimpulannya. Meme selamat pagi terasa hambar justru karena ada di mana-mana, tetapi pengirim dan penerimanya sama-sama menganggapnya tulus.

    Studi itu juga menemukan tekanan sosial di baliknya.

    Salah satu narasumber, Kishor, berusia 50-an dan hanya memakai ponsel fitur. Akibatnya ia tidak bisa memasang WhatsApp dan tidak bisa ikut grup chat keluarga.

    Rajesh, sepupunya yang lebih tua, mengkritik hal tersebut. Bagi Rajesh, justru teknologi baru itulah yang membuat tradisi menjaga hubungan kekerabatan tetap hidup.

    Media India kala itu ramai memberitakan sisi sebaliknya. Banyak laporan menyebut warga berusia di atas 60 tahun "kecanduan" WhatsApp, sampai anak-anak mereka berupaya melepaskan kebiasaan itu.

    Baca juga: Inilah 8 Penyakit Mental Gen Z, Brain Fry hingga Imposter Syndrome

    Sampai bikin ponsel hang

    Masifnya ucapan selamat pagi inilah yang kemudian jadi masalah teknis.

    Banks mencatat jutaan gambar diunduh dan diteruskan di India antara matahari terbit dan pukul 08.00. Jumlah sebesar itu membuat ponsel hang dan membebani server Google.

    Survei Western Digital pada 2016 menemukan satu dari tiga perangkat Android di India kehabisan memori penyimpanan setiap hari. Di Amerika Serikat, angkanya hanya satu dari sepuluh perangkat.

    Baca juga: Komputer Nvidia Tak Laku, Dibeli Elon Musk dan Revolusi AI Dimulai

    Penyebabnya sederhana. WhatsApp mengunduh media secara otomatis sebagai pengaturan bawaan, sehingga kiriman langsung menumpuk di memori penerima tanpa perlu dibuka.

    Google lalu meluncurkan aplikasi pembersih memori bernama Files Go di New Delhi pada Desember 2017. Perusahaan itu menyebut aplikasinya rata-rata membebaskan lebih dari 1 GB ruang penyimpanan per pengguna.

    Nama Files Go kini sudah tidak dipakai. Google mengubahnya menjadi Files by Google pada November 2018, lalu aplikasi itu menembus 5 miliar unduhan pada Januari 2025, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari 9to5Google.

    Baca juga: 3 Fitur Baru WhatsApp agar Akun Tak Mudah Dibajak dan Terhindar dari Penipuan

    Tradisi berlanjut

    Delapan tahun setelah riset lapangan Banks, kebiasaan tersebut masih berjalan.

    Canva, platform desain asal Australia, memasang konten ucapan selamat pagi sebagai salah satu materi lokalisasi utamanya untuk pasar India.

    Country Manager Canva India, Chandrika Deb, menyebut ucapan selamat pagi dan ucapan hari raya sebagai contoh konten yang paling banyak dicari pengguna di sana.

    Baca juga: Dari Terabaikan Jadi Vital, Ini Kisah Simbol “@” yang Penting di Era Digital

    India kini pasar terbesar keempat bagi Canva. Pengguna di negara itu sudah membuat sekitar 2,8 miliar desain, dengan 2,5 juta desain baru lahir tiap hari, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Forbes India.

    Jumlah penggunanya pun jauh membengkak. Saat Banks meneliti pada 2017, WhatsApp mencatat sekitar 200 juta akun aktif di India.

    Meta menyebut angkanya kini melampaui 500 juta pengguna. India pun menjadi pasar terbesar untuk pemakaian Meta AI, sebagaimana disampaikan Chief Financial Officer Meta, Susan Li, dalam paparan kinerja kuartal kedua 2024.

    Baca juga: Trik WhatsApp Ini Bisa Bikin Hemat Memori HP

    Kini jauh lebih lega

    Yang berubah paling drastis adalah kapasitas memori perangkatnya.

    Menurut riset Cyber Media Research (CMR), ponsel dengan storage 128 GB sudah menjadi standar bawaan di India. Pangsanya bergerak dari 47 persen pada kuartal pertama 2023 (Q1 2023) ke 54 persen pada Q1 2026.

    Ponsel 256 GB naik lebih tajam, dari 7 persen menjadi 28 persen pada periode yang sama. Sebaliknya, pangsa ponsel 64 GB susut dari 26 persen ke 12 persen.

    Baca juga: Sangat Populer di Medsos, Siapa Sangka Meme Ini Menyimpan Duka di Baliknya

    Ponsel 32 GB praktis lenyap dari pasar India setelah 2024.

    WhatsApp juga menambah rem sendiri. Sejak November 2020, ada menu Manage Storage yang mengelompokkan file besar dan media yang sering diteruskan, lalu mengurutkannya dari yang paling gemuk.

    Pengunduhan otomatis bisa dimatikan lewat menu Settings > Storage and data. Foto dan video baru akan turun ke memori jika penerimanya benar-benar mengetuk file tersebut.

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Komentar
    Additional JS