Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Internet Mark Zuckerberg Media Sosial Spesial Threads Twitter X

    Punya Threads, Kenapa Zuckerberg Malah Aktif Lagi di X? - Kompas

    5 min read

     

    KOMPAS.com - Bos Meta, Mark Zuckerberg, kembali aktif memposting di X (dulu Twitter) usai vakum selama tiga tahun.

    Ia pertama kali kembali memposting di platform milik Elon Musk itu untuk mengumumkan model AI Muse Spark 1.1, yang ditujukan bagi kalangan pengembang. Sejak itu, ia rutin memposting di platform tersebut.

    Vakum tiga tahun itu terhitung sejak 5 Juli 2023. Postingan terakhirnya di X saat itu berupa meme dua tokoh Spider-Man yang saling menunjuk.

    Postingan itu muncul bertepatan dengan momen peluncuran Threads, aplikasi media sosial berbasis teks besutan Meta yang dirancang sebagai kompetitor langsung X.

    Pertarungan Politik di Tengah Kebangkitan AfD

    Postingan terbarunya di X terjadi pada 9 September 2026, saat ia memperkenalkan Muse. Ini agen AI personal Meta yang diklaim bekerja 24 jam untuk membantu penggunanya menyelesaikan berbagai urusan.

    Baca juga: Band Muse Kehilangan Handle @muse, Diambil Alih Agen AI Meta

    Sekitar waktu peluncuran Muse itu, Zuckerberg tampil sebagai bintang tamu podcast "Sources" yang dipandu jurnalis Alex Heath.

    Dalam wawancara itu, ia ditanya kenapa repot-repot memposting ulang unggahannya di X. Padahal Meta punya Threads, jawaban langsung atas platform Musk itu, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Times of India.

    Menjangkau kelompok lebih luas

    Zuckerberg menjawab, alasannya bukan sekadar promosi pribadi. Menurut dia, keputusan ini soal menjangkau talenta rekayasa (engineering) dan periset tertentu. Kalangan inilah, komunitas peneliti dan insinyur AI, yang disebutnya masih banyak berkumpul di X.

    Ilustrasi Elon Musk ganti nama Twitter jadi X

    Lihat Foto

    Ia membela keputusannya mempertahankan kehadiran aktif di berbagai kanal digital sekaligus. Menurut dia, audiens yang berbeda-beda cenderung mengelompok di ruang daring yang berbeda pula.

    Sebagian besar komunitas pembelajaran mesin (machine learning) dan riset, kata dia, masih berkumpul terutama di X. Itu sebabnya Meta merasa perlu tetap hadir di sana.

    "Begini, ada komunitas-komunitas berbeda di tempat yang berbeda-beda. Banyak orang AI yang ada di X, dan menurut saya, sebagian dari yang perlu kamu lakukan di media sosial itu cuma berkomunikasi di tempat orang-orang berada," ujar Zuckerberg.

    "Ini agak mirip kalau kamu bikin podcast, atau saat kamu memposting sesuatu, biasanya kamu taruh dulu di satu tempat, baru sebarkan ke mana-mana. Jadi saya dorong konten yang sama di Threads dan X, dan sebagian orang bilang, 'kenapa sih kamu posting ini di X?'" lanjut Zuckerberg.

    Meski menegaskan Threads sedang berkembang pesat, Zuckerberg mengakui banyak orang bingung kenapa dia tetap memposting di layanan milik Musk itu.

    "Ini semacam, kalau saya dorong kontennya di sana [Threads], saya juga bakal terlibat di sana [X]. Jadi menurut saya semuanya baik-baik saja, tapi saya memang berpikir, sampai taraf tertentu, sebagian komunitas itu ada di X, dan kami ingin bisa terlibat di tempat orang-orang berada," imbuhnya.

    Comeback Zuckerberg di X pada dasarnya jadi pengeras suara untuk mempromosikan peluncuran produk-produk AI Meta sepanjang tahun ini. Perusahaan memang gencar mempromosikan model-model AI-nya ke kalangan pengembang maupun calon pelanggan konsumen biasa.

    Soal Muse Spark dan Muse, dua produk beda

    Perlu dicatat, Muse Spark 1.1 dan Muse adalah dua produk berbeda, meski sama-sama buatan Meta dan sama-sama memakai nama "Muse". Muse Spark 1.1 adalah model AI untuk tugas coding dan tugas yang bisa dikerjakan AI secara mandiri (agentic). Model ini dipakai para pengembang aplikasi lewat Meta Model API.

    Sementara itu, Muse yang diperkenalkan lewat postingan 9 September 2026 adalah agen AI personal untuk konsumen umum. Produk ini dirancang memahami tujuan penggunanya, lalu bekerja secara mandiri menyelesaikan berbagai tugas atas nama pengguna tersebut.

    Zuckerberg menyebut Muse dirancang untuk memberi setiap orang di dunia akses ke agen personal yang sangat mumpuni. Meta disebut menawarkan akses gratis sampai 100 juta token per minggu untuk mendorong adopsi awal produk ini.

    Soal keamanan dan privasi, Meta mengeklaim telah merekrut salah satu pendiri aplikasi pesan terenkripsi Signal untuk membangun mesin virtual rahasia (private virtual machine) bagi Muse.

    Model bisnis Muse sendiri disebut berbasis transaksi per penggunaan, bukan skema langganan di muka.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS