Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Cybersecurity Info9 Inovasi Juara Keamanan Digital Makassar NASA

    Santri Makassar Temukan Celah Keamanan NASA, Belajar Cybersecurity di Sela Hafalan Alquran - Tribunnews

    6 min read

     

    Tribun Timur/Makmur A-A+ JEBOL NASA - Muhammad Al Hindawi saat ditemui di Kampus II Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Imam Ashim, Jalan Inspeksi Kanal, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (18/9/2026). ‎Santri kelahiran Bone, 7 Agustus 2007 itu berhasil menemukan celah keamanan website NASA. 

    TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Muhammad Al Hindawi, santri kelas 12 Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Imam Ashim Makassar, mendapat pengakuan dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

    Al Hindawan menjadi orang kedua tahun setelah siswa SMA Negeri 1 Pinrang Muhammad Syahrir Hamdani kembali berhasil mendapatkan sertifikat penghargaan internasional dari lembaga antariksa dunia NASA, Juli 2026.

    Siswa berprestasi tersebut duduk di bangku kelas tiga SMA Negeri 1 Pinrang.

    Santri kelahiran Kabupaten Bone, 7 Agustus 2007 itu menemukan dan melaporkan dua celah keamanan pada sistem digital NASA.

    Temuan tersebut dilaporkan melalui program resmi Vulnerability Disclosure Program (VDP) di platform Bugcrowd.

    Laporan Al Hindawi kemudian divalidasi oleh tim keamanan NASA.

    Atas kontribusinya, NASA memberikan Letter of Recognition (LoR) kepada Al Hindawi.

    Temuan tersebut menjadi pencapaian tersendiri bagi Al Hindawi yang mempelajari keamanan siber secara otodidak.

    Ia mulai serius mendalami cybersecurity sekitar empat hingga lima bulan sebelum temuannya pada sistem NASA.

    Al Hindawi belajar dari berbagai tutorial di YouTube dan membaca laporan penelitian keamanan siber yang dipublikasikan peneliti lain melalui Bugcrowd.

    Baca juga: Syahrir Hamdani Siswa SMAN 1 Pinrang Bobol Domain NASA Dapat Penghargaan Internasional

    “Saat melakukan pemetaan, awal mulanya saya menggunakan Subfinder untuk mengumpulkan subdomain, lalu mengecek status response code-nya menggunakan httpx,” kata Al Hindawi.

    Menurutnya, proses tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi sistem yang berpotensi memiliki kerentanan.

    Dari proses tersebut, ia kemudian menemukan celah keamanan pada sistem NASA dan melaporkannya melalui mekanisme resmi.

    Sebelum menguji sistem NASA, Al Hindawi lebih dulu mempelajari keamanan website di lingkungan pesantrennya.

    Ia juga mengembangkan aplikasi absensi santri yang digunakan di Pondok Pesantren Al-Imam Ashim.

    “Awalnya mulai tertarik itu 2025. Saya tertarik mempelajari website karena bisa mempermudah pekerjaan kita,” ujarnya saat ditemui di Kampus II Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an Al-Imam Ashim, Jalan Inspeksi Kanal, Makassar, Jumat (18/9/2026).

    Ketertarikannya terhadap cybersecurity berkembang setelah ia mempelajari cara mengamankan website dari potensi serangan.

    “Kita sebagai developer harus mengamankan website kita, agar menjaga kepercayaan pelanggan kita,” katanya.

    Temukan Celah University of Melbourne

    Selain NASA, Al Hindawi juga menemukan satu kerentanan pada sistem University of Melbourne, Australia.

    Temuan tersebut turut dilaporkan melalui mekanisme resmi dan kemudian mendapatkan validasi dari tim keamanan universitas.

    Al Hindawi mengatakan pengalaman tersebut membuatnya semakin tertarik memperdalam keamanan siber.

    Ia mempelajari berbagai materi secara mandiri dengan memanfaatkan sumber pembelajaran yang tersedia di internet.

    Menurutnya, kemampuan cybersecurity tidak hanya berkaitan dengan mencari celah keamanan.

    Kemampuan tersebut juga diperlukan untuk memahami bagaimana sebuah sistem dapat dilindungi dari serangan.

    Aktivitas Al Hindawi sebagai santri membuat waktu belajarnya terbatas.

    Senin hingga Jumat, ia mengikuti kegiatan sekolah sekaligus menghafal Al-Qur'an.

    Ia memanfaatkan waktu istirahat untuk mempelajari pemrograman dan keamanan siber.

    “Saya belajar di waktu istirahat. Kita di pondok padat, kita harus betul-betul memanajemen waktu,” ucapnya.

    Waktu belajar lebih panjang ia gunakan pada Sabtu dan Minggu ketika aktivitas sekolah lebih longgar.

    Saat menemukan celah pada sistem NASA, Al Hindawi mengaku menggunakan waktu tersebut untuk fokus melakukan penelitian keamanan.

    Pencapaian tersebut tidak membuatnya berhenti belajar.

    Ia justru ingin memperdalam bidang teknologi dan kecerdasan buatan setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren.

    Ingin Kuliah AI Engineering

    Al Hindawi memiliki rencana melanjutkan pendidikan tinggi dengan mengambil bidang AI Engineering.

    Ia tertarik melanjutkan pendidikan di China karena melihat perkembangan teknologi kecerdasan buatan dan robotika di negara tersebut.

    “Saya memilih China karena kita lihat perkembangan tercepat AI dan robotik itu di China,” katanya.

    Ia juga memiliki gagasan mengembangkan kecerdasan buatan yang dapat membantu santri mencari referensi keislaman.

    Menurutnya, teknologi tersebut dapat membantu pengguna menemukan rujukan dari buku dan kitab ulama dengan lebih mudah.

    “Sekarang itu, kita lihatlah, di Indonesia itu minim literasi. Orang itu kalau buku tebal malas cari, makanya kita buat AI yang lebih memudahkan mencari rujukan buku atau kitab ulama,” ucapnya.

    Bagi Al Hindawi, pencapaian di NASA bukan akhir dari perjalanan.

    Ia ingin terus mengembangkan kemampuan di bidang teknologi, keamanan siber, dan kecerdasan buatan.(*)

    Komentar
    Additional JS