Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Internet Kesehatan Kesehatan Mental Media Sosial Spesial

    Terjebak Bubble Kemewahan di Media Sosial, Ini Risikonya - Kompas

    12 min read

     


    KOMPAS.com - Buka Instagram, yang muncul teman sedang liburan, influencer mencoba restoran baru, atau seseorang mengunggah produk terbaru yang baru dibeli. Beralih ke aplikasi berita, yang terlihat justru kabar soal PHK, inflasi, dan ketidakpastian ekonomi.

    Di tengah dua realitas yang berbeda itu, media sosial bisa membuat seseorang merasa tertinggal. Seolah-olah orang lain hidup lebih baik, lebih bahagia, dan lebih mampu menikmati berbagai hal, sementara dirinya tidak.

    Padahal, kehidupan yang terlihat di linimasa bukan gambaran utuh tentang realitas. Algoritma media sosial dapat membuat pengguna terus-menerus melihat jenis konten yang sama hingga menciptakan apa yang disebut sebagai filter bubble.

    Baca juga: Mengenal Fenomena Lipstick Effect, Kenapa Orang Tetap Belanja saat Ekonomi Sulit?

    Dosen Ilmu Komunikasi sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara, Theresia Lavietha Vivrie Lolita, mengatakan, algoritma media sosial dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna dan membuat mereka bertahan selama mungkin di platform.

    Beli Rumah Makin Sulit, Jajan jadi Obat Hati?

    "Begitu kita sekali dua kali klik atau berhenti sebentar di konten, contoh saja konten liburan atau gaya hidup mewah, sistem akan menangkap itu sebagai sinyal, 'oh, orang ini suka konten yang seperti ini', lalu terus-menerus pengguna ini disodori konten serupa," kata Lolita saat diwawancarai Kompas.com, Rabu (29/7/2026).

    Menurut Lolita, kondisi tersebut dapat membuat variasi informasi yang diterima pengguna semakin sempit dan bias.

    Akibatnya, seseorang dapat merasa bahwa gaya hidup mewah merupakan sesuatu yang umum karena terus melihat konten serupa di linimasa.

    "Padahal itu hanyalah sebetulnya irisan kecil yang sengaja diperbesar oleh algoritma sebagai sistem rekomendasi platform itu," ujar Lolita.

    Baca juga: Belanja Barang Kecil, Cara Sederhana Merawat Diri Saat Ekonomi Sulit

    Ketika linimasa membuat hidup orang lain terlihat sempurna

    Ilustrasi PHK. Terus melihat liburan, belanja, dan gaya hidup mewah di media sosial bisa membuat kita merasa tertinggal, padahal apa yang terlihat di linimasa bukan gambaran utuh kehidupan seseorang.

    Lihat Foto

    Paparan konten gaya hidup secara terus-menerus juga dapat memengaruhi cara seseorang menilai dirinya sendiri.

    Lolita menjelaskan, fenomena tersebut dapat dipahami melalui Social Comparison Theory yang dikemukakan Leon Festinger pada 1954.

    Teori tersebut menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain, terutama ketika tidak memiliki standar objektif yang jelas sebagai tolok ukur.

    Media sosial kemudian dapat memperkuat kecenderungan tersebut karena konten yang dibagikan biasanya sudah melalui proses kurasi.

    Pengguna cenderung melihat sisi terbaik dari kehidupan orang lain, bukan keseluruhan realitas yang mereka jalani.

    Kondisi ini dapat mendorong terjadinya upward comparison, yakni membandingkan diri dengan orang yang terlihat memiliki kehidupan lebih baik.

    "Paparan yang terus-menerus terhadap konten semacam ini bisa menurunkan penilaian subjektif seseorang terhadap kehidupannya sendiri, bikin penilaian kita soal hidup sendiri jadi menurun, meskipun padahal ya secara objektif tidak ada yang berubah pada kondisi riilnya," kata Lolita.

    Dengan kata lain, yang berubah belum tentu kondisi kehidupan seseorang, melainkan cara ia memandang kehidupannya setelah terus melihat kehidupan orang lain melalui media sosial.

    Baca juga: Tak Bisa Dipamerkan, Mengapa Ketenangan Terasa Makin Mewah?

    FOMO membuat keinginan ikut tren semakin kuat

    Perasaan tertinggal juga dapat muncul ketika seseorang melihat orang lain sedang menikmati sesuatu yang dianggap menyenangkan.

    Dalam riset komunikasi, kondisi tersebut dikenal sebagai fear of missing out atau FOMO.

    Menurut Lolita, FOMO merupakan kecemasan yang muncul karena seseorang merasa orang lain sedang mengalami sesuatu yang menyenangkan, sementara dirinya tidak ikut mengalaminya.

    Ketika algoritma terus menampilkan tren, produk, atau pengalaman tertentu, muncul dorongan untuk ikut serta agar tidak merasa tertinggal secara sosial.

    "Simpelnya, FOMO itu kecemasan yang muncul karena kita ngerasa orang lain lagi having fun sementara kita nggak ikut ngalamin itu," ujar Lolita.

    Dalam konteks konsumsi, dorongan tersebut dapat membuat keputusan seseorang tidak lagi sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan.

    Seseorang bisa membeli produk atau mengikuti tren karena ingin tetap terhubung dengan kelompok sosialnya di ruang digital.

    Lolita menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk tekanan normatif digital.

    "Jadi keputusan beli atau ikut tren itu sebenarnya bukan murni karena butuh, tapi lebih ke tekanan sosial biar tetap connect dan diterima di circle pertemanan digital," kata dia.

    Baca juga: Gen Z dan Self-Reward: Saat “Balas Dendam” Malah Bikin Bokek

    Perbesar

    Mengapa kita merasa harus terlihat baik-baik saja?

    Tekanan untuk mengikuti gaya hidup tertentu juga dapat berkaitan dengan kebutuhan seseorang untuk mempertahankan citra di media sosial.

    Lolita menjelaskan, hal tersebut dapat dilihat melalui teori Self-Presentation atau Impression Management dari Erving Goffman.

    Dalam teori tersebut, interaksi sosial digambarkan seperti panggung. Seseorang berusaha mengatur kesan yang ingin ditampilkan kepada orang lain.

    Di dunia digital, panggung tersebut menjadi lebih permanen dan dapat diakses kapan saja.

    "Media sosial akhirnya jadi tempat kita 'mengkurasi' identitas, menyembunyikan kegagalan atau yang susah-susah, menonjolkan yang bagus-bagus saja, demi tetap dapat validasi dari lingkaran sosial kita," ujar Lolita.

    Hal inilah yang membuat kehidupan di media sosial dapat terlihat jauh lebih baik dibandingkan realitas sehari-hari.

    Seseorang mungkin sedang menghadapi persoalan finansial atau kesulitan lain, tetapi tetap memilih menampilkan sisi kehidupannya yang terlihat menyenangkan.

    Baca juga: Gaji Gen Z dan Self-Reward: Menikmati Hidup, Healing, atau Menabung

    Saat self-care berubah menjadi kebutuhan untuk terlihat

    Tekanan untuk menampilkan citra tertentu juga dapat masuk ke aktivitas yang sebenarnya ditujukan untuk merawat diri.

    Fenomena ini dikenal sebagai performative self-care, ketika aktivitas self-care tidak hanya dilakukan untuk diri sendiri, tetapi juga menjadi sesuatu yang dibagikan kepada publik.

    Menurut Lolita, fenomena tersebut merupakan kelanjutan dari budaya "serba kelihatan" di dunia digital.

    "Yang tadinya self-care itu urusan pribadi jadi hanya orang itu yang tahu, sekarang jadi konten yang dikonsumsi publik dan semua orang jadi harus tahu," kata dia.

    Dari sisi komunikasi, fenomena tersebut merupakan gabungan antara self-presentation dan budaya partisipatif digital.

    Nilai suatu aktivitas kemudian dapat ikut dikaitkan dengan jumlah like, komentar, atau reaksi yang diterima.

    Akibatnya, aktivitas yang seharusnya menjadi ruang pemulihan justru berpotensi menambah tekanan baru.

    "Self-care yang harusnya jadi ruang pemulihan buat diri sendiri malah bisa nambah beban psikologis baru, karena orang jadi merasa harus tampil konsisten dan estetis, bukan sekadar benar-benar merawat dirinya," ujar Lolita.

    Baca juga: Lipstick Effect dan Paylater: Saat Self-Reward Jadi Beban Utang

    Tekanan media sosial bisa sampai ke keputusan finansial

    Ketika citra tertentu dianggap penting untuk dipertahankan, tekanan dari media sosial juga dapat memengaruhi keputusan ekonomi seseorang.

    Lolita mengatakan, tekanan tersebut bahkan dapat mendorong seseorang berbelanja di luar kemampuan finansialnya demi mempertahankan citra tertentu.

    Fenomena ini, menurut dia, dapat disebut sebagai financial FOMO.

    Media sosial secara tidak langsung dapat menciptakan standar sosial baru mengenai gaya hidup yang dianggap layak ditampilkan.

    "Sebagian orang sampai jadi rela mengorbankan kestabilan finansialnya cuma demi tetap kelihatan relevan dan diterima di pergaulan digitalnya," kata Lolita.

    Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya ruang untuk berbagi informasi.

    Media sosial juga menjadi arena pembentukan identitas sosial yang dapat memengaruhi keputusan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari.

    Baca juga: Dulu Tas Branded, Kini Wellness Jadi Simbol Kemewahan

    Rasa cukup bisa ikut bergeser

    Jika paparan terhadap konten gaya hidup dan kemewahan berlangsung terus-menerus, standar seseorang dalam menilai kehidupannya juga dapat berubah.

    Lolita mengatakan, kondisi tersebut dapat membuat rasa cukup atau sense of enough semakin luntur.

    Pasalnya, standar pembanding seseorang dapat terus bergeser mengikuti apa yang muncul di linimasa, bukan berdasarkan kondisi kehidupannya sendiri.

    "Paparan konten mewah yang terus-menerus itu bisa bikin rasa cukup kita makin luntur, karena standar pembanding kita jadi terus bergeser mengikuti apa yang muncul di linimasa, bukan berdasarkan kondisi hidup kita sendiri," ujar Lolita.

    Meski demikian, ia menekankan bahwa hubungan antara perbandingan sosial di media sosial dan kepuasan hidup bersifat kompleks serta dipengaruhi banyak faktor.

    Karena itu, kesadaran dalam mengonsumsi konten menjadi penting, terutama bagi pengguna yang sangat aktif di media sosial.

    Menurut Lolita, masyarakat perlu memiliki literasi digital agar dapat menyikapi konten yang dikonsumsi secara lebih kritis dan tidak langsung menganggap apa yang terlihat di linimasa sebagai gambaran utuh kehidupan nyata.

    Sebagai dosen yang mengajar komunikasi digital dan media sosial, Lolita melihat isu seperti FOMO dan performative self-care penting untuk dipahami oleh pengguna media sosial dari berbagai usia dan latar belakang.

    Sebab, di tengah linimasa yang terus menyajikan kehidupan orang lain, kemampuan untuk membedakan antara apa yang ditampilkan dan realitas menjadi bagian penting dari literasi digital.

    "Masyarakat, khususnya anak muda yang sangat aktif menggunakan media sosial, makin sadar pentingnya literasi digital, biar bisa menyikapi konten yang dikonsumsi secara kritis, tidak langsung menelan mentah-mentah sebagai gambaran utuh kehidupan nyata."

    Baca juga: Rumah Makin Mahal, Anak Muda Memilih Mengumpulkan Pengalaman

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Komentar
    Additional JS