Zohran Mamdani Resmi Larang Penggunaan AI untuk Siswa TK hingga Kelas 8 SMP di New York - Tribunnews
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Zohran-Mamdani-politikus-amerika-serikat.jpg)
Ringkasan Berita:
- Pemerintah Kota New York resmi melarang penggunaan AI generatif bagi siswa dari tingkat TK (2-K) hingga kelas 8 selama satu tahun ajaran penuh (2026–2027).
- Kebijakan ini berdampak pada hampir 600.000 siswa, di mana tingkat SMA mendapat pengecualian khusus melalui program uji coba yang ketat serta wajib mengikuti kelas literasi AI.
- Pemerintah New York turut menetapkan aturan durasi harian perangkat perorangan, yakni maksimal 30 menit untuk kelas 3–5 dan 45 menit untuk kelas 6–8.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Kota New York, Amerika Serikat, secara resmi mengumumkan kebijakan baru yang melarang penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) generatif bagi para siswa di sekolah umum.
Adapun kebijakan ini berlaku bagi siswa dari tingkat TK (2-K) hingga kelas delapan.
Kebijakan ini nantinya akan berdampak pada hampir 600.000 siswa, atau sekitar dua pertiga dari total populasi pelajar sekolah umum di New York.
Pengumuman penting ini disampaikan langsung oleh Wali Kota New York, Zohran Mamdani bersama para pejabat kota lainnya pada Rabu waktu setempat atau Kamis dini hari WIB (3/9/2026).
Moratorium yang akan berlaku selama satu tahun penuh ini mulai diterapkan pada tahun ajaran 2026–2027.
Pengecualian untuk Siswa Menengah Atas
Baca juga: Ratusan Orang Ikuti Kontes Mirip Wali Kota New York Zohran Mamdani
Terkait kebijakan ini, Wali Kota Mamdani menegaskan komitmen pemerintahannya dalam pernyataan resminya di hadapan publik New York.
"Moratorium ini adalah komitmen untuk menata masa depan dengan benar," ungkap Mamdani seperti yang dilansir dari ABC News New York.
"Kami akan merangkul teknologi baru, tetapi hanya ketika teknologi itu melayani para siswa kita." lanjutnya.
Karena sifatnya yang masih begitu baru, pemerintah New York baru memperbolehkan penggunaan teknologi di lingkungan sekolah pada tingkat usia yang lebih matang, seperti kelas 9 ke atas.
Penggunaan AI di sekolah pada tingkat kelas menengah ke atas ini nantinya juga tidak akan berlaku sembarangan.
Fitur AI di tingkat sekolah menengah atas (SMA) ini nantinya akan diterapkan dalam program uji coba AI yang diawasi secara ketat.
Pemerintah Kota New York juga telah menyiapkan koalisi yang terdiri dari para pendidik, orang tua, ahli, serta pejabat terpilih untuk mempelajari dampak teknologi AI ini di sekolah terutama pada tingkat menengah ke atas.
Melalui koalisi ini, nantinya pemerintah New York akan mengambil rekomendasi selanjutnya terkait penggunaan AI di sekolah secara keseluruhan.
Selain itu, seluruh siswa SMA di New York juga diwajibkan mengikuti pelajaran literasi AI sebanyak dua kali setahun yang berfokus pada pemahaman literasi AI, bias, etika, dan pemikiran kritis.
Sementara itu, para guru tetap diizinkan menggunakan AI untuk perencanaan pelajaran serta pekerjaan administratif yang memenuhi standar keamanan.
Kebijakan ini turut memperkenalkan pedoman baru mengenai batasan waktu layar (screen time), termasuk pembatasan penggunaan serta penetapan batasan harian perangkat perorangan bagi siswa usia dini
Pemerintah New York merekomendasikan batasan selama 30 menit untuk kelas 3 hingga 5, dan 45 menit untuk kelas 6 hingga 8.
Wali Kota Mamdani menilai langkah ini sangat esensial guna melindungi "hubungan antarmanusia" di dalam kelas, dengan argumen bahwa anak-anak seharusnya mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan sosial secara langsung bersama guru dan teman sebaya daripada terlalu mengandalkan alat-alat AI.
Kekhawatiran Orang Tua Terhadap AI
Baca juga: Kompolnas Minta Video Kerusuhan 27 Agustus Diverifikasi, Sebagian Diduga Buatan AI
Para pemimpin sekolah di New York menyambut lega kebijakan tersebut setelah berbulan-bulan menantikan arahan yang jelas.
Sejak Juli lalu, para kepala sekolah bahkan telah diminta menunda pembelian perangkat lunak sambil menunggu finalisasi kebijakan dari pihak administrasi.
Langkah ini menyusul pedoman awal pada Maret lalu yang belum mengatur pembatasan AI maupun perangkat digital berdasarkan tingkat kelas.
Kebijakan tegas ini lahir di tengah gelombang kekhawatiran dari para orang tua, pendidik, hingga pembuat undang-undang terkait dampak kecerdasan buatan dan metode pembelajaran berbasis layar pada anak-anak.
Berbagai kelompok advokasi orang tua sebelumnya gencar menuntut penerapan moratorium AI di lingkungan sekolah.
Bahkan, lebih dari separuh anggota Dewan Kota turut melayangkan surat desakan agar Balai Kota dan Departemen Pendidikan menghentikan ekspansi penggunaan AI di ruang kelas.
Presiden Federasi Guru Bersatu (UFT), Michael Mulgrew, menilai kekhawatiran para orang tua inilah yang mendorong perlunya aturan perlindungan yang lebih ketat.
"Orang tua menjadi sangat, sangat kesal dengan AI karena yang mereka dengar hanyalah cerita-cerita horor tentang AI dan mereka memang benar berhak melindungi anak-anak mereka," ujar Mulgrew saat tampil dalam program Up Close di stasiun ABC.
Ia bahkan menyebut AI sebagai "hal yang sangat berbahaya" dan mewanti-wanti pihak sekolah agar menghindari adopsi produk baru sebelum diuji kelayakannya secara menyeluruh.
Mulgrew juga menyoroti bagaimana para guru dan kepala sekolah sempat kebingungan akibat kurangnya panduan yang jelas hanya beberapa minggu menjelang tahun ajaran baru dimulai.
(Tribunnews.com/Bobby)