Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Kisah Inspirasi Kisah Inspiratif Laptop NASA Spesial

    Di Balik Prestasi Rangga yang Diakui NASA, Ada Laptop dari Hasil Jualan Nasi Uduk Neneknya -×Kompas

    7 min read

     

    BEKASI, KOMPAS.com – Eti (53) tidak pernah menyangka laptop sederhana yang dibelinya dari hasil berjualan nasi uduk bisa menjadi sarana bagi cucunya, Rangga Erlangga (16), untuk meraih pengakuan dari badan antariksa Amerika Serikat, National Aeronautics and Space Administration (NASA).

    Laptop itu dibelikan Eti ketika Rangga duduk di kelas III SMP.

    Saat itu, Rangga dan kakaknya ingin memiliki laptop untuk menunjang kegiatan belajar ketika melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah kejuruan (SMK).

    Karena keterbatasan biaya, Eti hanya mampu membelikan satu laptop dengan harga terjangkau untuk digunakan keduanya secara bergantian.

    Rahasia Iran Lawan "Ibu Segala Bom" AS: Siapkan Petaka "Bapak dari Rudal" IRGC, Teluk Tumbal Lagi?

    "Akhirnya saya belikan laptop yang harganya murah. Dia (Rangga) dan kakaknya pakai laptop itu bergantian. Saya bilang, yang penting jangan berantem dan jangan nakal," ujar Eti saat ditemui Kompas.com di kediamannya, Selasa (20/10/2026).

    Baca juga: Kisah Rangga, Siswa SMK Bekasi Temukan Celah Keamanan NASA Bermodal Laptop dari Nenek

    Dari laptop tersebut, Rangga mulai mempelajari teknologi dan keamanan siber secara mandiri.

    Ia belajar melalui YouTube dan berbagai sumber di internet hingga akhirnya menemukan celah keamanan pada tautan yang berkaitan dengan NASA.

    Rangga Erlangga (16), siswa SMK Bina Patriot yang berhasil menemukan celah keamanan NASA,  bersama neneknya Eti (53) saat ditemui di Desa Karangsambung, Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Selasa (20/10/2026).

    Lihat Foto

    Siswa kelas X SMK Bina Patriot di Kabupaten Bekasi itu kemudian menerima letter of recognition atau surat pengakuan dari NASA atas temuannya.

    "Awalnya saya enggak menyangka. Saya juga kaget, kok Rangga bisa seperti itu. Tapi saya bangga karena cucu saya berprestasi," kata Eti.

    Eti mengatakan, dirinya telah mengasuh Rangga sejak kelas II SD, setelah ibu Rangga yang merupakan saudaranya meninggal.

    "Waktu itu ibunya sakit. Ibunya bilang ke saya, 'Teh, ini bocah jangan dikemana-main, udah aja urus sama Teteh.' Akhirnya, saya yang mengurus dia," tutur Eti.

    Baca juga: Massa Demo Mahasiswa Panjat Tugu Tani, Pasang Spanduk Tuntutan Rakyat

    Sejak saat itu, Rangga tinggal bersama Eti dan keluarganya.

    Seiring waktu, Rangga dan kakaknya tumbuh bersama di rumah tersebut.

    Ketika keduanya mulai tertarik menggunakan komputer, Eti berusaha memenuhi keinginan mereka dengan membelikan laptop meski harus menyesuaikan kemampuan ekonominya.

    Eti mengaku tidak terlalu memahami apa yang dipelajari kedua cucunya melalui komputer.

    Ia hanya memastikan mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah setelah pulang sekolah.

    Sehari-hari, Eti berjualan nasi uduk untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

    Ia mulai memasak sekitar pukul 01.00 WIB dini hari agar dagangannya siap dijual.

    Penghasilan dari berjualan nasi uduk digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan, membayar ongkos sekolah, serta membiayai pendidikan anak-anak yang diasuhnya.

    Baca juga: Jam Pulang Kerja, Tugu Tani Padat akibat Demo dan Sejumlah Tol Tersendat

    Menurut Eti, hasil penjualan nasi uduk bisa mencapai sekitar Rp 250.000 ketika dagangannya habis.

    Namun, jumlah tersebut masih termasuk modal sehingga bukan merupakan keuntungan bersih.

    Jika dagangannya tidak habis, hasil yang diperoleh bisa sekitar Rp 200.000.

    "Yang penting masih bisa memenuhi kebutuhan sekolah. Bisa membeli beras satu liter pun enggak apa-apa, yang penting cukup dan saya sehat," kata Eti.

    Eti mengungkapkan, dirinya kini menjadi tulang punggung keluarga karena suaminya sudah tidak bisa bekerja seperti dahulu.

    Dengan penghasilan yang terbatas, ia tetap berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus memastikan anak-anak tetap bisa bersekolah.

    Di tengah keterbatasan ekonomi, Eti berharap Rangga dan kakaknya dapat menyelesaikan pendidikan serta memiliki kesempatan melanjutkan kuliah.

    "Kalau bisa, saya ingin mereka melanjutkan pendidikan tinggi seperti anak-anak lain," ujarnya.

    Eti menyadari biaya pendidikan tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi keluarganya.

    Baca juga: Mahasiswa Unpak Demo di Tugu Kujang Bogor, Suarakan Lima Tuntutan

    Ia berharap ada rezeki dan kesempatan agar Rangga dapat mewujudkan cita-citanya.

    Eti juga mendukung keinginan Rangga yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

    Namun, ia berharap cucunya bisa mempertimbangkan kuliah sambil bekerja jika kondisi keuangan keluarga belum memungkinkan.

    "Kalau enggak sambil bekerja, saya enggak sanggup. Saya juga kadang sakit. Mudah-mudahan nanti ada rezekinya dan mereka bisa melanjutkan kuliah," kata Eti.

    Bagi Eti, pengakuan yang diterima Rangga menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarganya.

    Ia berharap cucunya dapat terus belajar, meraih cita-cita, dan memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.

    Sebagai informasi, Rangga merupakan siswa kelas X SMK Bina Patriot yang tinggal di Desa Karangsambung, Kecamatan Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

    Ia menerima letter of recognition dari NASA pada Kamis (8/10/2026) setelah melaporkan celah keamanan yang disebut broken link hijacking.

    Celah tersebut berkaitan dengan tautan yang sudah tidak aktif, tetapi dapat didaftarkan kembali oleh pihak lain sehingga pengguna yang mengekliknya berpotensi diarahkan ke tujuan berbeda.

    Baca juga: “Kami Sesak Napas Selama 4 Bulan”, Jeritan Mahasiswa Kalimantan di Demo Tugu Tani Jakarta

    Jika seseorang mengeklik tautan tersebut, pengguna berpotensi diarahkan ke akun yang berada di bawah kendalinya, bukan ke akun NASA yang semestinya dituju dan berpotensi disalahgunakan apabila tidak segera diperbaiki.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS