Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home AI Amerika Serikat Berita China Featured Hacker Kecerdasan Buatan Spesial

    Hacker China Menyamar jadi Pejabat AS, Curi Email Ahli AI "Paman Sam" - Kompas

    6 min read

     



    WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Sebuah kelompok hacker asal China dilaporkan menyamar sebagai pakar akal imitasi (AI) Amerika Serikat (AS), termasuk seorang mantan pejabat pemerintah.

    Taktik ini digunakan untuk mencuri email para ahli AI yang tersebar di berbagai lembaga think tank, universitas, serta organisasi lainnya.

    Temuan ini diungkapkan oleh perusahaan keamanan siber Proofpoint pada Kamis (1/10/2026). 

    Baca juga: Tak Terima Disindir, Hacker Curi 5.000 Data Sensitif Pegawai FBI

    Dalam kampanye terbarunya, kelompok peretas yang dijuluki "TA419" ini melancarkan aksinya dengan mengirimkan email yang seolah-olah dikirim oleh para pakar AI atau tokoh tata negara.

    Melihat Dampak Revolusi AI Menerjang Pekerja di China

    Salah satu nama yang dicatut adalah Lynne Parker, mantan Wakil Direktur Utama di Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih.

    Melalui email palsu tersebut, para peretas biasanya menawarkan kolaborasi atau inisiatif bertema AI. 

    Ujung-ujungnya, korban akan diarahkan ke sebuah situs web yang dirancang khusus untuk mencuri kata sandi.

    Baca juga: Cuma Modal Langganan Claude, 3 Hacker Berhasil Bobol Sistem OpenAI

    Proofpoint enggan membeberkan secara spesifik siapa saja yang menjadi target operasi ini, sebagaimana dilansir Reuters.

    Mereka hanya menyebut bahwa sasaran peretasan mencakup para pakar yang menangani regulasi AI, kontrol ekspor, dan strategi AI nasional.

    Melihat target yang sangat spesifik, melibatkan kurang dari 10 individu di beberapa organisasi, Proofpoint menyimpulkan bahwa operasi ini menunjukkan kepentingan intelijen dalam pembuatan kebijakan AS dibandingkan sekadar pencurian teknologi semata.

    Praktik peretasan ini sebenarnya bukan hal baru. 

    Proofpoint mencatat bahwa sejak 2025, TA419 secara rutin berupaya mencuri kata sandi dari para profesional yang bekerja di lembaga think tank, kontraktor pertahanan, universitas, hingga firma hukum, baik di AS maupun Jepang.

    Baca juga: Diserang Hacker, Rumah Sakit di Romania Selamat Berkat Pena dan Kertas

    Kesaksian korban dan tokoh yang dicatut

    Meski Proofpoint merahasiakan nama-nama target, salah satu korban berhasil diidentifikasi, yakni Alex Engler. 

    Dia adalah mantan pejabat Gedung Putih yang kini memimpin Penn Center on Media, Technology, and Democracy.

    Engler mengungkapkan, pada Rabu (30/9/2026), ia menerima email yang menggunakan nama Parker yang mengundangnya untuk bergabung dengan proyek kebijakan AI yang baru.

    Namun, Engler segera curiga. Ia menyebut email tersebut terasa sedikit janggal dan tidak jelas. 

    Setelah melakukan pengecekan dengan rekan-rekan di bidangnya, dia baru menyadari bahwa dirinya sedang berhadapan dengan seorang penipu. 

    Baca juga: Hacker Iran Ancam Piala Dunia, Klaim Bobol Drone FBI

    Engler sendiri enggan berspekulasi mengenai alasan mengapa ada pihak yang mencoba meretasnya.

    Sementara itu, Lynne Parker membenarkan bahwa Engler adalah satu dari dua orang yang ia ketahui telah menerima pesan mencurigakan atas namanya pada awal Juli lalu. 

    Menurut Parker, dugaan bahwa China berada di balik operasi ini sangat masuk akal.

    "AS dan China sedang bersaing di bidang AI," ujar Parker.

    "Mencoba membuat orang-orang di ruang kebijakan AI untuk mengungkapkan informasi tentang rencana kebijakan AI mereka, jika memang itu tujuannya, bukanlah hal yang mengejutkan," tambahnya.

    Baca juga: Hacker Pro-Iran Bobol Jaringan Transportasi AS, Curi 700 GB Data

    Jejak hacker China

    Atribusi atau kesimpulan bahwa kelompok ini berasal dari China didasarkan pada beberapa bukti. 

    Proofpoint menyoroti jenis malware yang digunakan, infrastruktur internet untuk melancarkan serangan, serta profil para target yang sejalan dengan prioritas pengumpulan data intelijen China.

    Hingga laporan ini dirilis, Kedutaan Besar China di Washington belum memberikan komentar terkait temuan tersebut. 

    Namun, Beijing selama ini selalu secara konsisten membantah tuduhan keterlibatannya dalam operasi spionase siber.

    Baca juga: Hacker Curi Rp 43 M dari Kemenkeu Sri Lanka, Retas Sistem Komputer

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS