Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home AI Berita Doxing Featured Kaspersky Kecerdasan Buatan Lifestyle Spesial Tips & Tricks

    Kaspersky Berikan Tips Aman dari Doxing yang Dilakukan Perangkat AI - Teknogav

    6 min read


    Teknogav.com – Akal Imitasi (AI) telah mempelajari cara mengumpulkan berbagai informasi yang tersebar mengenai seseorang dengan cepat. Akun-akun mereka kemudian dihubungkan AI dan jejak digital tersebut diubah menjadi berkas data rinci. Kini praktik doxing telah dilakukan oleh AI, sehingga perlu dilakukan langkah-langkah pencegahan agar tetap aman dari pengungkapan identitas. Doxing adalah tindakan mencari, mencocokkan dan menyebarluaskan data seseorang tanpa persetujuan pemilik data.

    Forum diskusi berbasis gambar yang anonim telah lama menjadi tempat pengguna untuk berkomunikasi menggunakan nama samaran tanpa mengungkap identitas asli. Namun, forum tersebut mulai membahas dan menguji alat berbasis AI untuk melakukan doxing. Praktik doxing biasanya disertai tindakan menguntit, meretas akun, perundungan sampai pemerasan. Pada akhirnya, doxing dapat merusak reputasi korban, atau bahkan berdampak lebih buruk.

    Baca juga: Jarang Verifikasi Identitas Orang-orang yang Berinteraksi Online Tingkatkan Risiko Siber

    Cara Doxing

    Para analis di Open Measuras melaporkan bahwa sejak Oktober 2025, terdapat pembahasan dan penggunaan AI untuk mengungkap identitas anonim pengguna. Fenomena ini terjadi di Soyjack,party yang merupakan forum berbasis gambar (imageboard) yang populer di kalangan anak muda sayap kanan ekstrem. Korban pengungkapan identitas tersebut biasanya adalah aktivis, blogger, dan anggota forum lain yang dianggap sebagai lawan. Para ahli menemukan perangkat yang beroperasi langsung di browser dan mengautomasi hampir seluruh proses pengumpulan informasi mengenai korban. 

    Perangkat tersebut dapat menelusuri sumber terbuka, dan basis data yang bocor, serta memanfaatkan petunjuk baru untuk menggali informasi lebih dalam. Basis data tersebut mencakup alamat email yang tertaut dengan nama pengguna. Perangkat tersebut juga mengekstrak metadata dari foto dan video, dan memperkirakan lokasi seseorang berdasarkan alamat IP yang ditemukan. Data-data tersebut kemudian disusun menjadi satu berkas digital (dossier) yang lengkap. Kini perangkat yang digunakan di Soyjak.party sudah tidak berfungsi, tetapi perangkat serupa telah menyebar ke berbagai forum berbasis gambar lain.

    Baca juga: Peringati Stress Awareness Month, Ini Tips Lawan Stres di Media Sosial  

    Pada Februari 2026, terlihat bahwa terkadang percakapan biasa di forum sudah cukup untuk mengungkap jati diri seseorang. Rangkuman kiriman dari 338 pengguna Hacker News mereka kumpulkan, lalu meminta AI untuk mencari tahu sosok di baliknya. Kemudian AI mencocokkan rincian mengenai pekerjaan, minat dan latar belakang pribadi dengan informasi yang tersedia secara online. AI berhasil mengidentifikasi 226 orang dengan tepat, atau sekitar dua per tiga dari jumlah sampel. Biaya pembongkaran identitas ini pun cukup terjangkau, hanya  sekitar USD1-4 per pengguna.

    Sebenarnya kemampuan menyusun berkas digital sudah ada sebelum maraknya penggunaan AI generatif. Contohnya adalah perangkat Open Source Intelligence (OSINT) yang dirancang untuk mencari data dari sumber-sumber terbuka. Perangkat tersebut awalnya digunakan jurnalis dan penyelidik, tetapi pihak-pihak berniat jahat juga bisa menggunakan perangkat tersebut. Berbeda dengan model atau agen AI, layanan OSINT bekerja konvensional mengikuti skrip yang sudah ditentukan. Layanan konvensional ini tidak bisa ‘berpikir’ atau mengambil keputusan dalam sekejap.

    Baca juga: Kaspersky Ungkap Seberapa Aman Aplikasi Kencan dan Tips Keamanan Penggunaan

    Tips Aman dari Doxing

    Jika AI dapat mempercepat pencarian dan menghubungkan berbagai informasi yang tersebar di puluhan web, maka apa tindakan yang bisa dilakukan? Menghilang sepenuhnya dari internet hampir mustahil dilakukan. Perlindungan data tidak sebatas mengurangi jejak digital, tetapi juga mengurangi jumlah tautan atau informasi yang bisa digunakan menyusun kembali identitas. Kaspersky pun memberikan beberapa tips berikut ini agar pengguna tidak menjadi korban doxing.

    • Lakukan pencarian diri secara online, jangan hanya berdasarkan nama, tetapi juga berdasarkan email, nama panggilan dan nomor telepon. Jik anyaman menggunakan AI untuk memproses, maka bisa meminta AI untuk menyusun profil lengkap diri. Namun, selalu ada risiko kebocoran atau kesalahan teknis yang malah membuat data terekspos ke publik secara tak sengaja. Layanan besar yang bereputasi baik pun tidak luput dari risiko tersebut.
    • Atur profil menjadi privat jika tidak ingin berbagi ke publik. Langkah ini akan menyulitkan mesin pencarian untuk mengindeks kiriman baru, serta menghambat alat pengumpul data dan perangkat OSINT mengambil informasi. Periksa juga komentar dan kiriman lama, lalu hapus segala yang sudah tidak diperlukan.
    • Hapus akun-akun yang sudah tidak aktif. Periksa kotak masuk email untuk mengetahui situs web apa saja yang pernah didaftarkan. Biasakan untuk menghapus akun yang sudah tidak digunakan. Akun-akun tersebut biasanya menyimpan data pribadi selama bertahun-tahun dan selalu ada risiko data tersebut terpapar jika terjadi kebocoran data.
    • Aktifkan autentikasi dua faktor, sehingga penjahat siber tetap tidak bisa mengakses akun tanpa autentikasi tambahan walau mengetahui kata sandi. Sebaiknya menggunakan kode sekali pakai yang diperbarui setiap 30 detik untuk autentikasi faktor kedua. Simpan kode tersebut dalam pengelola kata sandi terpercaya.
    • Hapus metadata sebelum mengunggah foto atau video karena banyak informasi dalam metadata yang bisa dimanfaatkan penjahat siber. Informasi tersebut bisa berupa lokasi, tanggal persis foto diambil dan model perangkat yang digunakan.
    • Gunakan kata sandi berbeda untuk setiap akun yang dimiliki. Penelitian Kaspersky menunjukkan bahwa kata sandi yang disusun berdasarkan informasi pribadi sangat lemah. Informasi yang sebaiknya tidak digunakan mencakup nama gadis ibu kandung, tanggal lahir atau penambahan karakter khusus di akhir. Biasanya informasi diungkap oleh kebocoran data atau dapat dikumpulkan dari sumber-sumber publik, sehingga memudahkan membobol kata sandi dengan algoritma canggih. Jika tidak bisa mengingat ratusan kata sandi yang unik, maka bisa menyerahkan tugas tersebut ke pengelola kata sandi (password manager). Ini adalah brankas aman yang bisa membuat dan mengingat kata sandi yang kompleks dan unik, lalu disinkronisasi ke semua perangkat.
    • Gunakan layanan online gratis untuk mendapatkan informasi mengenai kebocoran data baru secepat mungkin. Layanan tersebut akan mengirim pemberitahuan jika email muncul dalam kebocoran data yang diketahui. Bisa juga menggunakan aplikasi keamanan khusus seperti Kaspersky Password Manager yang terus memeriksa semua entri yang sudah disimpan sehingga lebih praktis. Aplikasi akan memberi peringatan jika menggunakan kata sandi sama di situs web berbeda. Peringatan jika diberikan jika salah satu pasangan nama pengguna dan kata sandi yang disimpan sudah disusupi. Pemeriksaan semua kata sandi yang tersimpan di Kaspersky Password Manager juga didukung panduan sederhana untuk Windows, Android dan macOS.
    • Gunakan perlindungan andal untuk melacak dan memblokir kebocoran data seperti Kaspersky Premium. Perlindungan tersebut memantau akun yang disusupi dan dikaitkan dengan alamat email, aplikasi ini bisa menambah sampai 50 alamat untuk diperiksa. Aplikasi juga bisa mendeteksi pencurian identitas digital yang terhubung dengan nomor telepon. Solusi keamanan Kaspersky juga bisa mencegah pengumpulan data pribadi secara online dan melaporkan kebocoran yang sudah terjadi.
    • Atur privasi pada perangkat dan aplikasi menggunakan layanan online Privacy Checker yang tersedia secara gratis.

    Demikianlah beberapa tips dari Kaspersky agar dapat senantiasa aman dari doxing.

    Share:

    Komentar
    Additional JS