KDM Bertemu Rhenald Kasali, Bahas Data Center Jatiluhur - RMOL Jabar

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) bertemu Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Rhenald Kasali di Rumah Perubahan, Minggu (4/10/2026). Salah satu pembahasan dalam pertemuan itu menyangkut investasi data center di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.
Pertemuan tersebut menyoroti bagaimana investasi di Jawa Barat tetap dapat berjalan tanpa mengesampingkan perlindungan lingkungan. Rhenald meminta pemerintah tidak terburu-buru mengambil keputusan ketika sebuah proyek investasi berpotensi berdampak terhadap lingkungan.
"Kita doakan KDM sukses memajukan Jawa Barat dan angka kemiskinan terus ditekan, pendidikan semakin maju, infrastruktur juga semakin bagus, dan tentu saja investasinya makin bagus," kata Rhenald.
Namun, ia mengingatkan agar pembangunan tidak mengorbankan lingkungan.
"Dan tetap tidak boleh merusak alam," ujarnya.
Rhenald kemudian menyinggung pembicaraan mengenai pembangunan data center bersama KDM. Menurutnya, pemerintah harus tetap tegas apabila proyek investasi tidak memenuhi ketentuan yang berlaku.
"Gak boleh merusak lingkungan. Itu sebabnya tadi kita bicara soal data center dan Kang Dedi mengatakan dan berjanji akan mengatakan, kalau itu melanggar, tentu akan ada sanksinya," kata Rhenald.
Proyek data center BDx di Jatiluhur sebelumnya memang menjadi sorotan. Pemprov Jawa Barat menghentikan sementara pembangunan karena dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) belum rampung.
Proyek tersebut direncanakan memiliki kapasitas daya hingga 640 megawatt (MW). Kebutuhan airnya juga menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam pembahasan proyek.
KDM menegaskan pemerintah Jawa Barat tetap membuka pintu bagi investasi. Namun, keterbukaan terhadap investasi tidak berarti aturan lingkungan dapat dikesampingkan.
"Iya, kita tegas aja. Investasi harus datang, tapi lingkungan harus dijaga. Tidak boleh rusak. Tidak boleh rusak," ujar KDM.
Menurut KDM, prinsip tersebut juga berlaku bagi investasi data center di Jatiluhur. Proyek tersebut dinilai memiliki potensi untuk mendukung perkembangan ekonomi digital dan investasi di Jawa Barat, tetapi pelaksanaannya harus tetap mengikuti ketentuan yang berlaku.
KDM juga meminta Rhenald terus memberikan masukan terhadap kebijakan pembangunan di Jawa Barat.
"Terima kasih, Prof. Terima kasih, Kang. Ditunggu sarannya. Ingatkan saya kalau salah," kata KDM.
Pesan mengenai pentingnya menjaga lingkungan juga muncul dalam perbincangan KDM dan Rhenald di Rumah Perubahan.
KDM menceritakan kondisi lingkungan di sekitar lokasi pertemuan yang dikelilingi pepohonan besar dan bambu.
"Ini kita di Rumah Perubahan, rumahnya dikelilingi bambu-bambu dan pohon-pohon besar. Ada pohon sakral yang tidak boleh ditebang, banyak di sini namanya pohon beringin," kata KDM.
Ia juga menyinggung keberadaan pohon rengas yang disebut telah berusia sekitar 80 tahun dan tumbuh di pinggir sungai.
"Ada pohon rengas yang sudah 80 tahun. Itu biasanya adanya di pinggir sungai. Getahnya gatal," ujar KDM.
Sebelumnya, Rhenald juga meminta KDM berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait investasi data center di Jatiluhur.
Ia menyoroti kebutuhan air data center, terutama untuk fasilitas yang mendukung komputasi AI. Menurutnya, kebutuhan tersebut perlu dihitung secara menyeluruh karena Waduk Jatiluhur memiliki berbagai fungsi, mulai dari irigasi, air baku, industri, pertanian, perikanan hingga pembangkit listrik.
"Jadi pemerintah daerah waspada deh ya. Jangan sekadar drama untuk kemudian kita melakukan apa itu, peletakan batu pertama lalu seakan-akan itu lapangan pekerjaan. Kita butuh kok AI. Tetapi kita juga harus menjaga kehidupan ini," kata Rhenald.
Rhenald menilai persoalan investasi dan lingkungan perlu dilihat secara utuh. Ia mengingatkan agar penyelesaian satu persoalan tidak justru memunculkan persoalan baru.
"Jangan sampai menyelesaikan satu persoalan menciptakan persoalan-persoalan baru. Seorang pemimpin rendahnya bisa melihat itu secara utuh, terintegrasi. Jangan terburu-buru," ujar Rhenald.
Ia juga menyoroti pentingnya kehati-hatian karena investor telah mengeluarkan modal dan pemerintah telah memberikan komitmen tertentu.
"Orang juga sudah investasi barangkali. Sudah dijanjikan pada investornya. Jadi kita memang harus correct," kata Rhenald.
Dengan demikian, pembahasan KDM dan Rhenald menempatkan investasi serta perlindungan lingkungan sebagai dua hal yang perlu berjalan beriringan. Pemerintah Jawa Barat tetap mendorong masuknya investasi, tetapi proyek yang berjalan harus memenuhi ketentuan perizinan dan memperhitungkan dampaknya terhadap lingkungan. 
