Polines Kembangkan Bus Listrik Hidrogen, Diklaim Bisa Tempuh 400 Kilometer - DARIM
ID

Politeknik Negeri Semarang (Polines) mengembangkan bus shuttle listrik berbasis baterai dengan teknologi hidrogen sebagai sumber energi tambahan. Inovasi ini ditujukan untuk mendukung transportasi ramah lingkungan di kawasan kampus, sektor pariwisata, hingga kawasan industri.
Ketua Tim Inventor Teknologi Polines, Prof. Ir. Yusuf Dewantoro Herlambang, mengatakan pengembangan bus tersebut memadukan sistem penggerak utama berbasis baterai dengan teknologi Proton Exchange Membrane (PEM) Fuel Cell Hydrogen untuk memasok kebutuhan listrik tambahan.
“Polines mendapat hibah dari Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yaitu dalam skema sinergi untuk membangun sebuah bus listrik fuel cell hidrogen,” ujar Yusuf mengutip Antara Jateng, (12/10).
Dalam proses pengembangannya, Polines bekerja sama dengan sejumlah mitra industri serta melibatkan program diaspora untuk memperkuat sinergi riset dan pengembangan teknologi kendaraan ramah lingkungan.
Bus tersebut menggunakan motor Permanent Magnet Synchronous Motor (PMSM) berdaya 15 kW dengan sistem traksi 96 volt DC. Sumber energi utamanya berasal dari baterai lithium iron phosphate (LiFePO4) berkapasitas 96 volt dan 250 Ah, dengan energi nominal sekitar 24 kWh.

Selain baterai utama, kendaraan ini dilengkapi PEM fuel cell berdaya 1 kW pada jalur 48 volt. Sistem kelistrikan pendukung juga mencakup konverter DC-DC berkapasitas 50 ampere dan baterai 12 volt untuk menyuplai berbagai instrumen kendaraan, seperti lampu, klakson, wiper, serta unit kontrol elektronik.
Yusuf menjelaskan teknologi fuel cell menghasilkan energi listrik melalui reaksi kimia antara hidrogen dan oksigen tanpa proses pembakaran. Teknologi ini disebut memiliki efisiensi sekitar 60 persen dibandingkan kendaraan konvensional berbahan bakar fosil.
Prototipe bus listrik hidrogen Polines rampung dikembangkan dalam waktu sekitar dua bulan. Kendaraan tersebut diklaim mampu menempuh jarak hingga 400 kilometer, dengan durasi pengisian daya sekitar enam hingga delapan jam.
Mitra diaspora dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Prof. Ir. Dr. Edy Herianto Majlan, menilai inovasi Polines sejalan dengan perkembangan teknologi otomotif global. Sejumlah produsen, termasuk Toyota melalui model Mirai dan Hyundai, telah mengembangkan kendaraan berbasis hidrogen.
Meski demikian, Edy mengingatkan kesiapan infrastruktur tetap menjadi tantangan dalam penerapan teknologi tersebut, mulai dari produksi, penyimpanan, distribusi, hingga fasilitas pengisian hidrogen.
Polines berharap bus ini dapat menjadi sarana riset strategis untuk meningkatkan kompetensi di bidang kendaraan listrik, sistem kendali, dan manajemen energi. Sebelum memasuki tahap komersial, prototipe tersebut masih perlu menjalani serangkaian pengujian performa dan keselamatan.