Protes Hubungan Google-Israel dalam Perang Gaza, Eks Karyawan Asal Palestina Dipecat, Berujung Gugatan Hukum! - Jakarta Kota

JAKARTA KOTA - Seorang mantan insinyur AI di Google DeepMind mengajukan gugatan ke Pengadilan Ketenagakerjaan Inggris setelah dipecat secara sepihak.
Pria tersebut menuduh raksasa teknologi itu melakukan diskriminasi karena pemecatannya terjadi tak lama setelah ia memprotes kerja sama Google dengan Israel.
Ia menentang keras penggunaan teknologi AI Google dalam perang brutal dan kejam melawan bangsa Palestina di Gaza.
Hubungan Google dengan pemerintah Israel, termasuk kontrak AI dan cloud senilai $1,2 miliar yang ditandatangani bersama dengan Amazon, telah memicu protes karyawan berulang kali.
Pada tahun 2024, perusahaan tersebut memecat puluhan staf dan karyawan yang menentang kebijakan perusahaan.
Menurut sang insinyur, ia dipanggil ke sebuah pertemuan dengan seorang manajer yang berujung pada pemecatannya setelah menyebarkan selebaran di kantor DeepMind di London yang bertuliskan:
"Google menyediakan AI militer kepada pasukan yang melakukan genosida" dan "Apakah gaji Anda sepadan dengan ini?"
Baca Juga: TERBONGKAR! Proyek Nimbus Rp 19,9 Triliun Bikin Google dan Amazon Bertekuk Lutut pada Israel
Ia juga dilaporkan mengirim email kepada rekan-rekannya yang menyerukan untuk membentuk serikat pekerja.
Mantan karyawan asal Palestina itu menuduh Google melakukan diskriminasi terhadap prinsip moral dan keyakinannya. Ia menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh terlibat dalam kejahatan perang.
Atas dasar itulah, ia mengklaim tindakan protesnya sebagai aksi whistleblower (pelapor pelanggaran) demi mengungkap pelanggaran di dalam perusahaan.
Google bersikeras menyatakan bahwa kejadian yang diceritakan karyawan tersebut "tidak mencerminkan fakta yang akurat" dan menyatakan yang bersangkutan mengundurkan diri.
Oktober 2025, sejumlah media melaporkan perjanjian tahun 2021 yang ditandatangani Google dan Amazon dengan Israel.
Perjanjian itu melarang kedua raksasa teknologi tersebut membatasi akses penuh Israel ke layanan Google dan Amazon. Bahkan tetap digunakan dalam kasus-kasus yang melanggar ketentuan penggunaan perusahaan.
Baca Juga: Gudang Mitra Persenjataan Israel di Ceko Hangus Terbakar, Pelaku Diduga Kelompok Anti-Zionis
Kontrak Israel dengan perusahaan teknologi AS semakin menjadi sorotan di tengah fakta operasi militernya di Gaza yang semakin brutal.
Pada 2024, Gaby Portnoy, kepala Direktorat Siber Nasional Israel, memuji Proyek Nimbus Google-Amazon karena memungkinkan "hal-hal fenomenal" dalam pertempuran.
"Ini merupakan bagian penting dari kemenangan," kata Portnoy. (*)
Tags
Terkini
Trending
1
2
3
4
5




