Semarang Pasang Flood-Eye untuk Deteksi Banjir Bandang - Lima Pagi
Pemerintah Kota Semarang mulai memasang Flood-Eye, sistem peringatan dini banjir bandang berbasis kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT), di wilayah rawan banjir Kota Semarang, Jawa Tengah. Teknologi yang dikembangkan melalui kolaborasi lembaga penanggulangan bencana dan perguruan tinggi Indonesia-Australia ini dirancang untuk mempercepat prediksi banjir serta menjangkau sekitar 115.000 warga.
Menurut laporan Tekno, pemasangan Flood-Eye dimulai pada Rabu (28/10/2026) di bantaran anak sungai Kali Babon, kawasan Meteseh, Semarang. Sistem tersebut juga telah ditempatkan di enam titik pemantauan yang tersebar di Kecamatan Tembalang dan Pedurungan.
Flood-Eye dikembangkan melalui kerja sama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, University of Wollongong (UoW) Australia, dan Telkom University (Tel-U) Indonesia. Informasi mengenai teknologi ini dilansir dari situs resmi Telkom University.
Sistem tersebut menggabungkan sensor sungai, kecerdasan buatan, data satelit, pemodelan banjir, serta dasbor pemantauan yang dapat diakses melalui perangkat seluler. Integrasi berbagai sumber data itu digunakan untuk menganalisis kondisi sungai dan mendukung peringatan dini terhadap potensi banjir bandang.
Berbeda dari metode konvensional yang mengandalkan data curah hujan harian, Flood-Eye menganalisis perubahan ketinggian permukaan air Sungai Pengkol beserta anak-anak sungainya dalam interval yang lebih rapat. Pemantauan dapat dilakukan berdasarkan perubahan per jam hingga per menit, sebagaimana dijelaskan dalam informasi resmi Telkom University.
Meski demikian, pengembangan sistem ini masih menghadapi kendala berupa keterbatasan data curah hujan dengan interval waktu pendek. Kekurangan tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pengolahan data untuk mendukung prediksi banjir yang lebih cepat dan akurat.
Perkiraan manfaat Flood-Eye mencakup sekitar 115.000 penduduk yang bermukim di kawasan rawan banjir di Kota Semarang. Angka tersebut merupakan estimasi jumlah warga yang berpotensi memperoleh manfaat dari penerapan sistem peringatan dini ini berdasarkan informasi mengenai proyek tersebut.
Flood-Eye merupakan bagian dari program Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia (KONEKSI). Berdasarkan informasi yang dihimpun dari situs resmi KONEKSI, proyek ini resmi dimulai pada Juni 2025 dan dijadwalkan berlangsung hingga Desember 2026.
Program tersebut melanjutkan proyek sebelumnya bernama Tide-Eye yang juga memperoleh pendanaan dari KONEKSI pada 2023. Kedua proyek tersebut menjadi bagian dari kerja sama yang menghubungkan pengembangan teknologi dengan kebutuhan pemantauan dan mitigasi bencana di Indonesia.
