Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Buzzer Featured Internet Media Sosial Spesial

    Gerakan #CuekinBuzzer Viral, Strategi Netizen Lawan Konten Menyesatkan di Medsos - RRi

    5 min read

     


    Poin Utama
    • Gerakan #CuekinBuzzer mendadak viral di media sosial Indonesia.
    • Gerakan tersebut disuarakan secara luas oleh kreator konten dan streamer Windah Basudara melalui akun Instagram pribadinya.
    • Tujuan gerakan adalah mengedukasi masyarakat agar cerdas menghadapi akun buzzer, hoaks, disinformasi, dan pengalihan isu di berbagai platform digital.
    Gerakan #CuekinBuzzer Viral, Strategi Netizen Lawan Konten Menyesatkan di Medsos
    Gerakan #CuekinBuzzer yang viral di sosial media (Foto: Dok. Instagram Windah Basudara)

    RRI.CO.ID, JAKARTA — Media sosial di Indonesia tengah dihebohkan dengan kemunculan gerakan #CuekinBuzzer. Gerakan digital ini mendadak viral setelah disuarakan secara luas oleh salah satu kreator konten dan streamer ternama tanah air, Windah Basudara, melalui akun Instagram pribadinya.

    Gerakan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara cerdas menghadapi akun-akun buzzer, penyebaran hoaks, disinformasi, hingga pengalihan isu di berbagai platform digital.

    Berdasarkan panduan yang dibagikan dalam kampanye tersebut, inti dari gerakan #CuekinBuzzer adalah mengubah pola interaksi netizen terhadap konten provokatif. Selama ini, banyak warganet terjebak untuk mendebat, membalas, atau memaki konten buzzer dengan maksud mengkritik. Padahal, segala bentuk interaksi seperti likes, komentar, shares, hingga repost dibaca oleh algoritma media sosial sebagai bentuk engagement.

    "Simpelnya, buzzer hidup dari engagement. Semakin dapet like, komen, share, konten mereka makin disebar sama algoritma," tulis panduan dalam kampanye tersebut.

    Mayoritas akun buzzer dinilai digerakkan oleh bot atau pihak yang memang sengaja mencari keributan demi mendongkrak visibilitas konten. Oleh karena itu, solusi utamanya adalah mengabaikan konten tersebut sepenuhnya tanpa meninggalkan jejak interaksi apa pun.

    Gerakan #CuekinBuzzer ini disebut-sebut mengadopsi pendekatan strategi komunikasi digital yang sempat sukses diterapkan di Brasil, yang dikenal sebagai Janonisme. Strategi yang diasosiasikan dengan politisi Brasil, André Janones, ini berfokus pada mobilisasi pengguna media sosial untuk mengalihkan perhatian publik dari narasi pecah belah menuju isu-isu substantif.

    Dalam praktiknya, gerakan ini tidak hanya meminta publik untuk pasif, melainkan aktif mengalihkan perhatian atau cuek, lewati dan swipe tanpa memberikan interaksi atau membalas argumen di kolom komentar. Warganet diajak untuk memfokuskan dukungan (likes, comments, dan shares) kepada konten-konten yang menyuarakan kepentingan publik yang krusial. Contohnya meliputi pemberitaan mengenai situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dampak lingkungan, hingga analisis kebijakan publik yang merugikan masyarakat.

    Kampanye ini juga merinci panduan ketat bagi netizen agar tidak salah langkah dalam menghadapi buzzer. Berikut yang boleh dan tidak boleh untuk dilakukan:

    • Boleh Dilakukan:

      • Melakukan swipe atau melewati konten tanpa interaksi (cuek) agar algoritma membaca konten tersebut tidak relevan.

      • Memblokir akun jika dirasa perlu, meskipun strategi mencuekin dinilai lebih efektif menurunkan performa algoritma konten tersebut.

    • Dihindari:

      • Mengambil screenshot konten buzzer untuk dibalas di akun sendiri atau membagikan tautan (link) ke grup WhatsApp, karena hal tersebut justru memancing orang lain untuk ikut memberikan engagement baru.

      • Melakukan report (laporkan) secara sembarangan jika akun tersebut tidak terbukti melanggar aturan platform secara nyata, yang justru berisiko membuat akun pelapor ditandai buruk oleh sistem algoritma.

    Dengan keterlibatan figur publik seperti Windah Basudara yang ikut memperluas jangkauan pesan ini, gerakan #CuekinBuzzer diharapkan mampu meningkatkan literasi digital masyarakat Indonesia agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi artifisial dan hoax di ruang siber.

    Komentar
    Additional JS