Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Keuangan Saham Spesial

    Saham Raksasa Teknologi Melonjak setelah Demokrat Kuasai Kongres AS - Kompas

    6 min read

     

    KOMPAS.com - Saham raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) melonjak setelah Partai Demokrat memenangi mayoritas kursi Kongres dalam pemilu sela. Investor memperkirakan hasil itu bakal memperlambat belanja besar-besaran untuk kecerdasan buatan (AI).

    Pada perdagangan Rabu (4/11/2026) waktu setempat, saham Amazon sempat naik hingga 8,3 persen dibanding penutupan hari sebelumnya. Saham Microsoft sempat naik 7 persen, Alphabet 5,9 persen, dan Meta 3,6 persen.

    Saham Apple juga sempat melonjak lebih dari 6 persen. Padahal, Apple selama ini tidak jor-joran berbelanja untuk AI.

    Baca juga: China Tutup Pintu untuk Nvidia, Pabrik Chip AI Lokal Untung Besar

    Saham Apple bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi di level 354,47 dollar AS per lembar. Saham itu lalu ditutup di 349,51 dollar AS, yang juga menjadi rekor harga penutupan tertinggi Apple.

    Hasil Pemilu AS: Demokrat di Ambang Menang, Rebut DPR dari Republik

    Jika digabung, Amazon, Microsoft, Alphabet, Meta, dan Apple berpeluang menambah nilai pasar hampir 1 triliun dollar AS (sekitar Rp 18.168 triliun) dalam sehari, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Bloomberg.

    Lonjakan ini terjadi sehari setelah Partai Demokrat memenangi mayoritas kursi di DPR dan Senat AS dalam pemilu sela. Isu pembatasan data center menjadi salah satu materi kampanye kandidat Demokrat.

    Sebelum pemilu, indeks Magnificent Seven versi Bloomberg turun 5,9 persen sejak 21 Oktober hingga Selasa (3/11/2026). Pada Rabu, indeks itu sempat naik hingga 3,6 persen dan berpeluang mencatat kenaikan harian terbesar sejak 21 September.

    Baca juga: Saham Intel Anjlok 29 Persen, Terendah Sejak 1970-an

    Belanja AI gerus arus kas

    Selama ini, investor khawatir belanja ratusan miliar dollar AS untuk infrastruktur AI tidak akan memberi imbal hasil yang sepadan.

    Raksasa teknologi berencana menghabiskan lebih dari 740 miliar dollar AS (sekitar Rp 13.444 triliun) tahun ini. Angka itu naik dari sekitar 400 miliar dollar AS (sekitar Rp 7.267 triliun) pada tahun lalu.

    Belanja itu membuat arus kas bebas (free cash flow) Amazon, Alphabet, dan Meta berubah negatif. Artinya, uang yang dikeluarkan untuk belanja modal lebih besar dibanding uang yang dihasilkan dari operasional. Untuk menutupnya, perusahaan-perusahaan itu bergantung pada utang dan penjualan saham.

    Baca juga: AI Bubble di China Disebut Pecah, Rp 8.600 Triliun Lenyap dari Bursa

    Karena itu, investor menilai pembatasan dari pemerintah justru bisa menguntungkan perusahaan tersebut.

    "Pasar bereaksi seolah-olah ini adalah akhir dari pembangunan AI besar-besaran," kata manajer portofolio senior di Dakota Wealth Management, Robert Pavlik.

    Menurut Pavlik, hasil pemilu ini menjadi “hadiah” bagi penyedia layanan cloud raksasa (hyperscaler). Pasalnya, belanja mereka kini direm oleh pemerintah, bukan oleh perusahaan sendiri.

    Baca juga: Saham Google Anjlok 12 Persen, Terparah sejak IPO 2004

    “Itu berarti mereka bisa kembali mencatatkan arus kas positif,” ujar Pavlik.

    Analis teknologi di Yorkville Ives, Dan Ives, juga menilai pembangunan pusat data kemungkinan akan berjalan lebih lambat.

    "Sekarang, hal ini akan terjadi dengan laju yang lebih terukur, yang kemungkinan merupakan hal baik di mata banyak investor," kata Ives.

    Baca juga: Bubble AI China Pecah, Akankah Demam Chip Memori Segera Mereda?

    Sebaliknya, saham perusahaan pembangun pusat data AI justru anjlok. Saham Applied Digital dan IREN turun 6-13 persen.

    Investor khawatir pembatasan konstruksi bisa mengganggu ekspansi kedua perusahaan yang dibiayai utang, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Reuters.

    Saham Nvidia dan Tesla juga ikut turun pada hari yang sama.

    KompasTekno mengimbau bahwa tulisan ini murni sebagai pemberitaan terkini seputar pergerakan saham, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tersebut. Keputusan investasi sepenuhnya adalah tanggung jawab pembaca.

    Baca juga: Saham Google Anjlok 12 Persen, Terparah sejak IPO 2004

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS