0
News
    Ingin Cepat Kaya? Kerja, Jangan Judi - Kumpulan Informasi Teknologi Hari ini, Setiap Hari Pukul 16.00 WIB
    Home Berita Featured Game Online Internet Kasus Radikalisme Spesial WhatsApp

    2 Siswa SD Terpapar Radikalisme: Berawal Game Online Lalu Gabung WA Diajarkan Cara Bunuh - Liputan6

    3 min read

     

    2 Siswa SD Terpapar Radikalisme: Berawal Game Online Lalu Gabung WA Diajarkan Cara Bunuh

    Platform game online memang memiliki fitur verifikasi usia, kontrol orang tua, hingga pembatasan komunikasi. Namun, dalam realitanya prinsip Best Interest of the Child (Kepentingan Terbaik bagi Anak) belum sepenuhnya terpenuhi.

    oleh Marifka Wahyu HidayatDiterbitkan 05 Januari 2026, 18:12 WIB
    Share

    Ilustrasi Game Online. (Unsplash - Onur Binay)

    Liputan6.com, Jakarta - Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Irawati, mengungkapkan adanya temuan mengejutkan mengenai dua pelajar sekolah dasar (SD) di wilayahnya diduga terpapar ideologi kekerasan ekstrem. Kondisi itu terungkap setelah pihaknya menerima informasi dari Densus 88 Antiteror. 

    Pola perekrutan dilakukan secara bertahap melalui melalui platform permainan daring yaitu Roblox. Setelah itu, para korban diarahkan masuk ke grup WhatsApp untuk menerima doktrin lanjutan.

    BACA JUGA:

    "Di dalam grup WhatsApp itu diajarkan bagaimana cara membunuh, bagaimana membenci orang lain termasuk doktrin radikalisme agama,” katanya, Senin (5/1/2025).

    Irawat mengimbau masyarakat dan orang tua untuk lebih waspada terhadap aktivitas digital anak-anak. Selain itu, faktor perundungan juga sering dimanfaatkan untuk memperkuat doktrin kebencian di kalangan anak-anak.

    Dia meminta penanganan anak-anak yang diduga terpapar ideologi kekerasan ekstrem dilakukan secara persuasif. Penanganan tersebut merupakan bagian dari upaya pencegahan dini terhadap penyebaran paham ekstremisme di kalangan anak dan remaja. 

    “Anak-anak itu sekarang dalam pengawasan PPA Polwan dan juga P2P3KB. Masih bisa dibina dan dikontrol,” ungkap Irawati.

    Sementara itu, Widiya Kumala, selaku Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mengatakan, meskipun platform digital telah memiliki sistem keamanan namun perlindungan terhadap anak masih jauh dari kata sempurna. 

    Menurutnya platform seperti Roblox memang memiliki fitur verifikasi usia, kontrol orang tua, hingga pembatasan komunikasi. Namun, dalam realitanya prinsip Best Interest of the Child (Kepentingan Terbaik bagi Anak) belum sepenuhnya terpenuhi.

    "Secara teknis, fondasinya sudah ada. Namun, risiko paparan konten berbahaya tetap mengintai karena sistem verifikasi dan moderasi konten masih bisa diakali," ujar Widiya.

    Masalah Psikis Hingga Ancaman Ideologi

    Wanita yang kerap disapa Yaya ini juga mengungkapkan, berbagai pola pelanggaran kerap ditemukan pada game berbasis interaksi sosial. Dampaknya tidak main-main, mulai dari masalah psikis hingga ancaman ideologi. 

    Maka dari itu, ia mengingatkan para orang tua untuk membangun bonding dan komunikasi yang berkualitas kepada anak-anak serta mengubah paradigma bahwa game online tidak hanya sekedar hiburan.

    "Jangan biarkan teknologi berjalan sendiri. Dengarkan cerita mereka, ajarkan sisi positif dan negatif dunia digital. Diam dan abai adalah bentuk kerentanan baru yang membahayakan masa depan anak-anak kita," pungkasnya.

    Perlu diketahui, sebelumnya Densus 88 Antiteror Polri mencatat ada 68 anak yang terpapar ideologi kekerasan ekstrem seperti Neo-Nazi dan white supremacy. Jumlah tersebut tersebar di 18 provinsi di Indonesia.

    Share
    Komentar
    Additional JS