0
News
    Ingin Cepat Kaya? Kerja, Jangan Judi - Kumpulan Informasi Teknologi Hari ini, Setiap Hari Pukul 16.00 WIB
    Home Berita Featured Internet Keamanan Data Keamanan Digital Media Sosial Spesial Telegram WhatsApp

    Bos Telegram: 'Bodoh' Jika Percaya WhatsApp Aman di 2026 - detik

    4 min read

     

    Bos Telegram: 'Bodoh' Jika Percaya WhatsApp Aman di 2026

    Adi Fida Rahman - detikInet


    Bos Telegram: 'Bodoh' Jika Percaya WhatsApp Aman di 2026 Foto: Instagram @durov

    Jakarta -

    Persaingan antar-aplikasi pesan instan kembali memanas di awal tahun 2026. Pendiri sekaligus CEO Telegram, Pavel Durov, baru-baru ini melontarkan kritik pedas yang ditujukan langsung kepada WhatsApp.

    Melalui unggahan terbarunya di platform X, Durov secara terang-terangan menyebut sistem keamanan aplikasi milik Meta tersebut penuh lubang. Bahkan, dia menggunakan istilah yang cukup kasar untuk memperingatkan publik.

    Durov mengklaim bahwa siapa pun yang masih percaya bahwa WhatsApp aman untuk digunakan pada tahun 2026 adalah orang yang "braindead" atau bodoh.

    Komentar tajam Durov bukan tanpa alasan. Ia menyatakan bahwa tim pengembang Telegram telah melakukan analisis mendalam terhadap sistem enkripsi WhatsApp dan menemukan temuan yang mengkhawatirkan.

    Menurut Durov, timnya berhasil mengidentifikasi "multiple attack vectors" atau berbagai jalur serangan potensial yang bisa dieksploitasi oleh pihak ketiga. Ia menuding bahwa klaim keamanan WhatsApp selama ini hanyalah tameng pemasaran semata.

    "Tim kami secara independen menemukan celah keamanan yang memungkinkan penyerang masuk. Masih percaya WhatsApp aman di 2026? Itu bodoh," tulis Durov.

    Pernyataan Durov ini muncul di tengah badai hukum yang menerjang Meta. Pekan lalu, sebuah gugatan hukum internasional diajukan di Pengadilan Distrik AS di San Francisco. Gugatan tersebut menuduh Meta telah menyesatkan miliaran penggunanya.

    Meskipun WhatsApp mengklaim menggunakan enkripsi end-to-end (E2EE), para penggugat mengeklaim bahwa:

    • WhatsApp tetap mampu menyimpan dan menganalisis pesan pengguna.
    • Data tersebut berpotensi besar diakses oleh instansi pemerintah maupun penipu siber.
    • Pernyataan privasi Meta dianggap sebagai pernyataan palsu yang merugikan konsumen.

    Menanggapi hal tersebut, juru bicara WhatsApp kepada Bloomberg membantah keras. "Klaim bahwa pesan WhatsApp tidak terenkripsi adalah salah dan absurd secara kategoris. Gugatan ini hanyalah karya fiksi," tegasnya.

    Terlepas dari perseteruan kedua bos tersebut, pengguna WhatsApp memang tengah diincar oleh skema penipuan baru yang muncul pada Januari 2026. Penipu mengirimkan pesan berisi tautan berbahaya ke situs web palsu.

    Begitu pengguna mengklik tautan tersebut, penyerang dapat memperoleh akses penuh ke akun korban tanpa terdeteksi dalam waktu yang lama. Hal ini menambah daftar kekhawatiran atas kerentanan platform tersebut.

    Telegram Tak Lepas Kritik

    Meski vokal menyerang WhatsApp, rekam jejak keamanan Telegram sendiri sebenarnya tidak bersih dari cacat. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah peneliti menemukan berbagai kelemahan pada platform tersebut, mulai dari bug yang memungkinkan pengambilalihan pesan hingga kerentanan pada protokol enkripsi.

    Investigasi juga pernah mengungkap bahwa Telegram hanya menyediakan enkripsi end-to-end secara penuh pada fitur obrolan rahasia, bukan pada percakapan standar.

    Kontroversi ini dimanfaatkan pihak lain untuk mempromosikan layanan pesaing. Pemilik X, Elon Musk, ikut meramaikan perdebatan dengan mempromosikan XChat sebagai alternatif WhatsApp.

    Namun, klaim keunggulan keamanan XChat segera dipatahkan oleh catatan komunitas pengguna X yang menyoroti sejumlah potensi kelemahan serius pada layanan tersebut.

    Persaingan antarplatform pesan instan pun kian memanas. Di tengah saling serang klaim keamanan antara WhatsApp, Telegram, dan pemain baru, para pakar menilai pengguna perlu lebih kritis menilai janji privasi yang disampaikan perusahaan teknologi, demikian dilansir dari Protos.


    Komentar
    Additional JS