China Mau Luncurkan 200 Ribu Satelit buat Saingi Starlink - Uzone
Uzone.id – Pertarungan AS vs China meluas hingga ke luar angkasa. Belum lama ini, China mengajukan dokumen permohonan untuk meluncurkan hampir 200.000 satelit ke ITU (International Telecommunication Union).
Tepatnya pada 29 Desember 2025, Institut Pemanfaatan Spektrum Radio dan Inovasi Teknologi China mengajukan proposal untuk dua konstelasi satelit bernama CTC-1 dan CTC-2. Masing-masing berisi 96.714 satelit yang tersebar di 3660 orbit.Victoria Samson dari Secure World Foundation mengatakan bahwa pengajuan China kepada ITU bisa jadi merupakan upaya ‘klaim wilayah’.
“Ada kemungkinan mereka hanya mencoba menyediakan ruang untuk penggunaan di masa depan. Namun, ada juga kemungkinan bahwa mereka memang merencanakan sesuatu yang sebesar itu,” komentar Victoria Samson, mengutip New Scientist.
Sejauh ini, di luar angkasa terdapat 14.300 satelit yang telah aktif di orbit. Sekitar 9.400 di antaranya adalah satelit SpaceX yang memancarkan koneksi internet ke bumi lewat Starlink.
SpaceX sendiri awalnya mengajukan dokumen untuk Starlink yang mencakup peluncuran hingga 12.000 satelit. Kemudian, mereka memperluasnya menjadi 42.000 satelit.
Lewat pengajuan tersebut, China semakin memperjelas bahwa persaingan di bidang mega-kontelasi semakin meningkat. Perusahaan internet berbasis satelit bersaing untuk menjadi yang terdepan di pasar, sekaligus berlomba menjadi pemegang kendali arus informasi global.
“15 tahun lalu, gagasan memiliki 1.000 satelit dalam satu rasi saja terdengar gila. Sekarang, kita sudah berada di angka lebih dari 9.000 satelit dengan Starlink,” ujar Victoria Samson.
Namun sebenarnya, upaya ‘klaim wilayah’ ini bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, Project Leo milik Amazon baru saja meluncurkan sekitar 200 satelit dari total rencana mereka untuk meluncurkan 3.236 satelit.
Sementara itu, dua rasi satelit bernama Qianfan dan Guowang juga telah meluncurkan lebih dari 100 satelit dari rencana untuk memiliki 28.000 satelit. Proyek Qianfan sendiri berfokus untuk menyediakan layanan bagi perusahaan telekomunikasi asing.
Proyek ini bahkan telah menandatangani kerja sama dengan Brazil, Malaysia, dan Thailand, serta tengah mengincar puluhan pasar lain di Asia, Afrika dan Amerika Latin.
Berbeda dengan Qianfan, Proyek Guowang berfokus pada kebutuhan telekomunikasi domestik dan penggunaan terkait keamanan nasional. Proyek ini dianggap China sebagai elemen kunci dari ekosistem komunikasi ‘ruang-udara-darat’ di masa depan.