0
News
    Ingin Cepat Kaya? Kerja, Jangan Judi - Kumpulan Informasi Teknologi Hari ini, Setiap Hari Pukul 16.00 WIB
    Home Featured Gojek Google Kemendikbud Spesial

    Google Tegaskan Investasi Gojek Tak Terkait Kemendikbud - Tirto

    5 min read

     

    Google Tegaskan Investasi Gojek Tak Terkait Kemendikbud

    Google menekankan investasi pada entitas terkait Gojek tidak memiliki hubungan apa pun dengan kerja sama dengan Kementerian Pendidikan. 

    Terbit 11 Jan 2026 14:00 WIB,
    Donasi Bencana Sumatera
    Google Tegaskan Investasi Gojek Tak Terkait Kemendikbud
    Ilustrasi Google Chrome. foto/istockphoto

    tirto.id - Investasi pada entitas terkait Gojek ini tidak memiliki hubungan apa pun dengan upaya jangka panjang kami dalam meningkatkan lanskap pendidikan di Indonesia maupun kerja sama kami dengan Kementerian Pendidikan terkait

    Google menegaskan bahwa perusahaan teknologi tersebut tidak pernah menawarkan, menjanjikan, atau memberikan imbalan kepada pejabat Kementerian Pendidikan sebagai imbal balik atas keputusan mereka untuk mengadopsi produk-produk Google.

    Hal ini mereka sampaikan di tengah dugaan korupsi pengadaan Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) yang saat ini sedang disidangkan di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat.

    Dalam dugaan tersebut, bekas Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim berada di pusat pusaran kasus.

    Dalam sidang tersebut, jaksa mendakwa Nadiem, yang juga merupakan bekas CEO Gojek, menerima keuntungan Rp809 miliar dari proses pengadaan Chromebook pada saat menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (2019-2024), yang mengalir lewat Gojek.

    Pihak Google menegaskan tidak ada keterkaitan investasi yang mereka lakukan dengan dunia pendidikan di Indonesia, maupun hubungan investasi mereka dengan kerja sama dengan Kementerian Pendidikan.

    “Investasi pada entitas terkait Gojek ini tidak memiliki hubungan apa pun dengan upaya jangka panjang kami dalam meningkatkan lanskap pendidikan di Indonesia maupun kerja sama kami dengan Kementerian Pendidikan terkait produk dan layanan kami. Kami tidak pernah menawarkan, menjanjikan, atau memberikan imbalan kepada pejabat Kementerian Pendidikan sebagai imbal balik atas keputusan mereka untuk mengadopsi produk-produk Google,” tegas mereka.

    Google juga membantah bahwa dana investasi mereka ke Gojek sebesar Rp809 miliar sebagai bentuk penyaluran dana suap. Google menyatakan bahwa dana investasi tersebut telah diserahkan sejak Nadiem sebelum menjadi Mendikbudristek.

    "Google, bersama dengan perusahaan global besar lainnya dan investor institusional, berinvestasi di entitas terkait Gojek antara tahun 2017 dan 2021, di mana sebagian besar investasi Google dilakukan jauh sebelum penunjukan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan," ungkap Google.

    Google Tak Memproduksi Perangkat Chromebook

    Terkait dengan pengadaan perangkat Chromebook untuk digitalisasi pendidikan, Google juga menekankan kalau mereka tidak bisa memproduksi dan melakukan pengadaan produk.

    “Google tidak memproduksi atau menjual Chromebook secara langsung kepada pelanggan akhir, dan kami juga tidak menentukan harga. Peran kami secara tegas terbatas pada pengembangan dan pemberian lisensi sistem operasi (ChromeOS) serta alat pengelolaan kepada mitra-mitra kami.”

    “Proses pengadaan dikelola sepenuhnya oleh produsen peralatan asli (Original Equipment Manufacturers/OEM) yang independen dan para mitra lokal. Ekosistem ini memastikan bahwa Kementerian Pendidikan menjaga kendali penuh dan transparansi atas pengadaan perangkat keras yang kompetitif dari pemasok lokal,” tambah Google.

    Baca juga:

    Google juga sempat menyinggung salah satu dakwaan jaksa terkait dengan terbatasnya kapabilitas Chromebook untuk proses belajar-mengajar di daerah 3T. Chromebook dianggap tak bermanfaat kalau tak terkoneksi dengan internet.

    “Chromebook dirancang sesuai dengan realitas di ruang kelas, termasuk untuk sekolah-sekolah di daerah terpencil. Meski dioptimalkan untuk penggunaan berbasis cloud, Chromebook memiliki kemampuan untuk digunakan secara offline. Siswa tetap dapat membuat dokumen, mengelola file, serta menggunakan aplikasi yang mendukung mode offline bahkan tanpa koneksi internet sekalipun, sehingga memastikan proses belajar tidak pernah terhenti,” tulis keterangan Google.

    Mereka juga mengatakan kalau perangkat itu memenuhi persyaratan dalam peraturan Kementerian serta panduan pengadaan lokal (DAK Fisik) dari Kementerian Pendidikan. Panduan itu merujuk adanya solusi digital yang holistik, seperti memasangkan perangkat dengan infrastruktur penunjang konektivitas seperti router dan verifikasi kelistrikan.

    “Pendekatan serupa telah terbukti memberikan manfaat bagi banyak siswa dalam skala besar di daerah terpencil di berbagai negara, mulai dari Brasil hingga Jepang,” tulis mereka.

    Baca juga:

    Google menambahkan kalau mereka telah melakukan sejumlah aksi sosial di bidang pendidikan dan juga ekonomi dengan sejumlah program. Seperti pendanaan UMKM dan pelatihan guru di bidang teknologi.

    Mereka juga menegaskan kalau terus berupaya berkomitmen mendukung pendidikan digital di Indonesia dengan tetap menjaga integritas.

    “Kami tetap berkomitmen untuk mendukung transformasi digital Indonesia dengan menjunjung tinggi standar transparansi dan integritas tertinggi,” tutup keterangan Google.

    Nama Google terseret dalam kasus pengadaan perangkat Chromebook di Kementerian Pendidikan, lantaran Nadiem disebut menerima Rp809 Miliar. Nilai yang disebut transaksi internal korporasi Gojek pada tahun 2021. Jaksa menuding dana Rp809 miliar tersebut merupakan bentuk pengayaan diri atas pemilihan Google Chrome OS sebagai sistem operasi laptop bantuan sekolah.

    Komentar
    Additional JS