Google Ubah Sistem Kuota Gemini 3, Penggunaan Model Kini Lebih Fleksibel -
Google Ubah Sistem Kuota Gemini 3, Penggunaan Model Kini Lebih Fleksibel
Liputan6.com, Jakarta - Google resmi melakukan perubahan besar pada sistem batas penggunaan model kecerdasan buatan (AI) Gemini 3 di aplikasi Gemini. Dalam kebijakan terbaru ini, kuota untuk model Thinking dan Pro tidak lagi digabung, melainkan dihitung terpisah dengan batas masing masing.
Mengutip laporan 9to5google, Senin (19/1/2026), kebijakan baru ini memungkinkan pengguna mengakses berbagai model Gemini 3 tanpa khawatir jatah penggunaan model lainnya, terutama saat berpindah fungsi antara pemecahan masalah dan pemrograman.
Saat ini, Gemini 3 menyediakan tiga pilihan model yang bisa digunakan pengguna, yaitu:
- Fast, untuk respons cepat berbasis Gemini 3 Flash
- Thinking, ditujukan untuk penyelesaian persoalan kompleks secara efisien, juga menggunakan Gemini 3 Flash
- Pro, untuk kebutuhan penalaran tingkat lanjut, seperti matematika dan pengkodean, berbasis Gemini 3 Pro
Pada tahap awal peluncuran Desember lalu, model Thinking dan Pro masih menggunakan satu kuota bersama. Pelanggan AI Pro hanya mendapat jatah 100 prompt per hari, sementara pelanggan AI Ultra dibatasi 500 prompt per hari untuk kedua model tersebut secara total.
Google mengakui bahwa sistem sebelumnya membuat penggunaan model penalaran saling memengaruhi karena ditarik dari sumber kuota yang sama.
Menanggapi masukan pengguna yang menginginkan kejelasan dalam pemilihan model sesuai kebutuhan harian, Google kini menerapkan kebijakan batas penggunaan terpisah untuk setiap model.
Artinya, penggunaan pada model Thinking tidak lagi memengaruhi kuota model Pro, begitu pula sebaliknya.
Dengan kebijakan baru ini, pelanggan AI Pro kini mendapatkan:
- 300 prompt per hari untuk model Thinking,
- 100 prompt per hari untuk Pro (tetap).
Sementara itu, pelanggan AI Ultra
- 1.500 prompt per hari untuk Thinking
- 500 prompt per hari untuk Pro (tetap)
Kebijakan pemisahan kuota ini juga berlaku bagi pengguna gratis. Namun, Google masih memberikan status akses dasar (basic access) untuk model Thinking dan Pro pada akun gratis, berbeda dengan model Fast yang telah mendapat akses umum.
Google menilai perubahan ini akan memberikan keleluasaan bagi pengguna untuk menentukan model yang paling sesuai, baik saat mengerjakan persoalan analitis maupun saat menulis kode, tanpa harus khawatir kuota cepat habis karena penggunaan model lain.
Google Siapkan Fitur Perintah Suara Gemini AI untuk Android
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5339620/original/025960800_1757070763-Gemini_AI.jpg)
Disisi lain, sebelumnya, Google semakin serius menjadikan Gemini sebagai asisten berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu mengendalikan ponsel Android secara langsung.
Melalui serangkaian demo dan riset terbaru, Google memperlihatkan visi masa depan di mana perintah suara bisa menggantikan sentuhan layar dalam menjalankan berbagai tugas digital.
Dikutip dari 9to5Google, Rabu (31/12/2025), pada ajang Google I/O 2025 yang digelar Mei 2025, Google mendemonstrasikan prototipe penelitian terbaru dari Project Astra yang dapat mengambil konten dari web/Chrome, mencari dan memutar video YouTube, mencari melalui email, melakukan panggilan atas nama pengguna, dan melakukan pemesanan.
Demo berdurasi dua menit ini menunjukkan Gemini menggulir dokumen PDF di Chrome untuk Android, membuka aplikasi YouTube, menelusuri hasil pencarian, hingga memilih dan memutar video secara otomatis. Google sedang berupaya menghadirkan kemampuan ini di Gemini Live.
Pada Oktober 2025, Google juga merilis Computer Use model versi pratinjau untuk para pengembang. Model ini memungkinkan Gemini berinteraksi dengan antarmuka pengguna layaknya manusia, seperti menggulir layar, mengklik, dan mengetik.
Meski saat ini masih dioptimalkan untuk browser web, Google menilai teknologi tersebut memiliki potensi besar untuk pengendalian antarmuka mobile.
Google menggambarkan kemampuan ini sebagai langkah penting untuk membangun agen AI yang andal. Hal ini dikarenakan banyak aktivitas digital yang masih memerlukan interaksi langsung dengan antarmuka pengguna grafis, bukan sekadar perintah teks.
Strategi Apple dan Google terhadap Asisten AI
Tidak hanya itu, Apple telah lebih dulu memaparkan visinya melalui Siri generasi terbaru. Apple menjanjikan Siri mampu menjalankan aksi lintas aplikasi hanya lewat suara, mulai dari mengedit foto hingga menyimpannya ke aplikasi Notes tanpa sentuhan layar. Namun, sistem ini menuntut integrasi khusus dari pengembang aplikasi.
Berbeda dengan pendekatan Apple, Google terlihat memilih jalur yang lebih fleksibel. Gemini dirancang agar bisa bekerja tanpa integrasi khusus dari pengembang aplikasi, sebuah pendekatan praktis mengingat ekosistem Android yang sangat luas.
Upaya Google ini bukanlah hal baru. Pada 2019, Google sempat memperkenalkan Google Assistant generasi baru dengan pemrosesan suara langsung di perangkat.
Saat itu, Google mengklaim penggunaan suara akan membuat navigasi sentuh terasa lambat. Namun, teknologi tersebut tidak pernah populer dan tetap terbatas pada perangkat Pixel.
Banner Infografis 4 Rekomendasi Chatbot AI Terbaik. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4817610/original/067652800_1714471502-673_x_373_rev__30_.jpg)
