IMF: Dampak AI ke Pasar Tenaga Kerja Seperti 'Tsunami' - Viva
Jakarta, VIVA – Kecerdasan buatan (AI) kini bukan lagi sekadar inovasi teknologi yang menjanjikan efisiensi. Di banyak negara, AI mulai dipandang sebagai kekuatan besar yang mengubah struktur pasar tenaga kerja secara mendasar.
Sepanjang 2025, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dikaitkan dengan AI menjadi sorotan, memicu kekhawatiran luas di kalangan pekerja maupun pembuat kebijakan.
Memasuki 2026, kecemasan tersebut diperkirakan akan meningkat tajam. Sejumlah pemimpin global dan eksekutif puncak memperingatkan bahwa dampak AI terhadap dunia kerja akan terasa semakin kuat, bahkan menyerupai bencana alam yang datang tiba-tiba.
Ketidaksiapan negara dan perusahaan menghadapi perubahan ini dinilai dapat memperburuk tekanan sosial dan ekonomi. Hal tersebut disampaikan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva.
Ia menyebut AI sebagai faktor penting bagi pertumbuhan ekonomi, namun sekaligus membawa dampak besar terhadap tenaga kerja. “Kami melihat potensi peningkatan pertumbuhan hingga 0,8 persen dalam beberapa tahun ke depan, tetapi ini menghantam pasar tenaga kerja seperti tsunami, dan sebagian besar negara serta bisnis tidak siap menghadapinya,” jelas Georgieva, sebagaimana dikutip dari CNBC, Rabu, 21 Januari 2026.
Ia menambahkan bahwa pemerintah dan perusahaan harus segera memikirkan kebutuhan keterampilan baru. “Apa yang harus mereka lakukan? Mereka perlu memikirkan keterampilan baru yang sudah dibutuhkan sekarang dan bagaimana cara memastikan keterampilan itu dimiliki,” ujarnya.
Data menunjukkan bahwa kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar. AI disebut sebagai faktor signifikan dalam hampir 55.000 PHK di Amerika Serikat sepanjang 2025, berdasarkan data Desember dari firma konsultan Challenger, Gray & Christmas. Sejumlah perusahaan besar secara terbuka menyebut AI sebagai bagian dari alasan restrukturisasi.
Amazon mengumumkan pemangkasan sekitar 15.000 karyawan tahun lalu. CEO Salesforce, Marc Benioff, mengatakan sekitar 4.000 staf layanan pelanggan dilepas karena AI telah mengerjakan 50 persen pekerjaan di perusahaan tersebut. Selain itu, perusahaan konsultan teknologi Accenture dan grup maskapai Lufthansa juga mencantumkan AI dalam proses restrukturisasi mereka.
Seiring dominasi berita PHK, sentimen pekerja terhadap AI pun berubah drastis. Kekhawatiran kehilangan pekerjaan akibat AI melonjak dari 28 persen pada 2024 menjadi 40 persen pada 2026, menurut temuan awal laporan Global Talent Trends 2026 dari Mercer, yang mensurvei 12.000 responden di seluruh dunia.
Riset Mercer juga menunjukkan bahwa 62 persen karyawan merasa para pemimpin meremehkan dampak emosional dan psikologis dari AI. Kondisi ini memperkuat ketegangan di lingkungan kerja, terutama di sektor-sektor yang mulai terdampak otomatisasi.
Lebih lanjut, catatan tersebut juga mengutip studi Stanford pada November yang menyebut adanya penurunan relatif 16 persen tingkat pekerjaan bagi lulusan baru di peran yang terekspos AI. Sementara pekerjaan bagi karyawan berpengalaman relatif stabil sejak peluncuran ChatGPT pada November 2022.
Meski AI sering disalahkan atas PHK, sejumlah pihak menilai dampaknya masih dibesar-besarkan. CEO Randstad, Sander van ’t Noordende, mengatakan peran AI dalam pemutusan kerja kerap dilebih-lebihkan.
“Saya berpendapat bahwa 50.000 kehilangan pekerjaan itu bukan didorong oleh AI, melainkan oleh ketidakpastian pasar secara umum. Masih terlalu dini untuk mengaitkannya dengan AI,” kata Noordende.
Ia menyebut 2026 sebagai tahun adaptasi besar, ketika individu dan pemimpin tim harus mulai mengintegrasikan AI untuk mengunci peningkatan produktivitas. Menurutnya, AI justru bisa menjadi peluang besar dalam perekrutan, penilaian, hingga onboarding talenta.
Dari sisi investor, tekanan juga meningkat. Laporan Mercer mencatat 97 persen investor menilai keputusan pendanaan akan terpengaruh negatif jika perusahaan gagal meningkatkan keterampilan pekerja terkait AI. Lebih dari tiga perempat investor bahkan mengaku lebih tertarik berinvestasi pada perusahaan yang memberikan edukasi AI kepada karyawannya.