OpenAI ChatGPT Tantang Google, Luncurkan Fitur Pesaing Chrome dan Translate - Katadata
OpenAI meluncurkan ChatGPT Translate, setelah sebelumnya memperkenalkan ChatGPT Atlas. Kedua fitur ini menjadi pesaing Google, khususnya Chrome dan Google Translate.
ChatGPT Translate tidak hanya menerjemahkan kosakata, tetapi juga makna, nada, dan konteks. OpenAI juga merancang alat ini untuk bisa memahami idiom, nuansa budaya, dan maksud.
Alat itu mendukung terjemahan teks, suara, dan gambar. Namun saat ini, fitur unggahan gambar tidak tersedia di peramban desktop dan tidak ada opsi untuk input suara, karena masih dalam tahap peluncuran awal atau prototipe.
Halaman ChatGPT Translate menampilkan dua kotak teks besar berdampingan dengan menu pilihan bahasa untuk diterjemahkan. Di kotak terjemahan, terdapat fitur yang bisa menerjemahkan melalui suara.
Katadata.co.id, mencoba untuk menerjemahkan kalimat melalui ChatGPT Translate. Namun hasil terjemahan membutuhkan waktu sedikit lebih lama dibandingkan menggunakan Google Translate.
OpenAI juga sebelumnya meluncurkan ChatGPT Atlas pada Oktober 2025, mesin pencarian yang menjadi pesaing baru Google Chrome.
Pimpinan Teknik OpenAI untuk ChatGPT Atlas Ben Goodger mengatakan ChatGPT adalah inti dari peramban pertama perusahaan ini. Pengguna ChatGPT Atlas dapat mengobrol dengan hasil pencarian mereka, seperti di Perplexity atau Mode AI Google.
Pangsa pasar Google Search turun menjadi di bawah 90% per Oktober 2024 atau ke level terendah sejak 2015. Sejumlah studi menunjukkan pengguna mulai beralih ke platform AI alias kecerdasan buatan seperti ChatGPT untuk mencari informasi.
Data StatCounter, pangsa pasar Google Search hanya naik tipis menjadi 90,15% pada Februari 2025.
Riset dari perusahaan perbankan investasi Evercore menunjukkan 8% responden kini menggunakan ChatGPT sebagai mesin pencarian informasi utama. Angkanya naik dibandingkan enam bulan lalu 7%.
Data OneLittleWeb juga menunjukkan penggunaan chatbot AI meningkat 80,92% secara tahunan atau year on year (yoy) sepanjang April 2024 hingga Maret 2025, dengan total kunjungan mencapai 55,2 miliar.
Sementara itu, traffic ke mesin pencarian seperti Microsoft Bing dan Google Search turun 0,51% yoy selama periode yang sama menjadi 1,86 triliun.
Meskipun demikian, volume penggunaan chatbot AI seperti ChatGPT masih tertinggal jauh dibandingkan mesin pencarian seperti Google Search. Kontribusi chatbot kecerdasan buatan juga hanya 2,96% dari total kunjungan mesin pencarian.
Rata-rata kunjungan harian ke mesin pencarian mencapai 5,5 miliar, sementara chatbot AI 233,1 juta kunjungan.
Google Search menjadi mesin pencarian paling dominan dengan 1.631,5 miliar kunjungan selama April 2024 – Maret 2025, meskipun turun 1,41% yoy. Berikut rinciannya:
- Google: 1.631,5 miliar kunjungan, turun 1,41%
- Microsoft Bing: 60,1 miliar, naik 2,77%
- Yandex: 41,3 miliar
- Yahoo: 37 miliar, turun 22,5%
Dalam hal penggunaan chatbot AI, ChatGPT milik OpenAI memimpin dengan 47,7 miliar kunjungan atau menguasai 86,32% pangsa pasar. Rinciannya sebagai berikut:
- Microsoft Copilot: 920,4 juta kunjungan, naik 1.038,72%
- Blackbox AI: 221,5 juta, naik 461,38%
- Grok (xAI): 216,5 juta, naik 353.878,60%
- Monica: 164,5 juta, naik 229,83%
- Meta AI: 108,9 juta, naik 142.430,21%
Google Search dan Microsoft Bing mulai mengintegrasikan fitur berbasis AI seperti Search Generative Experience (SGE) dan AI Overview untuk mempertahankan relevansi. Inisiatif ini disebut berkontribusi pada pemulihan traffic mesin pencari sejak akhir 2024 hingga awal 2025.
Survei yang dilakukan oleh penerbit teknologi TechRadar, Future, mengungkapkan alasan utama pengguna beralih ke chatbot AI seperti ChatGPT ketimbang mesin pencarian yakni efisiensi waktu. Mayoritas pengguna di Amerika Serikat dan Inggris menilai alat AI mampu memberikan hasil yang lebih cepat dan spesifik, tanpa harus menyaring informasi secara manual seperti pada pencarian konvensional.
Peserta survei asal AS menyatakan penggunaan AI membantu dirinya mencari informasi kunci lebih cepat, tanpa harus menelusuri semuanya satu per satu seperti dengan cara tradisional. Pendapat serupa datang dari responden di Inggris, yang menyebut bahwa alat AI jauh lebih spesifik dibanding pencarian Google yang bersifat umum.