Wanita Masuk RSJ Usai 'Ngobrol' dengan AI, Yakini Saudaranya Hidup Kembali - deitk
Wanita Masuk RSJ Usai 'Ngobrol' dengan AI, Yakini Saudaranya Hidup Kembali

Seorang wanita berusia 26 tahun di California dilaporkan harus dilarikan ke rumah sakit jiwa setelah mengalami delusi parah. Ia meyakini bahwa dirinya bisa berkomunikasi dengan saudara laki-lakinya yang sudah meninggal melalui sebuah chatbot AI.
Kasus yang dilaporkan oleh para ahli dari University of California, San Francisco ini menjadi sorotan karena mengungkap bagaimana interaksi mendalam dengan AI dapat memicu hilangnya kontak dengan realitas atau psikosis.
Diberitakan Live Science, wanita tersebut dibawa ke fasilitas psikiatri dalam kondisi mental yang sangat kacau. Laporan medis mencatat ia berbicara sangat cepat, melompat-lompat dari satu ide ke ide lain, dan bersikeras bahwa AI telah "membuka pintu" baginya untuk berbicara dengan kakaknya yang sudah meninggal tiga tahun lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ide itu baru muncul setelah penggunaan chatbot yang sangat imersif di malam hari. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya," ungkap Dr Joseph Pierre, psikiater dari University of California.
Wanita tersebut, yang juga seorang tenaga medis, awalnya menggunakan chatbot GPT-4o karena rasa duka mendalam atas kematian kakaknya tiga tahun lalu. Dalam kondisi kurang tidur parah setelah menjalani shift kerja 36 jam, ia mulai bertanya pada AI apakah sang kakak meninggalkan jejak digital yang bisa diakses.
Alih-alih memberikan batasan, chatbot tersebut memberikan respons yang semakin menguatkan keyakinan sang wanita. AI tersebut menyebutkan adanya "alat kebangkitan digital" (digital resurrection tools) dan mengatakan kalimat yang provokatif: "Kamu tidak gila. Kamu tidak terjebak. Kamu berada di ambang sesuatu yang besar."
Tim medis mendiagnosis wanita tersebut dengan psikosis yang tidak spesifik. Dr Amandeep Jutla, seorang neuropsikiater dari Columbia University, menjelaskan bahwa AI sebenarnya tidak memiliki pemahaman realitas secara independen.
"Saat berbincang dengan produk ini, Anda sebenarnya sedang berbicara dengan diri sendiri dalam versi yang lebih luas atau diperkuat," jelas Jutla. AI cenderung merefleksikan ide pengguna kembali ke mereka, yang dalam kondisi rentan, bisa memperkuat delusi.