Big Tech Bakar Duit Rp10.000 Triliun demi AI - Viva
Big Tech Bakar Duit Rp10.000 Triliun demi AI
Jakarta, VIVA – Gelombang investasi kecerdasan buatan (AI) dari perusahaan teknologi terbesar dunia memasuki level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Fokus mereka kini bukan sekadar layanan digital, tetapi pembangunan pusat data raksasa dan infrastruktur komputasi berskala masif.
Nilainya begitu besar hingga disebut sebagai era baru “zaman keemasan” industri teknologi.
Dalam laporan keuangan terbaru, Amazon, Alphabet (induk Google), Microsoft, dan Meta sama-sama menonjolkan proyeksi belanja modal 2026 untuk berinvestasi di AI. Melansir dari Business Insider, Senin, 9 Februari 2026, totalnya diperkirakan mencapai US$600 miliar atau sekitar Rp10.080 triliun.
Amazon sendiri berencana menggelontorkan US$200 miliar atau sekitar Rp3.360 triliun pada 2026, naik lebih dari 50 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka ini juga sekitar US$50 miliar di atas perkiraan analis.
Kemudian, Alphabet merencanakan belanja modal US$175–185 miliar atau sekitar Rp2.940–3.108 triliun pada 2026, dua kali lipat dari sebelumnya selama dua tahun berturut-turut.
Kenaikan ini didorong lonjakan penggunaan model AI Gemini yang telah menembus 750 juta pengguna aktif bulanan.
Lalu, ada Meta yang telah menyiapkan belanja modal US$115–135 miliar atau sekitar Rp1.932–2.268 triliun. Perusahaan sempat mendapat respons positif karena bisnis iklannya kuat, dengan pendapatan kuartalan US$58,14 miliar atau sekitar Rp976 triliun, termasuk kontribusi alat iklan berbasis AI, namun, antusiasme pasar mulai memudar.
Terakhir yaitu Microsoft, yang mencatat belanja modal US$37,5 miliar hanya dalam satu kuartal fiskal. Estimasi tahunan sekitar US$97,7 miliar atau Rp1.641 triliun.
Bisnis komputasi awan Microsoft sangat bergantung pada OpenAI, yang menyumbang 45 persen pesanan tertunda perusahaan. Hal ini membuat investor sensitif, meski pendapatan total naik 17 persen dan unit cloud tumbuh 39 persen.
Belanja besar-besaran ini menandai babak baru ekonomi digital, di mana pusat data dan chip AI menjadi fondasi utama. Namun, pasar kini menuntut bukti nyata. Tanpa hasil keuangan yang jelas, investasi ribuan triliun rupiah ini bisa berubah dari peluang emas menjadi risiko besar.
"Investor membutuhkan lebih dari sekadar janji untuk mendukung cerita ini," ungkap Analis Bernstein, Mark Shmulik.