0
News
    Ingin Cepat Kaya? Kerja, Jangan Judi - Kumpulan Informasi Teknologi Hari ini, Setiap Hari Pukul 16.00 WIB
    Home AI Chip Featured Jensen Huang Kecerdasan Buatan Spesial

    Jensen Huang: Pabrik Chip dan AI Buka Peluang Kerja dengan Gaji Tinggi - Kompas

    7 min read

     

    Jensen Huang: Pabrik Chip dan AI Buka Peluang Kerja dengan Gaji Tinggi

    KOMPAS.com – CEO Nvidia, Jensen Huang, menyampaikan bahwa perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) akan menciptakan lapangan kerja dengan gaji tinggi. Pernyataan ini disampaikan Huang saat Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, Rabu (21/1/2026).

    Dikutip dari CNBC, Kamis (22/1/2026), Huang mengatakan, perkembangan AI tidak hanya menggantikan pekerjaan kantoran, tetapi juga mendorong permintaan besar terhadap tenaga kerja terampil di industri, khususnya yang terlibat dalam pembangunan pabrik chip dan fasilitas AI.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    “Ini adalah pembangunan infrastruktur terbesar dalam sejarah manusia yang akan menciptakan banyak pekerjaan,” kata Huang.

    Baca juga: Kata CEO Nvidia Jensen Huang, AI Bisa Jadi Mentor Karier Anda

    “Ini luar biasa karena pekerjaan-pekerjaan itu berhubungan dengan keterampilan tangan, dan kita akan punya tukang pipa, tukang listrik, pekerja konstruksi, pekerja baja, teknisi jaringan, dan orang-orang yang memasang serta melengkapi peralatan,” lanjut dia. 

    Arab Saudi: Jika AS Tak Serang Iran, Teheran Akan Semakin Kuat

    Huang menambahkan, saat ini sedang terjadi peningkatan signifikan pada sektor ini, termasuk kenaikan gaji hampir dua kali lipat.

    “Jadi kita berbicara tentang gaji enam digit bagi orang-orang yang membangun pabrik chip, pabrik komputer, atau pabrik AI,” ujar Huang.

    AI dan PHK di Sektor Kantoran

    Isu pengurangan pekerjaan akibat AI menjadi topik hangat di WEF 2026. Data dari firma konsultan Challenger, Gray & Christmas mencatat teknologi AI berkontribusi pada hampir 55.000 PHK di Amerika Serikat sepanjang 2025.

    Beberapa perusahaan besar seperti Amazon, Salesforce, Accenture, dan Lufthansa menyebut AI sebagai alasan pemutusan hubungan kerja.

    Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

    Baca juga: Wajib Tonton, Video Jensen Huang 14 Tahun Lalu soal Blueprint Nvidia di Era AI

    Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), mengatakan, “AI menghantam pasar tenaga kerja seperti tsunami, dan sebagian besar negara serta bisnis belum siap.”

    Pekerjaan Fisik Paling Aman dari Otomasi AI

    Namun, riset Microsoft pada 2025 menemukan bahwa pekerjaan yang melibatkan aktivitas fisik paling kecil kemungkinannya untuk diotomasi oleh AI.

    Profesi seperti petugas laboratorium, pelukis, tukang plester, dan insinyur kapal dinilai lebih aman dari PHK.

    Penelitian yang menganalisis 200.000 percakapan dengan Microsoft Bing Copilot antara Januari dan September 2024 ini mengukur seberapa sering pengguna memanfaatkan bantuan AI dalam menyelesaikan tugas.

    Baca juga: CEO Nvidia Jensen Huang Kaget AMD Rela Lepas 10 Persen Saham untuk OpenAI

    “Orang yang melakukan pekerjaan fisik, baik dengan manusia maupun mesin, cenderung tidak menggunakan AI,” tulis laporan Microsoft.

    “Semua orang harus bisa mendapatkan penghasilan yang layak. Tidak perlu gelar PhD untuk itu,” ujar Huang.

    Pentingnya Pelatihan Vokasional

    Roxana Mînzatu, Wakil Eksekutif Komisaris Uni Eropa untuk Hak Sosial dan Kualitas Pekerjaan, menyarankan generasi muda agar mengikuti pelatihan vokasional demi mengisi kebutuhan tenaga kerja di bidang teknik.

    “Saya berbicara dengan industri semikonduktor yang memproduksi chip komunikasi. Mereka mencari 75.000 tenaga vokasi, teknisi dan berbagai jenis lulusan,” kata Mînzatu saat diwawancarai CNBC di WEF.

    Meski AI berpotensi menghilangkan beberapa posisi pemula, Mînzatu yakin generasi muda mampu memperoleh keterampilan yang diperlukan.

    Baca juga: Demam Robot Humanoid di China Bikin Howard Huang Jadi Miliarder

    Minat Gen Z pada Pekerjaan Teknik

    Minat generasi Z (lahir 1997-2012) terhadap pekerjaan teknik semakin meningkat. Faktor utama adalah biaya pendidikan sarjana yang tinggi, yang naik sekitar 30 persen antara 2011 hingga 2023 di Amerika Serikat.

    Menurut Departemen Tenaga Kerja AS, pada kuartal pertama 2024, Gen Z menyumbang 18 persen tenaga kerja, dan hampir 25 persen dari pekerja baru di sektor keterampilan merupakan generasi ini.

    Nich Tremper, ekonom senior di platform gaji Gusto, mencatat terdapat sekitar 2 juta mahasiswa lebih sedikit di universitas tradisional saat ini dibanding 2011.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS