Microsoft: Investasi AI di Karawang Untung 3,7 Kali Lipat - asatunews
Microsoft: Investasi AI di Karawang Untung 3,7 Kali Lipat
Microsoft melaporkan biaya teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin terjangkau. Perusahaan ini mengklaim setiap US$1 investasi AI dapat menghasilkan keuntungan hingga 3,7 kali lipat.
Klaim ini disampaikan General Manager Azure Infrastructure Microsoft, Alistair Speirs. Ia berbicara saat kunjungan ke fasilitas Data Center Microsoft di Karawang, Jawa Barat, Rabu (4/2).
“Apa yang kita lihat dari organisasi-organisasi adalah adanya kebutuhan bisnis yang sangat jelas dalam AI,” kata Alistair Speirs.
Ia menambahkan, “Yang kami lihat di seluruh dunia, untuk setiap US$1 investasi perusahaan dalam AI. Mereka mendapatkan return sebesar 3,7 kali lipat, yang merupakan pencapaian yang luar biasa pada tahap awal perkembangan teknologi ini.”
Alistair menjelaskan bahwa teknologi ini berkembang sangat pesat. “Kita masih berada di tahap awal perkembangan teknologi ini,” jelasnya.
“Saat kita mulai membangun fasilitas ini, ChatGPT bahkan belum ada, jadi ini memberi gambaran betapa cepatnya teknologi ini dikembangkan,” kata Alistair.
Ia melanjutkan, “Apa yang akan Anda lihat di sini adalah revolusi teknologi yang sebenarnya sedang terjadi di balik layar.”
Alistair Speirs juga menyoroti peran AI dalam mengisi kesenjangan di dunia kerja. Ia mengutip hasil survei yang dilakukan perusahaannya.
Survei tersebut mengungkapkan 80 persen pekerja merasa kekurangan waktu dan sumber daya. Mereka tidak cukup untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang diperlukan.
Di sisi lain, 53 persen manajer melaporkan beban kerja lebih banyak. Hal ini diperlukan agar perusahaan tetap kompetitif.
“Itu adalah celah. Karyawan kita tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menjalankan tugas mereka,” terang Alistair.
Ia menjelaskan, “Pemimpin bisnis dan pemimpin pemerintah menuntut lebih dari karyawan mereka untuk tetap kompetitif.”
“Jawabannya sebenarnya terletak pada kemampuan terdepan ini, kemampuan AI ini, yang membantu karyawan menjadi lebih produktif dengan bekerja bersama sistem AI yang bersifat agen untuk menyelesaikan lebih banyak pekerjaan,” kata Alistair.
Namun, Alistair membantah anggapan bahwa AI akan menggantikan pekerja. Ia justru melihat hal sebaliknya yang terjadi.
Literasi AI dengan cepat menjadi keterampilan utama. Hal ini berdasarkan data LinkedIn tahun 2025 yang dikutip Alistair.
Selain AI, keterampilan lain seperti mitigasi konflik, adaptabilitas, optimasi proses, dan pemikiran inovatif juga penting. Menurutnya, kemampuan ini tidak mudah dilakukan oleh komputer.
Infrastruktur Pusat Data dan Inovasi Pendinginan
AI beroperasi di atas infrastruktur pusat data. Alistair Speirs menyatakan biaya infrastruktur pusat data semakin murah dari waktu ke waktu.
“Selama beberapa tahun terakhir, kita telah melihat pengurangan biaya yang signifikan dalam penggunaan kemampuan AI ini,” tutur Alistair.
Ia menambahkan, “Hal ini dicapai melalui kombinasi fasilitas inovatif dan efisien seperti yang Anda lihat di sini, perbaikan teknologi di tingkat hardware, serta perbaikan di tingkat software, semua hal ini mendorong penurunan biaya.”
Dalam kasus Microsoft, penggunaan sistem pendingin cairan tertutup merupakan terobosan. Sistem ini tidak memakai pendinginan evaporatif untuk menjaga suhu server.
Pusat data umumnya didinginkan dengan udara melalui AC. Bisa juga dengan teknologi pendinginan evaporatif yang menggunakan air.
Namun, pendingin cairan dianggap lebih efektif. Sistem ini dapat memindahkan lebih banyak panas dan membantu komputer menangani beban komputasi berat.
Berikut adalah perbandingan metode pendinginan pusat data:
“Saat kita mempertimbangkan liquid cooling, kita dapat secara efektif memindahkan lebih banyak panas di dalam pusat data,” terang Alistair.
Ia melanjutkan, “Mendukung chip yang lebih besar dan lebih bertenaga, serta chip yang lebih efisien untuk menjalankan beban kerja ini.”