Penjualan Kamera Digital Moncer di Tengah Serbuan Smartphone - Bisnis com
Bisnis.com, JAKARTA - Pasar kamera digital masih memiliki potensi pertumbuhan yang solid meski berada di tengah gempuran kamera smartphone.
Marketing Manager PT Datascrip Canon Indonesia Danni Nahason menilai pascapandemi, penjualan kamera digital justru menunjukkan grafik peningkatan dan tren pertumbuhan.
“Dibandingkan dengan tahun 2024, kami mengalami peningkatan penjualan sekitar 16%. Kami memproyeksikan penjualan di tahun 2026 kembali meningkat minimal 10%,” ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.
Menurut Danni, salah satu pendorong utama pertumbuhan tersebut berasal dari meningkatnya minat generasi muda terhadap kamera saku dan kamera entry-level. Anak muda dinilai mulai menyadari bahwa kamera digital menawarkan kualitas visual dan pengalaman penggunaan yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh smartphone.
Dari sisi segmen konsumen, pasar kamera masih ditopang oleh pehobi, disusul kalangan profesional seperti fotografer dan videografer. Sementara itu, pembelian dari kreator konten menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun seiring berkembangnya ekonomi kreator dan kebutuhan produksi visual yang lebih serius.
Seiring waktu, kualitas kamera juga terus meningkat, ditopang oleh pengembangan teknologi seperti sistem fokus yang lebih cepat serta kapabilitas perekaman video yang semakin mumpuni.
“Meskipun smartphone mengalami peningkatan teknologi, industri kamera tidak berdiam diri dan terus berinovasi,” sebut Danni.
Inovasi tersebut juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang semakin beragam. Canon, kata Danni, melakukan banyak pengembangan lensa, termasuk untuk kebutuhan khusus.
Bahkan, perusahaan telah menghadirkan lensa untuk kebutuhan virtual reality seiring meningkatnya permintaan video berbasis teknologi tersebut. “Sehingga kami sudah mempersiapkan lensa ini untuk kebutuhan di masa depan,” tambahnya.
Optimisme serupa juga disampaikan Head of Marketing Fujifilm Indonesia Johanes Rampi. Dia menilai lini kamera instan instax misalnya, terus menunjukkan tren positif, khususnya di kalangan generasi muda.
"Lini instax semakin diminati, terutama di kalangan generasi muda karena kemampuannya dalam menghadirkan pengalaman mencetak dan berbagi momen berharga secara langsung,” sebutnya kepada Bisnis.
Aktivitas berbagi foto fisik tersebut dinilai menciptakan rasa kedekatan yang lebih personal. Melalui instax, Fujifilm memadukan nilai cetak analog dengan teknologi digital terkini.
Fujifilm, lanjut Johanes, terus mengembangkan lini instax dengan mengintegrasikan teknologi digital terkini, termasuk AR/VR. Produk instax tidak hanya mencakup kamera instan analog, tetapi juga kamera instan hybrid, printer untuk smartphone, hingga kamera ringkas tanpa fungsi cetak yang dapat digunakan bersama kamera hybrid atau printer smartphone.
Secara global, prospek pasar kamera digital masih menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Global Growth Insight, nilai pasar kamera digital mencapai US$1,58 miliar pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$1,83 miliar pada 2026. Dalam jangka panjang, pasar ini bahkan diprediksi melonjak hingga US$6,89 miliar pada 2035 dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sekitar 15,86% sepanjang periode 2026–2035.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh meningkatnya kebutuhan akan solusi pencitraan berkinerja tinggi, adopsi kamera mirrorless, serta minat terhadap kamera hybrid yang mampu mengakomodasi kebutuhan foto dan video sekaligus.