Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun, Dea Angelia Jadi Lulusan Termuda UGM Bidang AI- SindoNews
Raih Gelar Doktor di Usia 26 Tahun, Dea Angelia Jadi Lulusan Termuda UGM Bidang AI
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Jum'at, 23 Januari 2026 - 07:30 WIB
Dea Angelia Kamil berhasil meraih gelar doktor di usia muda, yakni 26 tahun 11 bulan 17 hari. Foto/UGM.
JAKARTA - Dea Angelia Kamil berhasil meraih gelar doktor di usia muda, yakni 26 tahun 11 bulan 17 hari. Ia resmi lulus dari Program Studi Doktor Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada ( UGM) , jauh di bawah rata-rata usia lulusan doktor yang mencapai 40 tahun.
Dea menjadi salah satu dari 104 lulusan doktor dalam prosesi wisuda pascasarjana UGM. Secara keseluruhan, UGM meluluskan 1.061 wisudawan pascasarjana yang terdiri atas 825 lulusan magister, 118 lulusan spesialis, 14 lulusan subspesialis, 104 lulusan doktor, serta 13 lulusan periode sebelumnya.
Baca juga: Sejarah Baru, UNEJ Lahirkan Tiga Doktor Bioteknologi Berbasis Riset Global
Pencapaian Dea meraih gelar doktor di usia muda tidak lepas dari persiapan akademik yang matang dan dukungan beasiswa. Ia mengungkapkan, keberhasilannya menjadi doktor termuda didorong oleh program akselerasi yang diikutinya sejak SMA. Setelah lulus sarjana, Dea melanjutkan pendidikan melalui beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU).
“Melalui program PMDSU, saya bisa menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 kurang lebih dalam waktu empat tahun,” ujar Dea, dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (23/1/2026).
Ketertarikan Dea terhadap dunia komputasi sudah tumbuh sejak menempuh pendidikan sarjana. Berawal dari latar belakang Matematika, ia memutuskan beralih ke Ilmu Komputer untuk memperdalam bidang Machine Learning dan Artificial Intelligence (AI).
“Saat S1 saya sudah dikenalkan dengan mata kuliah machine learning dan AI. Dari situ saya ingin lebih fokus, sehingga memilih Program Studi Ilmu Komputer di UGM untuk melanjutkan studi,” jelasnya.
Selama menempuh pendidikan doktor, Dea juga memperoleh pengalaman internasional melalui Program Peningkatan Kualitas Publikasi Internasional (PKPI) bagi mahasiswa PMDSU. Program tersebut membawanya melakukan riset di University of Ulsan, Korea Selatan.
Dalam penelitiannya, Dea mengangkat topik Intelligent Transportation System, khususnya pada pengembangan sistem vehicle speed estimation. Ia merancang sistem berbasis AI yang bekerja secara otomatis untuk meminimalkan intervensi manual.
“Pengalaman mengikuti PKPI sangat berkesan. Saya melakukan riset di Korea Selatan dan mengembangkan sistem yang berjalan otomatis, sehingga lebih efisien dan akurat,” paparnya.
Bagi mahasiswi asal Lamongan, Jawa Timur ini, menempuh program doktor di luar negeri bukan hanya soal akademik, tetapi juga ujian ketangguhan mental dan fisik. Ia harus beradaptasi dengan etos kerja yang disiplin serta cuaca ekstrem selama berada di Korea Selatan.
“Ritme kerja sangat padat dari Senin hingga Jumat, bahkan Sabtu masih ada seminar dan bimbingan profesor. Tantangannya semakin terasa ketika harus beradaptasi dengan musim dingin,” kenang Dea.
Dea menitipkan pesan reflektif bagi rekan-rekan yang ingin menapaki jalan akademik serupa. Ia mengingatkan bahwa menempuh jenjang doktor memerlukan kesiapan mental yang kuat.
“Kejarlah mimpimu, tapi perlu dipahami bahwa perjalanan S3 itu memiliki tantangan tersendiri, seperti tuntutan publikasi dan proses riset yang panjang. Ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘PhD is not for everyone’, tapi jika telah menemukan jalan di sana, setiap prosesnya akan terasa sangat berharga,” pungkasnya.
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Infografis

26 Perwira Dimutasi Jadi Kapolres di Pulau Jawa pada Mutasi Juni 2025