0
News
    Home AI Ayatollah Ali Khamenei Berita Dunia Internasional Featured Kecerdasan Buatan Konflik Timur Tengah Spesial

    Membongkar Peran Drone Murah dan AI di Balik Kematian Ayatollah Ali Khamenei - SindoNews

    7 min read

     

    Membongkar Peran Drone Murah dan AI di Balik Kematian Ayatollah Ali Khamenei

    Laporan menyebutkan bahwa CIA dan intelijen Israel telah melacak pergerakan Ayatollah selama berbulan-bulan lamanya. Foto: ist

    IRAN - Asap mengepul usai serangan rudal di Teheran, Iran, pada Minggu (1/3/2026), menandai babak baru perang modern di mana nyawa petinggi negara kini dihabisi oleh perpaduan kecerdasan buatan, peretasan siber, dan kawanan drone murah.

    Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta jajaran komando tingginya pada akhir pekan lalu bukanlah sekadar hasil dari jatuhnya bom berdaya ledak tinggi konvensional.

    Di balik operasi mematikan militer Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu pagi tersebut, ada orkestrasi teknologi canggih: paduan perangkat lunak kecerdasan buatan (AI) pelacak gerak-gerik dari Palantir, serangan siber peretas aplikasi ponsel, hingga pengerahan massal drone "murahan" yang ternyata meniru teknologi milik Iran sendiri.

    Perang global di 2026 telah bergeser secara drastis. Negara-negara adidaya mulai menyadari bahwa mengandalkan satu unit perangkat tempur yang harganya mencapai triliunan rupiah tidak efisien.

    Mereka kini mengadopsi taktik hibrida, di mana satu jet tempur canggih digabungkan dengan ribuan unit drone serbu sekali pakai yang harganya ramah di kantong anggaran negara.

    Fakta ini dikonfirmasi langsung oleh Komando Pusat AS yang menyatakan bahwa mereka, untuk pertama kalinya dalam sejarah pertempuran militer AS, mengerahkan drone serang satu arah berbiaya rendah.

    Membongkar Peran Drone Murah dan AI di Balik Kematian Ayatollah Ali Khamenei

    Drone tersebut bernama LUCAS, diproduksi oleh perusahaan asal Phoenix, Spektreworks Inc. Berapa harga per unitnya? Hanya USD35.000 atau sekitar Rp588 juta.

    Menariknya, drone yang membantu melumpuhkan Iran ini desainnya justru terinspirasi dari drone Shahed-136 buatan Iran, yang sebelumnya sering dipakai di perang Ukraina dan sempat menghantam beberapa situs di negara-negara Teluk.

    “Sejarah telah tercipta kemarin, namun banyak yang mengabaikan berita utama yang sangat penting ini," tulis Lorin Selby, purnawirawan Laksamana Muda Angkatan Laut AS sekaligus pakar keamanan nasional, dalam sebuah unggahan. "Era senjata senilai Rp 588 juta telah dimulai."

    Eliot Pence, Kepala Eksekutif perusahaan teknologi pertahanan Kanada, Dominion Dynamics, membenarkan logika baru tersebut.

    Menurutnya, drone LUCAS menjadi alat murah bagi AS untuk merontokkan sistem radar anti-pesawat milik musuh, sekaligus menjadi pelengkap perangkat super mahal seperti rudal dan jet tempur.

    Menggabungkan perangkat militer mahal dan murah secara serentak "bukanlah sesuatu yang pernah dilakukan AS sebelumnya. Ini adalah cara peperangan yang baru," jelas Pence.

    Langkah taktis ini terwujud setelah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, pada tahun lalu memerintahkan militernya untuk mendominasi teknologi pesawat nirawak.

    "Mata Tuhan" Palantir dan Kecerdasan Buatan

    Membongkar Peran Drone Murah dan AI di Balik Kematian Ayatollah Ali Khamenei

    Bagaimana AS dan Israel tahu persis waktu dan lokasi berkumpulnya Ali Khamenei dan pejabat tingginya di Teheran?

    Jawabannya ada pada analisis data. Laporan menyebutkan bahwa CIA dan intelijen Israel telah melacak pergerakan Ayatollah selama berbulan-bulan lamanya.

    Militer AS diketahui adalah klien utama Palantir Technologies Inc., raksasa analitik data asal Denver.

    Cara kerja Palantir sangat luar biasa: perangkat lunak AI mereka menyedot miliaran data dari kamera drone dan sensor di lapangan, lalu meraciknya menjadi "kembaran digital" (digital twin) tiga dimensi dari lokasi fisik sebenarnya.

    Berbekal peta virtual inilah, jenderal-jenderal AS bisa menentukan titik tembak dengan akurasi presisi secara seketika (real-time).

    "Iran tidak mampu menghindari sistem Intelijen dan Pelacakan Sangat Canggih milik kami dan, dengan bekerja sama erat bersama Israel, tidak ada satu hal pun yang bisa dia, atau pemimpin lain yang terbunuh bersamanya, lakukan," umbar Presiden AS Donald Trump dalam platform media sosialnya akhir pekan lalu.

    Peran AI tidak berhenti di situ. Militer AS terbukti rakus menggunakan teknologi Model Bahasa Besar (Large Language Model/LLM).

    Membongkar Peran Drone Murah dan AI di Balik Kematian Ayatollah Ali Khamenei

    Sejumlah laporan membeberkan bahwa platform Claude buatan Anthropic PBC (yang juga merupakan perusahaan LLM pertama penyedia jaringan rahasia Departemen Pertahanan AS) turut digunakan selama operasi penyerangan tersebut.

    Fakta ini memunculkan ironi tersendiri. Pasalnya, hanya sehari sebelumnya, Presiden Trump memerintahkan seluruh lembaga federal untuk berhenti menggunakan produk Anthropic dengan tuduhan perusahaan tersebut lebih memaksa pemerintah mematuhi ketentuan layanannya ketimbang mematuhi konstitusi AS.

    Tak membuang waktu, pesaing Anthropic yakni OpenAI, pada Jumat malamnya langsung mengumumkan telah mengantongi kesepakatan dengan Pentagon untuk menerapkan "sistem AI canggih di lingkungan rahasia".

    Israel juga memiliki rekam jejak AI yang tak kalah kejam. Sejak 2021, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah menggunakan sistem AI bernama Habsora untuk mencetak target-target serangan dari gundukan data intelijen.

    Reputasi siber Israel juga tak terbantahkan saat mereka meretas dan meledakkan pager komunikasi Hizbullah—organisasi yang didukung Iran—dari jarak jauh pada bulan September 2024 lalu.

    Serangan Siber: Hancurnya Jaringan Komunikasi

    Membongkar Peran Drone Murah dan AI di Balik Kematian Ayatollah Ali Khamenei

    Bom fisik selalu berdampingan dengan bom digital. Serangan kinetik ke Teheran dibarengi dengan kekacauan di ranah siber. Iran mengalami pemadaman internet nyaris total pada hari Sabtu.

    Situs web berita diretas. Bahkan, sebuah aplikasi kalender agama populer bernama BadeSaba disusupi pesan ancaman berbunyi, "Waktunya untuk perhitungan", serta mendesak angkatan bersenjata untuk bergabung dengan rakyat.

    Taktik ini sebelumnya terbukti manjur. Pada bulan Januari lalu, Pasukan Luar Angkasa dan Komando Siber AS terlibat menekan kekuatan pertahanan Venezuela saat menangkap Nicolás Maduro yang terguling, di mana AS bahkan diduga mengacaukan jaringan listrik negara tersebut.

    Angkatan Laut AS pun saat itu mengerahkan pesawat EA-18G Growler untuk mengacak radar komunikasi musuh. Mundur sedikit pada bulan Juni lalu, militer AS juga menggunakan senjata siber untuk mengacak-acak sistem pertahanan rudal Iran selama serangan ke tiga situs nuklir.

    Matt Holland, CEO Field Effect Software Inc. sekaligus mantan penulis kode untuk agen mata-mata siber Kanada, menjelaskan bahwa teknologi peretasan pasti dikerahkan untuk melumpuhkan komunikasi di dalam Iran saat serangan fisik berlangsung.

    AS dan Israel diyakini telah memetakan semua aset komputer lawan jauh-jauh hari, sehingga rencana tersebut dieksekusi secepat kilat.
    "Anda pasti ingin melumpuhkan komando kendali agar tidak bisa mengeluarkan perintah radio ke sistem rudal untuk meluncur," tambah Ken Nickerson, penasihat teknologi dari Creative Destruction Lab Toronto.

    (dan)

    Komentar
    Additional JS