Terobosan China dalam Teknologi Inti Baterai Lithium Mobil Listrik - SINDOnews
Terobosan China dalam Teknologi Inti Baterai Lithium Mobil Listrik
Makin mudah baca berita nasional dan internasional.
Selasa, 24 Maret 2026 - 11:36 WIB
Baterai Lithium Mobil Listrik. Foto/CNC
BEIJING -
Terobosan China dalam Teknologi Inti Baterai Lithium Mobil Listrik
Beijing-Berkat elektrolit baru, baterai lithium dapat mencapai lebih dari 700 Wh/kg dan beroperasi pada suhu rendah, membuka prospek untuk meningkatkan jangkauan kendaraan listrik, memperpanjang umur peralatan, dan meningkatkan efisiensi teknologi tinggi.
Menurut koresponden Kantor Berita Vietnam di Beijing,para ilmuwanTiongkok telah mengembangkan jenis elektrolit baru yang disebut hidrofluorokarbon, yang menandai terobosan dalam teknologi inti baterai litium di negara tersebut.
Menurut Science and Technology Daily, prestasi penelitian oleh para ilmuwan dari Akademi Teknologi Dirgantara Shanghai (SAST) dan Universitas Nankai akan berkontribusi pada peningkatan kapasitas baterai lithium hingga dua kali lipat dan secara signifikan meningkatkan kinerja baterai pada suhu rendah.
Elektrolit—yang berperan penting sebagai media penghubung antara elektroda positif dan negatif baterai litium—bertindak sebagai media penghantar ion "berkecepatan tinggi". Material ini sangat penting dalam menentukan efisiensi energi, stabilitas operasional, dan kemampuan adaptasi suhu.
Pada umumnya, elektrolit yang tersedia secara komersial terutama menggunakan ligan berbasis oksigen dan nitrogen sebagai pelarut.
Meskipun senyawa-senyawa ini melarutkan garam litium secara efisien, namun senyawa-senyawa ini menghambat transfer muatan, sehingga menyulitkan peningkatan kepadatan energi dan efisiensi pada suhu rendah.
Baterai lithium tradisional hanya mencapai kepadatan energi sekitar 300 watt-jam/kg pada suhu ruangan dan turun di bawah 150 watt-jam/kg pada suhu minus 20 derajat Celcius.
Untuk mengatasi keterbatasan ini, tim peneliti mengembangkan elektrolit hidrofluorokarbon yang secara signifikan mengurangi viskositas sekaligus meningkatkan stabilitas oksidasi dan laju konduksi ion pada suhu rendah, sehingga meningkatkan kapasitas baterai litium pada suhu rendah.
Menurut peneliti Li Yong di SAST, pencapaian ini memungkinkan baterai lithium mencapai kepadatan energi melebihi 700 watt-jam/kg pada suhu ruangan dan mempertahankan sekitar 400 watt-jam/kg bahkan pada suhu serendah -50 derajat Celcius.
Dengan kemampuan menyimpan energi pada suhu ruangan yang meningkat dua hingga tiga kali lipat, atau bahkan lebih, dibandingkan dengan baterai lithium dengan berat yang sama, jarak tempuh kendaraan listrik dapat diperpanjang dari 500-600 km menjadi lebih dari 1.000 km.
Yang perlu diperhatikan, baterai masih berfungsi normal dalam kondisi ekstrem -70 derajat Celcius.
Menurut tim peneliti, terobosan teknologi ini menjanjikan di banyak bidang. Dalam aplikasi teknologi tinggi, hal ini dapat memberikan daya tahan dan kapasitas menahan beban yang andal untuk pesawat ruang angkasa, drone, dan robot cerdas yang beroperasi di lingkungan yang sangat dingin.
Untuk penggunaan konsumen umum, pencapaian ini menjanjikan peningkatan signifikan dalam jangkauan kendaraan listrik dan waktu siaga ponsel pintar dalam kondisi dingin, secara efektif mengatasi kekhawatiran umum tentang kapasitas baterai dan kemampuan beradaptasi terhadap suhu
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Infografis

Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris