computer RAM modules price trend / Img: newserverlife.com

Harga RAM di pasaran mulai menunjukkan penurunan setelah sempat melonjak tajam dan membuat banyak pengguna PC, gamer, hingga perakit komputer menahan pembelian. Dua pemicu utama yang disebut dalam laporan pasar adalah aksi pelepasan stok oleh distributor yang sebelumnya menimbun barang, serta kekhawatiran pelaku pasar terhadap dampak teknologi kompresi memori baru dari Google.

Berdasarkan data DigiTimes, harga spot RAM DDR4 16 GB turun sekitar 5 persen dalam sebulan terakhir dan berada di kisaran 74,10 dollar AS atau sekitar Rp 1,27 juta. Ini menjadi penurunan bulanan pertama sejak Februari lalu, meski harga komponen tersebut masih jauh lebih mahal dibandingkan setahun sebelumnya saat masih berada di sekitar 3,20 dollar AS.

Tekanan dari stok berlebih mulai terasa

Salah satu alasan utama turunnya harga datang dari distributor, terutama di China, yang mulai melepas stok RAM ke pasar. Langkah ini muncul setelah mereka sempat menimbun komponen dalam jumlah besar ketika harga berada di level puncak.

Situasi itu berubah karena permintaan dari konsumen kelas PC rumahan melemah. Vendor kecil juga disebut tak lagi kuat menyerap komponen yang harganya terlalu tinggi, sehingga sebagian distributor memilih menjual stok agar perputaran barang tetap jalan.

Dampaknya paling terlihat di pasar ritel dan channel distributor China, termasuk di marketplace Amazon. KompasTekno mengutip Tom’s Hardware yang melaporkan harga beberapa kit memori DDR5 32GB di bursa China turun hingga 30 persen, sementara modul DDR4 8GB dan 16GB anjlok sampai 25 persen.

TurboQuant ikut bikin pasar gelisah

Pemicu kedua datang dari pengumuman Google mengenai TurboQuant pada akhir Maret. Teknologi kompresi memori ini diklaim bisa memangkas penggunaan memori cache hingga enam kali lipat saat menjalankan model bahasa besar atau LLM.

Pasar membaca langkah itu sebagai sinyal bahwa kebutuhan memori dari hyperscaler, yakni pusat data skala besar, bisa menurun jika teknologi tersebut diproduksi massal. Kekhawatiran itu membuat sebagian penimbun RAM panik dan bergegas melepas stok ke pasar sebelum harga turun lebih jauh.

Walau sentimen ini belum tentu langsung mengubah seluruh rantai pasok, efek psikologisnya sudah cukup mendorong harga spot bergerak turun. Pasar memori sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi permintaan, apalagi ketika stok di tingkat distributor sudah menumpuk.

DDR5 ikut terkoreksi, tetapi belum murah

Penurunan juga terjadi pada DDR5. RAM DDR5 16 GB tercatat turun ke kisaran 37,20 dollar AS, menandakan bahwa tekanan harga tidak hanya terjadi pada generasi DDR4.

Namun, penurunan ini belum otomatis membuat semua konsumen langsung mendapat harga rendah. Harga spot hanya mewakili transaksi harian di pasar bebas, sedangkan pabrikan laptop dan perakit PC besar umumnya membeli RAM lewat kontrak jangka panjang.

Karena itu, harga ritel produk laptop atau PC rakitan OEM tidak selalu bergerak secepat pasar spot. Dalam praktiknya, perubahan harga di jalur kontrak sering tertinggal dan bisa tetap tinggi meski pasar bebas sudah melunak.

Pasar kontrak masih memberi sinyal berbeda

Riset TrendForce justru memperkirakan harga memori di pasar kontrak masih akan naik. DRAM konvensional diproyeksikan melonjak 58 hingga 63 persen, sedangkan NAND Flash untuk SSD diperkirakan naik 70 hingga 75 persen pada kuartal kedua 2026.

Kondisi ini menunjukkan penurunan harga di pasar spot belum sepenuhnya menandakan berakhirnya tekanan pada industri memori. Bagi pengguna yang berencana merakit PC atau menambah kapasitas RAM, terutama DDR5, momentum penurunan saat ini tetap layak diperhatikan karena harga bisa berubah lagi ketika permintaan dan stok kembali menyesuaikan.

Source: tekno.kompas.com