0
News
    Home Berita Featured Spesial

    Indonesia Darurat Sampah Elektronik: Menumpuk 2 Juta Ton, Baru Seujung Kuku yang Terkelola

    5 min read

     

    Indonesia Darurat Sampah Elektronik: Menumpuk 2 Juta Ton, Baru Seujung Kuku yang Terkelola

    Di balik kecanggihan gaya hidup digital masyarakat urban, tersimpan ancaman sunyi yang terus menumpuk: sampah elektronik atau e-waste. 

    HO/IST

    Di balik kecanggihan gaya hidup digital masyarakat urban, tersimpan ancaman sunyi yang terus menumpuk: sampah elektronik atau e-waste. Data terbaru dari Global E-waste Monitor 2024 mencatat Indonesia kini memproduksi sekitar 2 juta ton sampah elektronik per tahun, menjadikannya salah satu penyumbang terbesar di Asia Tenggara. 

    TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Di balik kecanggihan gaya hidup digital masyarakat urban, tersimpan ancaman sunyi yang terus menumpuk: sampah elektronik atau e-waste. 

    Data terbaru dari Global E-waste Monitor 2024 mencatat Indonesia kini memproduksi sekitar 2 juta ton sampah elektronik per tahun, menjadikannya salah satu penyumbang terbesar di Asia Tenggara.

    Ironisnya, kesadaran membuang perangkat lama tidak sebanding dengan fasilitas pengelolaannya. 

    Di DKI Jakarta saja, sepanjang 2019 hingga pertengahan 2024, sampah elektronik yang berhasil dikelola secara formal baru menyentuh angka 165 ton—angka yang sangat kecil dibandingkan jutaan ton potensi sampah yang ada.

    Sampah elektronik seperti pengisi daya (charger) rusak, mouse mati, hingga powerbank yang sudah kembung seringkali hanya berakhir di laci meja atau tercampur di tempat pembuangan sampah akhir (TPA). 

    Padahal, material ini mengandung zat berbahaya yang dapat mencemari tanah dan air jika tidak ditangani secara khusus.

    Menanggapi fenomena ini, perusahaan omnichannel Blibli mencoba menggeser paradigma pengelolaan limbah dari sekadar aksi seremonial Hari Bumi menjadi rutinitas harian. 

    Melalui program Gadget for Good, perusahaan ini mencatat tren menarik: partisipasi publik dalam menyetorkan e-waste meningkat hingga 54 persen pada awal tahun 2026.

    "Keberlanjutan (sustainability) seharusnya menjadi bagian dari cara kita beroperasi setiap hari, bukan program yang 'dinyalakan' saat Hari Bumi lalu redup setelahnya," ujar Ignacia Chiara Irawan, Head of ESG Blibli.

    Baca juga: Telkom Restorasi Sampah Elektronik lewat Eduvice, Dukung Pengembangan Sektor Pendidikan Digital

    Jemput Bola di Ruang Publik

    Salah satu kendala utama masyarakat dalam mengelola e-waste adalah akses lokasi pembuangan yang tersertifikasi. 

    Untuk menjembatani celah tersebut, titik pengumpulan kini mulai diperluas ke ruang publik dan pusat perbelanjaan.

    Saat ini, masyarakat dapat mengakses dropbox pengumpulan limbah elektronik secara permanen di lima titik strategis, yakni Central Park, Gandaria City, Bintaro Jaya Xchange, Lippo Mall Puri, dan AEON Mall Sentul. 

    Khusus di AEON Mall Sentul City, tersedia area koleksi tambahan di Eternity Privilege hingga 3 Mei 2026.

    Sebagai stimulus, warga yang menyerahkan minimal empat perangkat elektronik kecil—seperti earphone atau konsol gim bekas—bisa mendapatkan apresiasi berupa voucer belanja.

    Logistik Hijau dan Ekonomi Sirkular

    Selain urusan sampah elektronik, tantangan industri ritel modern juga terletak pada limbah kemasan. 

    Upaya membangun ekonomi sirkular kini mulai dilakukan dengan mengonversi kemasan bekas menjadi bibit pohon. 

    Sejak 2020, pola Take Back Program telah diterapkan untuk memastikan kardus atau plastik pembungkus tidak langsung berakhir di TPA, melainkan masuk kembali ke rantai daur ulang.

    Upaya ini mempertegas bahwa menjaga bumi tidak harus dimulai dengan gerakan masif yang rumit. 
    Mengosongkan laci dari tumpukan kabel rusak dan membawanya ke titik pengumpulan yang tepat adalah langkah awal untuk memastikan "Habis Gelap, Terbitlah Terang" bagi kelestarian lingkungan kita.

    Komentar
    Additional JS