JOMO, Rahasia Tetap Bahagia Meski Tertinggal Tren Viral di Media Sosial - Republika
JOMO, Rahasia Tetap Bahagia Meski Tertinggal Tren Viral di Media Sosial
JOMO merupakan narasi alternatif dari FOMO.
Rep: Gumanti Awaliyah
Dok. Freepik Ilustrasi joy of missing out (JOMO)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah maraknya fenomena fear of missing out (FOMO), kini muncul konsep tandingan "joy of missing out" (JOMO) yang menawarkan sudut pandangan berbeda. Jika FOMO merupakan kondisi kecemasan jika tertinggal kabar atau tren terbaru, JOMO menekankan ketenangan saat tidak selalu terhubung dengan dunia digital.
Pakar komunikasi dan pengembangan masyarakat dari IPB University, Dr Annisa Utami Seminar, mengatakan JOMO merupakan narasi alternatif dari FOMO yang mendorong individu memiliki kendali atas dirinya. "Joy of missing out adalah konsep ketika orang tidak merasa cemas ketika melewatkan sesuatu, tetapi justru merasa memiliki otonomi atas apa yang ingin dilihat atau tidak," kata Annisa dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (20/4/2026).
Sponsored
Annisa mengatakan FOMO dan JOMO dapat muncul secara bersamaan dalam diri seseorang. FOMO biasanya ditandai dengan kecemasan, perasaan tertinggal, hingga dorongan untuk terus membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Sebaliknya, JOMO menghadirkan emosi positif seperti rasa tenang dan merdeka.
"JOMO bukan sekadar merasa santai, tapi juga bentuk kesadaran bahwa kita tidak harus selalu terhubung dengan dunia digital yang begitu cepat," kata dia.
Halaman 2 / 2
la menambahkan, JOMO muncul sebagai respons atas kejenuhan informasi digital yang berlebihan. Dalam konteks ini, gerakan digital wellbeing mendorong individu untuk lebih reflektif terhadap kebiasaan digitalnya dan mulai memprioritaskan kesehatan mental serta keseimbangan hidup.
Annisa menegaskan JOMO bukan berarti menarik diri dari kehidupan sosial. Justru, konsep ini dapat memperkuat hubungan di dunia nyata. "Ini bukan isolasi, tetapi refleksi diri. Kita bertanya kembali apa yang benar-benar bermakna bagi hidup kita," kata dia.
Salah satu cara menerapkan JOMO adalah dengan membatasi waktu layar (screen time), melakukan social media detoks, serta mengevaluasi apakah aktivitas digital mengganggu tujuan hidup di dunia nyata. la juga mengingatkan pentingnya kesadaran diri dalam mengatur koneksi digital, terutama di luar jam kerja.
"Yang paling penting adalah mengetahui mana yang terbaik untuk diri kita. Kita bisa saja merasa penasaran dan ingin tahu, tetapi setelah itu kita juga bisa memilih untuk berhenti. Tidak harus terus-menerus terhubung," ujar Annisa.
arrow_forward_ios
Baca selengkapnya
00:00
00:01
01:15
Berita Terkait
Tips Bangkit dari Titik Terendah: Berhenti Cari Validasi Dunia, Mulai 'Daftar' ke Langit
Happening - 3 jam yang lalu
Social Media Fatigue Dorong Peluang Bisnis Baru
Bisnis - 10 jam yang lalu
Istirahat Sambil Scrolling Justru Bikin Otak Makin Capek
Health - 21 April 2026, 19:29
Label Superwoman yang Melelahkan, Ketika Perempuan Dituntut Menjadi 'Sempurna'
Happening - 21 April 2026, 09:40
Lari Bikin Happy! Rahasia Hormon Endorfin di Balik Olahraga Lari
Health - 20 April 2026, 09:26