OS Paling Aman di Dunia Berhasil Dibobol AI, Tanpa Bantuan Manusia - Kompas
OS Paling Aman di Dunia Berhasil Dibobol AI, Tanpa Bantuan Manusia
KOMPAS.com - Skenario "kiamat" keamanan siber tampaknya bukan lagi sekadar isapan jempol atau naskah film fiksi ilmiah.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah agen kecerdasan buatan (AI) dilaporkan mampu meretas dan mengeksploitasi salah satu sistem operasi paling aman di dunia, FreeBSD.
Aksi hacking tersebut benar-benar dilakukan tanpa campur tangan manusia.
Baca juga: AWS Luncurkan Server Virtual Baru, "Pelatih" AI yang Lebih Tangguh
Kabar mengejutkan ini diungkapkan oleh pakar teknologi siber, Amir Husain, dalam sebuah laporan analisis yang diterbitkan di Forbes.
Insiden peretasan ini menjadi sebuah sinyal peringatan keras bahwa kemampuan AI telah berevolusi jauh.
AI kini telah bertransformasi menjadi aktor utama yang mampu meluncurkan operasi siber penyerangan tingkat tinggi terhadap sistem produksi yang sangat kompleks.
Dalam laporannya, Husain memaparkan bahwa model AI yang dibangun menggunakan Claude besutan Anthropic, berhasil menemukan pada celah kerentanan kritis di kernel FreeBSD (kode CVE-2026-4747).
Baca juga: Militer AS Pakai Anthropic AI untuk Serang Iran, padahal Baru Dilarang
Yang membuat bulu kuduk para pakar keamanan siber merinding adalah kecepatan dan kecakapan agen AI tersebut.
Jika operasi peretasan kernel jarak jauh biasanya membutuhkan berminggu-minggu dari tim hacker manusia level elit, AI ini sukses merampungkannya hanya dalam waktu 4 hingga 8 jam saja.
Lebih mengerikannya lagi, AI secara mandiri bisa merancang rantai serangan eksekusi kode jarak jauh (Remote Code Execution/RCE) dengan lengkap.
Kode tersebut kemudia sukses mendapatkan akses root shell, akses tertinggi yang bisa mengambil kendali sistem server secara penuh.
Baca juga: Produsen Kloset Toto Panen Besar di Era AI
Bukan cuma "copy-paste" kode
Sejumlah pihak mungkin menduga bahwa AI hanya menjiplak atau copy-paste potongan kode eksploitasi yang sudah tersebar di internet. Faktanya, agen AI ini mampu berpikir layaknya seorang hacker profesional.
Sepanjang proses hacking=, AI tersebut mampu merancang lingkungan pengujiannya sendiri menggunakan emulator QEMU.
Ia bahkan menyusun rantai instruksi memori yang rumit (ROP chain), hingga sanggup mengidentifikasi masalah dan melakukan debugging secara mandiri ketika eksploitasinya sempat gagal atau macet di tengah jalan.
"Bagi mereka yang berkecimpung di bidang keamanan siber, ini adalah momen ambang batas krusial. Kita telah berpindah dari era di mana AI hanyalah alat bantu bagi periset keamanan, menjadi aktor otonom yang sepenuhnya mampu melakukan operasi ofensif canggih terhadap sistem," tulis Husain, seperti dikutip KompasTekno dari Forbes.
Baca juga: Oracle PHK 30.000 Karyawan, Email Pemecatan Dikirim Pukul 05.00 Pagi