Ratusan Warga Nganjuk Diduga Tertipu Investasi Bodong Berbasis Aplikasi - Kompas
Ratusan Warga Nganjuk Diduga Tertipu Investasi Bodong Berbasis Aplikasi
NGANJUK, KOMPAS.com – Ratusan warga di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, diduga menjadi korban investasi bodong berbasis aplikasi.
Mereka tergiur iming-iming keuntungan besar, tetapi imbal hasil yang dijanjikan justru berhenti mendadak.
Akibatnya, para korban mengalami kerugian yang lebih besar dibandingkan keuntungan yang sempat diperoleh.
Sebagian dari mereka bahkan nekat berutang dan menggadaikan barang demi menghimpun modal investasi, akibat tergiur skema bagi hasil yang dijanjikan.
Bisa Merugikan Secara Global Hingga Rp 350 Miliar, Apa Sebenarnya Phishing?
Baca juga: ASN di Nganjuk Diduga Selingkuh dengan Polisi, Bupati Siapkan Sanksi jika Terbukti
Salah satu korban, Duka, mengatakan bahwa imbal hasil awalnya dijanjikan cair setiap hari. Janji tersebut membuat dirinya dan korban lain tertarik menyetorkan dana ke aplikasi bernama Snapboost.
"Saya termasuk korban yang tergiur. Sebab, menjanjikan imbal hasil tinggi," kata Duka kepada wartawan di Nganjuk, Selasa (21/4/2026).
Baca juga: Disnaker Nganjuk Buka Suara soal Oknum ASN Selingkuh dengan Polisi
Duka menyetorkan modal sebesar Rp 10 juta pada 2 Maret 2026. Duka berharap dana beserta keuntungan bisa dicairkan dalam empat hari. Namun, saldo yang dimilikinya justru hilang.
Jumlah korban diperkirakan mencapai sekitar 400 orang. Aplikasi tersebut, menurut Duka, beroperasi melalui grup koordinasi internal yang tersebar luas di sejumlah daerah di Jawa Timur.
"Kalau jaringannya luas dan merata. Di Jatim mulai Surabaya, Jombang, Kediri, Nganjuk, dan kota lain," ungkapnya.
Para korban telah melaporkan kasus ini ke Polres Nganjuk.
Purinah, korban lainnya, mengaku tergiur imbal hasil fantastis yang ditawarkan. Oleh karenanya, ia tertarik dan menyetorkan modal sebesar Rp 7,5 juta.
"Dijanjikan sehari dapatnya (imbal hasil) 1,8 persen dari jumlah nilai aset terakhir. Bahkan, katanya tiap hari hasilnya bisa berlipat-lipat," paparnya.
Menurut Purinah, tidak sedikit korban yang menggunakan uang pinjaman atau hasil menggadaikan barang untuk berinvestasi.
"Korbannya kebanyakan ibu-ibu tua. Ada yang uangnya itu pinjam, ada yang uangnya menggadaikan barang untuk modal," lanjutnya.
Awalnya, lanjut Purinah, dirinya mengaku sempat merasakan keuntungan pada awal investasi. Hal itu membuatnya mengajak anggota keluarga ikut bergabung. Namun, seiring waktu, aplikasi tidak lagi dapat diakses.
"Kendati sempat merasakan hasil, total kerugian jauh lebih besar. Mudah-mudahan Polres Nganjuk itu menerima laporan kami. Kalau bisa uang kembali," ucapnya.
Dalam laporan tersebut, para korban menyebut seseorang berinisial TEW, warga Bekasi, sebagai pihak yang diduga menjadi koordinator para anggota.
TEW disebut sempat berjanji akan mengembalikan kerugian korban, tetapi hingga kini belum terealisasi.
Saat dikonfirmasi, TEW mengaku hanya sebagai anggota, dan tidak memiliki kendali penuh atas aplikasi.
Ia menjelaskan bahwa setiap wilayah memiliki koordinator masing-masing, sehingga tanggung jawab tidak sepenuhnya berada pada dirinya.
Untuk wilayah yang dikoordinasikannya, TEW mengaku bersedia menjaminkan aset di akunnya untuk mengganti kerugian apabila terbukti ada penipuan.
Menanggapi tuduhan bahwa aplikasi tersebut merupakan skema ponzi, TEW membantah.
"Saya tidak ngambil uang, tidak ponzi memutar uang member gitu bukan, enggak ada. Karena saya dapat reward bonus itu dari perusahaan," ujar TEW.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Nganjuk, AKP Fajar Kurniadhi, mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan terkait laporan dugaan investasi bodong tersebut.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada tawaran investasi dengan imbal hasil yang tidak masuk akal.
"Jika ingin berinvestasi, konsultasikan dulu kepada ahlinya, jangan mudah tergiur," imbau Fajar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang